Wednesday, 28 October 2026

Kuncup Harapan Ramadan

Sujud telah mendekati salam, debar kembali memenuhi dada yang tengah bungah. Bagi seorang ibu yang tengah mengandung, pertemuan dengan dokter atau bidan akan menjadi momen yang dinanti. Mengetahui perkembangan janin di dalam kandungan menjadi sebuah obat bagi kerinduan akan buah hati yang akan hadir mengisi hari-hari.

Begitupun bagiku, di kehamilan kedua ini kembali aku menemui Ramadhan di trimester ketiga tepatnya di usia kehamilan 33 minggu. Malam ini aku disertai suami dan si sulung yang berusia tiga setengah tahun mengunjungi rumah sakit Ibu dan anak di dekat rumah.

Hati yang memeluk harapan, all is well! Berharap kesehatan si kecil di alam rahim tengah tumbuh dan berkembang dengan baik, namun untuk saat ini sepertinya sang kuncup harapan tengah tak selaras dengan kenyataan.

Air ketuban kurang. Kata-kata itu terus bergema di kepala dan juga hati sepanjang perjalanan pulang. Konsekuensi dari kurang air ketuban turut membawa badai gelisah dan kekhawatiran. Jika jumlahnya makin berkurang, kemungkinan terburuk adalah dikeluarkannya janin dari rahim dengan segera demi kesejahteraan dan keselamatan bayi.

Ramadhan kali ini makin terasa berbeda apalagi dokter menyarankan untuk tidak menjalankan puasa agar aku bisa memaksimalkan asupan air yang masuk ke dalam tubuh. Pergulatan batin kembali dimulai.

Sebagai seorang muslim, momen puasa Ramadhan adalah hal istimewa yang selalu dinanti setiap tahunnya. Begitupun denganku. Berharap bisa melakukan kewajiban puasa itu secara satu bulan penuh. Dan kini harapan itu tak bisa merekah dan bertahan dengan kuncupnya.

Kendati demikian di hari pertama aku memilih untuk berpuasa, hal itu pun mendapat dukungan penuh dari suami. Sepanjang hari aku merasakan lemas dan gerakan janin yang tak seaktif biasanya. Akupun memilih merebahkan raga di pembaringan selama sisa hari.\

Setiap ibu pasti ingin memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Ingin sang anak tumbuh sehat dan bahagia, namun pendapat dokter kembali terngiang.

“Menurut saya lebih baik untuk tidak puasa karena air ketuban ibu sudah mendekati batas. Kasihan janinnya jika ia tidak bisa bergerak bebas karena kurangnya amnion yang mengelilinginya kemungkinan ia bisa stres di dalam kandungan.”

Aku kembali melafadzkan kalimat Istighfar. Apakah aku berlaku dzalim jika puasaku menyebabkan hal demikian untuk janin di dalam kandunganku?

Aku mulai mencari informasi-informasi lain mengenai ibu hamil yang berpuasa di media sosial. Membaca sedemikian banyak pendapat beberapa dokter membuat kegundahanku semakin menjadi. Memang banyak yang mengatakan tidak apa-apa asalkan ini dan itu. Aku menelan ludah! Ah, apakah aku terlalu cengeng atau lemah? Jika beberapa ibu hamil bisa berpuasa, mengapa aku tidak?

Aku memutuskan untuk berpuasa kembali. Kali ini ketika weekdays, artinya hanya ada aku dan si sulung di rumah. Pada malam sebelumnya aku memperbanyak konsumsi air, meskipun frekuensi ke kamar mandi menjadi tiga kali lipat lebih sering dan mengorbankan jatah istirahatku. Demi asupan air. Kilahku. Padahal pada umumnya di trimester ketiga ibu hamil akanmengalami peningkatan buang air, maka aku mengalaminya dua kali lipatnya lagi belum lagi jika posisi janin mendorong kantong kemihku. Namun aku harus terus berjuang, demi kesehatan calon anak kedua.

Menjelang dhuhur tubuhku mulai oleng! Dengan setengah hati aku membiarkan si sulung bermain sendiri, walau sesekali ia minta ditemani dan dipenuhi keinginannya. Sekali lagi, seorang ibu akan melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya walau ia harus tertatih.

Malampun merangkul, tapi tubuhku belum membaik walaupun sudah menikmati menu berbuka dan beberapa teguk air. Hati kecilku membisik lembut, Apakah aku dzalim kepada diri sendiri dan calon anakku?

Tiba-tiba airmata mengalir begitu saja, diikuti gerakan lembut dari sang janin. Akhirnya aku memilih menelan harapan untuk berpuasa penuh dan mengambil keputusan untuk mengambil rukhshah atau keringanan bagi perempuan yang sedang hamil karena beberapa ulama memperbolehkannya. Aku hempaskan omongan miring dari beberapa orang yang memandang sebelah mata dan meneguhkan pilihan. Allah Maha Mengerti, batinku menemani.

Aku meyakini, terkadang apa yang kita harapkan baik belum tentu itu yang terbaik di mata-Nya. Karena Ia Maha Pengasih dan Pemurah. Terkadang memang sulit membedakan antara keinginan dan kemampuan, maka coba kembali pertemukan kening di hamparan sajadah. InsyaAllah engkau akan menemukan jawabannya,

Antologi ke-15 Sketsa Ramadan

 

Sebuah Kado, Sebuah Kenangan, dan Kuncup Harapan Ramadan

Ada buku yang hadir bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga menyimpan cerita tentang kapan dan bagaimana ia menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

Buku ini adalah salah satunya.

Melalui tulisan di sampul belakang, pembaca diajak menyelami berbagai kisah tentang Ramadan. Bukan sekadar bulan untuk menjalankan ibadah puasa, tetapi juga bulan yang menyimpan keberkahan, keajaiban rezeki, perjuangan, hikmah, dan pelajaran kehidupan.

Buku ini merupakan kumpulan karya penulis terpilih dalam Event Nulis Bareng Yuliant Season ke-9. Setiap kisah menjadi ruang untuk melihat Ramadan dari sudut pandang yang berbeda. Ada pengalaman, pergulatan, dan pembelajaran yang bisa menjadi bahan renungan bagi pembacanya.

Bagiku, buku ini memiliki cerita yang lebih personal.

Buku ini menjadi salah satu kado atas kelahiran anak keduaku pada Mei 2022. Sebuah hadiah yang bukan hanya berupa buku, tetapi juga menyimpan jejak perjalanan menulisku. Sebab, di dalamnya ada satu tulisan yang turut kusumbangkan dengan judul "Kuncup Harapan Ramadan".

Tulisan tersebut lahir dari pengalaman kehamilan keduaku saat bertemu kembali dengan Ramadan di usia kandungan 33 minggu.

Saat itu, kebahagiaan menanti kehadiran buah hati bercampur dengan kecemasan setelah mengetahui bahwa air ketuban dalam kandungan berkurang. Ada harapan yang ingin terus kujaga, tetapi ada pula kenyataan yang harus kuhadapi.

Pergulatan batin pun terjadi. Aku ingin menjalankan ibadah puasa Ramadan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Namun, di sisi lain, ada calon buah hati yang membutuhkan perhatian lebih. Bahkan, setelah beberapa kali mencoba berpuasa, aku akhirnya harus menerima bahwa kondisi tubuh dan keselamatan janin perlu menjadi pertimbangan utama.

Melalui kisah itu, aku mencoba mengabadikan perjalanan seorang ibu yang belajar membedakan antara keinginan dan kemampuan. Tentang bagaimana menerima keringanan dalam beribadah, menepis keraguan, dan meyakini bahwa Allah Maha Mengerti setiap keadaan hamba-Nya.

Ada satu hal yang kupelajari dari pengalaman tersebut: terkadang, sesuatu yang sangat kita inginkan belum tentu menjadi yang terbaik untuk kita. Ada kalanya melepaskan keinginan justru menjadi bentuk ikhtiar dan kasih sayang.

Membaca kembali tulisan ini tentu menghadirkan kenangan tersendiri. Kini, anak yang dahulu masih berada dalam kandungan telah tumbuh menjadi bagian dari hari-hariku. Sementara tulisan yang lahir dari pengalaman itu masih tersimpan dalam sebuah buku.

Mungkin inilah salah satu hal menyenangkan dari menulis. Kita bisa mengabadikan suatu fase kehidupan, lalu menemukannya kembali di kemudian hari. Seolah-olah sedang membuka lembaran lama dan bertemu kembali dengan diri kita di masa lalu.

Buku ini bukan hanya menjadi pengingat tentang Ramadan dan segala pembelajarannya, tetapi juga menjadi salah satu jejak kecil perjalanan menulisku.

Sebuah kado dari kelahiran anak kedua, sekaligus pengingat bahwa setiap harapan memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh dan merekah.

Seperti sebuah kuncup yang tetap menyimpan harapan, meski perjalanan untuk mekar tidak selalu mudah.

Sketsa Ramadan

Penulis: Yuliant Sanjaya, dkk.

Editor: Nasrul Yung

Tata letak: Mahirnulis studio

Desan sampul: Mahirnulis studio

ISBN: 978-602-6498-36-6

Diterbitkan oleh: Nahima Press

Cetakan pertama, Mei 2022

Tuesday, 1 September 2026

Pertemuan (Pentigraf)

 

Semua orang mengira Jelita adalah gadis piatu yang menjadi prioritas sang ayah yang tak kenal lelah mengayuh pedalbecak demi memenihi setiap kebutuhan anak smeta wayangnya. Beranjak remaja gadis ayu itu mulai mempertanyakan tentang sosok yang melahirkannya karena tak satu pun ia pernah diajak menemui atau pun berziarah ke makam sang Ibu jika memang telah berpulang. Senja mendadak membawakan sebuah jawaban, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Malam itu juga ia menyanggupi ajakan untuk bertemu dari seorang Wanita yang mengaku sebagai ibunya keesokan hari.

Pertemuan itu disepakati terjadi di sebuah taman di kota sebelah, sesaat setelah senja hendak ditenggelamkan malam. Dari sore hari Jelita sudah duduk di bangku taman dan sesekali mematikan dering ponsel yang tak mau berhenti. Membiarkan sang ayah dikekang kalut dan kekhawatiran. Saat hujan mulai mendekap Jelita, ia merasakan ada naungan payung yang melindungi tubuh ranumnya. Sebuah jemari lentik dengan cat kuku berwarna mentereng adalah yang pertama ditangkap netranya.

Jelita menyesal menyanggupi ajakan pertemuan dengan Perempuan yang mengaku ibu yang telah lama meninggalkannya. Perlahan ia berlari meninggalkan Perempuan dengan baju minim yang terus memanggil namanya. Walau hujan telah menyatu dengan raganya, Jelita tak mampu melunturkan wajah dengan riasan tebal yang baru saja ia temui.