Friday, 24 July 2026

Jaring Harapan

Setiap malam aku bergoyang pelan di dekat jendela di sebuah rumah berdinding kayu. Benang-benangku mulai rapuh, bulu-bulu yang dulu menari kini tinggal beberapa helai. Pemilikku telah lama tumbuh dewasa. Ia tidak lagi percaya pada kemampuanku menyaring mimpi buruk.

Namun, sampai kini aku tidak benar-benar sendiri. Tepat saat malam mencapai sunyinya, di tanggal tertentu ada aroma si bunga wijayakusuma selalu datang. Harumnya menyelinap perlahan bersama angin, lembut dan bening perlahan memenuhi ruang tanpa mengusik.

Ia tidak setajam melati dan mampu meninggalkan rasa ketenangan seolah ada doa yang sedang diam-diam dipanjatkan. Saat ia datang aroama itu meresap disela anyamanku, mengusir apek yang selama ini menemaniku. Aku tidak lagi berharap bisa menangkap mimpi buruk. Aku hanya ingin menangkap satu hal yang tak pernah gagal datang bersama harum wijayakusuma yaitu doa yang mengantarkan pemilikku pulang, meski hanya sekejap, walau tanpa raga.

Misi

Tubuhku masih bertuliskan 'shampoo', meski isiku kini lebih banyak berisi air keran. Aku tak lagi bertugas mengusir lepek di rambut. Tangan-tangan kecil itu memberiku pekerjaan baru. Kadang aku menjadi hujan buatan, dilain hari menjadi pistol air dan sesekali menjelma menjadi pancuran dengan gelembung-gelembung yang beterbangan disela tawa-tawa ceria.

 Aku melihat lantai yang semula kering berubah menjadi kolam kecil. Handuk yang menjadi basah dan perosotan dadakan dengan busa sebagai pelicin. Aku melihat wajah ibu mereka memerah, siap menghujani dengan berbagai fatwa tentang kebersihan kamar mandi, rumahku.

 "Kok dibuat main sih, kan tadi masih ada isinya! Belum juga sejam ibu sikat itu lantai, malah licin lagi kan!"

 Anak-anak terdiam. Akupun tak berani bersuara. Lalu terdengar bisik-bisik merancang pembenaran,

"Kan tinggal dikit, Buk! Jadinya kami buat main!"

Lalu ayah mereka akan menengahi sebelum ruang persegi ini menjadi medan perang. "Namanya juga anak-anak." Ujar sang ayah sambil mengambil botol shampo lain yang masih tersegel dan menempatkannya dari jangkauan anak-anak.

Tak butuh lama, perang air pun dimulai lagi.

Aku menikmati saat-saat ini. Meskipun isiku sudah sepenuhnya kosong, tapi aku masih berharga bagi anak-anak pemilikku. Dan mereka akan merengek ketika Ibu mereka hendak membuangku. "Masih bisa buat main, Buk!"

Sejak saat itu, aku menjalani misi baru yang lebih membuatku bangga. Aku berharga dan berusaha terus membuat tawa di hari-hari mereka.

Monday, 13 July 2026

Akhir Perjalanan

 

Tubuhku sudah kusut. Sudut-sudutku robek, warnaku memudar dan lipatan di badanku terlalu banyak untuk dihitung belum lagi tambalan plastik lengket yang mencegahku terbelah.

Aku selembar dua ribuan yang tak sempat beristirahat. Dari tangan pembeli, kembali ke laci kasir, lalu keluar lagi bersama lembaran dengan nominal lain untuk membeli berbagai keperluan atau sebagai kembalian. Tapi itu dulu.

Akhir-akhir ini aku lebih sering tinggal di dalam laci. Bukan karena ingin disimpan, melainkan karena tidak banyak lahi yang datang menukarkanku dengan bersama barang-barang di rak. Karena memang sudah tak banyak lagi barang yang tersisa.

Aku melihat pemilik toko menghitung kami berulang kali. Wajahnya terlihat suram dengan menggumam pelan, "kurang"

"Mungkin sudah saatnya, Pak" ujar perempuan disamping pemilikku.

Aku kurang mengerti apa maksud perkataan itu. Namun airmata di wajah tua itu memberiku salam perpisahan. Ia mengambil teman-temanku yang berbeda warna beberapa lembar, namun ia melewatiku begitu saja.

Apakah tubuh lusuhku tidak menarik baginya untuk ikut mendiami dompet kulitnya yang telah kusam?

Penghuni laci telah pergi, termasuk beberapa koin yang penampilannya lebih enak dilhat. Tapi mengapa aku masih disini? Apakah ini akhir dari perjalananku?

Laci ditutup perlahan, namun kali ini tidak ada suara kunci yang menyegelnya. dan tibalah saat aku menjadi asing ditengah kegelapan.