"Nanggung, Kak! Kan cuma sebentar."
Aku masih berusaha membujuk si sulung agar besok mau absen sekolah. Ternyata ada juga ya, seorang ibu yang menyuruh anaknya bolos. Dan ibu itu adalah aku. Dilema, sebenarnya. Kalau di sekolah ada pelajaran seperti biasa, jangan harap ada kata bolos dari mulutku. Bahkan, si sulunglah yang sering mengingatkanku.
"Kan kalau bolos enggak dapat ilmu, Buk."
Sesekali, aku memang tertampar oleh ceplas-ceplosnya anak-anak.
"Besok cuma di lapangan, Kak. Sampai jam sebelas aja," bujukku lagi.
"Tapi aku ingin main sepak bola"
Aku mencoba menjelaskan pelan-pelan.
"Kak, ojol biasanya suka nolak kalau jemput disana. Lapangan Renon luas, kan? Kemarin saja sempat di-cancel karena enggak ketemu kakak."
Beginilah jika dalam satu rumah hanya ada satu motor yang menjadi andalan transportasi.
Biasanya, si sulung dijemput Ayah di sela jam istirahat kerjanya yang disesuaikan dengan jam pulang sekolah. Alhamdulillah, kantornya cukup dekat sehingga semuanya masih bisa diatur. Namun, tidak semua keadaan bisa berjalan sesuai rencana.
Sebagai seorang perempuan, aku merasa minder melihat ibu-ibu hebat yang mampu mengendarai motor atau mobil sendiri. Mereka bisa menjemput anak, menyambut kepulangannya di depan gerbang lalu berbincang sepanjang perjalanan pulang.
Sementara aku...
Selain hanya memiliki satu motor yang dipakai, keterbatasan penglihatanku membuatku takut berkendara sendiri. Ada banyak momen yang ingin aku lakukan, tetapi belum bisa. Dan hari ini, aku memilih yang paling mungkin.
Maaf ya, Kak!
Maaf jika ibu belum bisa seperti
ibu-ibu lain yang bisa menjemputmu kapan saja. Maaf jika hari ini kamu harus
melewatkan hari terakhir bertemu teman-temanmu sebelum liburan panjang kenaikan
kelas.
Semoga suatu hari nanti, saat kamu tumbuh dewasa kamu mengerti bahwa setiap
keputusan yang ibu ambil bukan karena tidak ingin mengusahakan yang terbaik.
Melainkan karena ibu sedang menjaga kita dengan cara yang paling mampu ibu
lakukan.
.png)
No comments:
Post a Comment