Thursday, 25 June 2026

Mbok Minah

 Mbok Minah

Oleh: Trias Swasti Arini

Menjelang azan Zuhur, Mbok Minah mulai mengemasi dagangan jamunya di sudut teras rumah gedhek yang ditinggali berdua dengan Udin si bungsu. Walau usia memasuki senja, beliau tidak ingin menyudahi profesinya sebagai penjual jamu. Bujuk rayu putra-putrinya hanya lalu begitu saja, seperti dengungan nyamuk yang hilang dalam himpitan kedua telapak tangan.

Duit teko aku lan Udin kurang ta gawe mangan e sampeyan?” tanya si anak sulung. Sekali lagi Mbok Minah melengkungkan ujung bibirnya ke atas dengan gurat ketulusan yang terpancar. Didekapnya buku Tabungan dan beberapa celengan ayam dari tanah liat. Kedua netranya menerawang menembus sebuah foto Ka’bah yang ada di dinding kamarnya, rajutan impiannya belum lagi purna. Satu rahasia yang tidak mampu diungkap, takut merepotkan anak cucu. Mbok Minah teguh memendam satu tujuan terakhir di sisa hidupnya.

Seperti hari-hari sebelumnya, jualan Mbok Minah ludes sebelum Zuhur. Dihitungnya laba hari ini dan Bersiap memasukkannya ke dalam celengan. Namun, setelah menyibak karung goni di bawah kasur, lututnya tiba-tiba goyah. Goni itu kosong, tidak ada buku tabungan ataupun celengan-celengan ayamnya. Sedetik kemudia Mbok Minah tersungkur di lantai tanah, pandangannya kabur oleh lautan air mata. Secarik kertas telah remuk di genggaman, “Udin durhaka!” Ia merintih dan pilu di masa tuanya.

 


Kata Ajaib

Jangankan saat liburan sekolah, di hari-hari biasa pun kedua buah hatiku tidak pernah lepas dari pertengkaran, tangisan, amarah lalu beberapa menit kemudian bermain bersama lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

 Bedanya, saat sekolah berlangsung mereka hanya memiliki sedikit waktu bersama. Si sulung pulang sekolah, lalu keduanya harus tidur siang. Waktu bermain mereka lebih banyak terjadi di sore dan malam hari. Namun, memasuki minggu kedua liburan mereka bersama selama 24/7.

Dan seperti yang sudah bisa ditebak, rumah mungil kami dipenuhi siklus yang berulang: akur, bermain bersama, bertengkar, marahan, lalu berbaikan dan bermain lagi.

Alhamdulillah, ada satu hal yang membuat semua itu terasa lebih ringan. Mereka mulai memahami empat kata ajaib: tolong, maaf, terima kasih dan permisi.

"Kak, minta maaf" kata si bungsu yang tak kuasa menahan emosi dan memukul kakaknya. Namun kakaknya yang lebih dewasa begitu mudah memafkan adiknya meskipun sesekali perlu diingatkan.

 "Dek, maafin kakak ya!"

 "Enggak ah, Adek merajuk!" jawab si bungsu yang masih dilanda emosi.

Namun si kakak tidak kehilangan akal dengan membujuk adiknya melalui nyanyian '3 kata ajaib' dari Channel Alula Aish Favorit adiknya. Hingga akhirnya di bungsu melunak dan mereka mulai bernyanyi kemudian bermain bersama kembali.

 Aku yang hanya jadi penonton sering kali tersenyum melihat tingkah mereka. Anak-anak ternyata lebih mudah mengucapkan maaf daripada orang dewasa. Mereka tidak terlalu memikirkan gengsi, tidak sibuk mempertahankan ego dan tidak menyimpan kesalahan terlalu lama.

 Dari tingkah mereka aku selalu mengambil pelajaran berharga, kali ini aku belajar bahwa memaafkan tidak membuat kita menjadi kecil. Justru itulah yang membuat hati menjadi lebih besar. Terimakasih anak-anak. ❤️

Tuesday, 23 June 2026

Penantian

“Lagi apa, Yah?”

Aku cukup terkejut mendengar suara mungil si bungsu saat aku masih berada di kamar mandi menjelang subuh. Ketika keluar, kulihat anak perempuanku sudah berada di samping ayahnya yang sedang duduk di depan istri keduanya.

“Lho, adik sudah bangun?” tanyaku.

Bukannya menjawab, ia malah bertanya mengapa aku tadi berteriak dan membangunkan ayahnya. Aku tersenyum lalu menceritakan tentang seekor lebah yang asyik berputar-putar di dekat lampu kamar mandi.

Rasa kantuknya langsung hilang, berganti dengan rentetan pertanyaan tentang nasib si lebah kemudian. Melihat matanya yang sudah segar, aku memutuskan tidak mengajaknya tidur Kembali meskipun semalam anak-anak tidur larut.

Dengan lembut aku membangunkan si sulung untuk salat Subuh. Ajaibnya, ia langsung bangun dan tidak melobi seperti biasanya. Selepas salat, ia segera mengingat misinya.

“Buk, jam berapa mereka datang?” yanyanya penuh harap.

“Sabar, sebentar lagi.”

Beberapa hari yang lalu aku memang menunggu hal yang sama. Aku bahkan menyiapkan kamera untuk mengabadikannya sebagai bukti bahwa cerita yang kusampaikan kepada anak-anak bukan karangan semata agar mereka mau bangun lebih pagi.

Namanya juga anak-anak. Terkadang mereka baru benar-benar percaya jika melihatnya sendiri.

“Jam berapa mereka akan datang?” tanya si sulung lagi.

“Biasanya sih, saat Ayah sudah  mau berangkat kerja.”

Si sulung kemudian mondar-mandir keluar masuk rumah. Sesekali menatap atap, lalu bertanya Kembali. Aku hanya tersenyum melihat kesungguhannya. Namun, hingga matahari mulai meninggi, yang kami tunggu tak kunjung datang. Hingga si sulung mulai menyerah.

Meski ia tidak mengatakan bahwa cerita ibunya mungkin hanya rekaan, aku tahu ia kecewa. Sejujurnya, aku juga. Kemarin aku gagal mengabadikan mereka meskipun sudah berlari secepat mungkin saat mendengar derap langkah mungil kaki mereka menginjak atap seng rumah kami. Hari ini, saat si sulung sangat antusias, justru kawanan tupai itu tidak muncul seekor pun.

“Mungkin saat itu mereka hanya numpang lewat, Kak.” Kataku mencoba menghibur.

“Atau atap rumah kita dijadikan jalan saat mereka mencari tempat tinggal baru. Jadi sekarang mereka sudah menemukan rumah yang lain.”

Si sulung mengangguk pelan. Dan pagi ini kami belajar satu hal. Tidak semua penantian berakhir dengan pertemuan. Kadang yang datang justru sebuah cerita untuk dikenang, tentang beberapa ekor tupai yang pernah membuat atap rumah mungil kami riuh oleh suara lompatan-lompatan kecil mereka.