Tuesday, 23 June 2026

Gerimis

 

"Kak, Sabtu besok bareng Mama ke rumahnya Mbah, yuk. Biar kamu bisa lebih lama di Jawa." kata iparku pagi ini saat anak-anak tengah bermain.

Tanganku membeku. Satu baju yang sedang kulipat terjatuh begitu saha. Aku bersiap menerima jawaban anak pertamaku. Akankah ia menyetujui ajakan itu dan mudik lebih dulu? Atau justru menolaknya?

“Tapi boleh bawa HP, kan, Ma?" tanyanya.

"Ya boleh. Coba izin ke ibumu. Paling nanti ibumu yang menangis kalau kamu enggak di rumah."

Aku yang mendengar percakapan itu dari kejauhan hanya terdiam. Benar kata Iparku. Aku memang sulit berjauhan dengan anak-anak. Mereka harus berada dalam jangkauan radar yang datang satu paket bersama rasa sayang seorang ibu. Namun, aku tetap menunggu keputusan si sulung.

Tak lama kemudian ia menghampiriku.

"Buk, bolehkah aku ikut Mama naik mobil ke rumah Mbah di Jawa?"

Aku tidak langsung menjawab. Ada mendung yang tiba-tiba menggantung di hati. Dan rupanya, ia melihatnya. Ia tida menunggu jawaban. Langkah kecilnya berbalik menuju Mamanya.

"Enggak ah, Ma. Nanti Ibuk sedih."

Aku meghembuskan napas lega. Si sulung memang peka terhadap perasaan perempuan yang melahirkannya. Bukan hanya kepadaku. Saat adiknya menangis, dialah yang paling sigap mengambil tisu dan meghapus air mata yang jatuh di pipi kecil adiknya
Ia selalu hadir dengan caranya sendiri. Sederhana, tetapi menghangatkan.

Terimakasih ya, Nak.

Terimakasih sudah memikirkan perasaan ibu dan menghapus gerimis yang hadir

Terimakasih karena selalu datang menghibur saat ibu sedih.

Dan maafkan Ibu. Maaf karena belum bisa setenang ibu-ibu lain yang mampu melepas anak-anaknya pergi tanpa rasa khawatir.

Mungkin suatu hari nanti ibu akan belajar. Namun untuk hari ini, izinkan ibu menikmati kebahagiaan sederhana. Bahwa di rumah mungil ini selalu ada tawa anak-anak yang ibu sayang. Dan sekali lagi terima kasih sudah tumbuh dengan hati yang penuh empati.

No comments: