Sunday, 5 July 2026

Kalap

"Ingat, kalau melihat Tante, kalian kasih kejutan ya!" komandoku pada kedua buah hatiku sesaat sebelum memasuki mal terbesar di kota kelahiranku.

Mal itu sudah ada cukup lama. Hanya saja, aku belum pernah memiliki kesempatan mengunjunginya saat mudik. Kali ini kami sengaja datang karena kakak perempuanku dipindahtugaskan ke gerai kosmetik di sana. Namun, kejutan kami gagal saat seorang perempuan berseragam hijau menghampiri kami yang masih mengedarkan pandangan ke setiap sudut pusat perbelanjaan.

"Yah, kita ketahuan, Buk!" kata si sulung. Kakakku hanya tertawa mengetahui rencana kami gagal.

Setelah menyapa dan melihat tempat kerja barunya, kami memilih menyusuri setiap lorong di pusat perbelanjaan itu. Seperti biasa, anak-anak menyerbu rak makanan, sedangkan aku memilih beberapa produk yang dipasarkan oleh kakakku.

Tak lama kemudian, anak-anak kembali dengan berbagai camilan yang jarang kami temui di perantauan. Liurku seakan ikut menetes. Dalam sekejap, aku sudah berada di area cemilan.

"Ingat, kita beli yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan." nasihat suamiku yang melihatku asyik memilih benda-benda yang kuanggap imut.

"Lantai atas ada apa, Kak?" tanyaku.

"Pakaian."

"Wah, aku ke atas dulu ya, Yang." ujarku.

Suami dan kakakku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku.

"Bahaya, nih!" gumam suami sembari menenteng belanjaan dari supermarket.

"Aku tunggu disini ya."

"Aku dan anak-anak mulai berkeliling. Si bungsu mengambil sebuah celengan berbentuk karakter favoritnya, Melody. Kakaknya masih menimbang-nimbang pilihannya. 

Berselang satu jam, aku melihat suamiku sedang berjongkok di dekat penitipan barang. Wajahnya tampak tertekuk saat melihat beberapa kantong plastik yang kubawa. Aku hanya tertawa kecil sambil menyatukan kedua telapak tangan tanda minta maaf. Ia memeriksa barang-barang yang kubeli.

"Mana sepreinya?"

"Enggak jadi beli. Mahal sih. Aku beli online aja ya," kataku sambil menahan tawa.

Suami mulai mencibir gemas. Padahal kami pamit kepada ibu hendak membeli seprei, tetapi yang kubawa pulang justru beberapa helai baju, empat handuk, mainan anak, ATK, dan camilan. Siap-siap aku akan mendengar petuah sesampainya di rumah.

Namun, hati kecilku tetap bersyukur tanpa sedikitpun penyesalan. Toh, aku sudah menyiapkan pembelaan. "Mumpung harga disini jauh lebih murah daripada di Denpasar."

"Iya-iya. Siap-siap deh. Kita datang bawa satu koper, nanti pulangnya jadi empat koper." canda suamiku saat mendengar alasanku untuk membela diri dari petuah yang akan kuterima di rumah nanti. 

Kesempatan

Sebuah cahaya perlahan memasuki tempat tinggalku yang menguarkan bau apek. Cukup lama aku tinggal di gelapnya kotak persegi ini. Pemilikku sudah lama tidak menyentuhku, apalagi memakaiku. Yang ku tahu, ia pergi merantau mengikuti suaminya.

Hanya beberapa kalai ia mengisi tempat tinggalku dengan pakaian-pakaian baru yang ukurannya lebih lebar dariku. Anehnya, kali ini ia meraihku, membelai lembut tubuhku, lalui membaui aromaku. Sepertinya ia sedang mengenang sesuatu yang pernah membuatnya bahagia.

Ada denyar bahagia menyelimutiku. Aku ingin sekali menyatu dengan tubuh yang kurindukan di sertiap lekuknya. Namun, ia kembali meletakkanku di peraduanku semula sesaat setelah menyemprotkan wewangian ke tubuh ini. Aku kecewa, tetapi sorot mata pemilikku ternyata juga menyiratkan perasaan yang sama.

"Maaf, ya. Doakan aku mempunyai kesempatan unyuk memakaimu lagi. Semoga aku segera mengikis beberapa kilo berat badan ini." ujar pemilikku sesaat sebelum gelap kembali menguasai ruang persegi ini.

Friday, 3 July 2026

Ibumu Ibuku

 

Tanpa ragu sedikit pun, suamiku mengiyakan saat ibuku meminta tolong diantar ke Pasar.

"Nak, kamu ndak malu jika menemani dan memapah Ibu ke Pasar?" tanya ibuku pagi ini.

"Iya, Buk. Kenapa harus malu?"

"Kan menggandeng tangan ibu yang tidak bisa melihat ini," kata Ibuku memastikan kesediaan suamiku lagi.

"Iya, Buk. Santai saja, kan aku juga anaknya Ibu."

"Bener, Yang?" tanyaku memastikan kembali. Ia menjawab dengan mengaca-acak rambut di balik kerudungku.

Hari ketiga kami berada di rumah orang tuaku, suami memang sama sekali tidak canggung dan menganggap ini juga rumahnya. Ia leluasa beraktivitas, mulai dari memasak, memandikan anak-anak, hingga bersenda gurau dengan adik dan keponakan-keponakanku. Tidak sedikit pun kecanggungan kutangkap dari sikapnya.

Aku memperhatikan dari kejauhan suamiku yang dengan telaten memasangkan sandal ke kaki Ibu.

Ibuku memang memiliki keterbatasan pada kedua netranya. Beliau tidak sepenuhnya buta, tetapi masih mampu menangkap sedikit cahaya. Dalam kesehariannya, beliau bahkan masih bisa naik ke lantai dua tanpa bantuan tongkat.

Aku bangga pada suami yang memperlakukan ibuku dengan sangat baik. Begitu pula Ibu yang menyayanginya dan bersyukur lelaki itu menjadi menantunya. Sebab, memang dengan insting beliaulah satu-satunya ridha muncul ketika aku memperkenalkan laki-laki yang ingin menikahiku dulu.

"Yang, terima kasih ya!" kataku sesampainya mereka dari pasar.

"Terima kasih kenapa?"

"Terima kasih sudah memperlakukan ibuku dengan baik."

"Ih, sudah seharusnya, kan? Ibumu adalah ibuku juga." 

Wajahku memerah sesaat setelah mendaratkan kecupan di kening lebarnya.

"Ih, malulah tuh, dilihat anak-anak!" kata suami sambil melepas jaketnya.

Aku tak bergeming saat anak-anak mulai cemburu.

"Huwa... Adek merajuk! Mau jugaaa...!"