Monday, 22 June 2026

Antologi ke-9: September Love (2018)

 

September Love: Ketika Cinta Memiliki Banyak Wajah

Ada buku yang istimewa karena isinya, dan ada buku yang istimewa karena kenangan yang melekat di dalamnya. Bagi saya, September Love adalah keduanya.

Buku ini merupakan antologi saya yang ke sembilan sekaligus antologi pertama bersama Komunitas Amateur Writer Indonesia (AWI) pada tahun 2018. Saat itu kami mengikuti sebuah event menulis 30 Dj atau 30 hari journaling. Dari perjalanan sederhana itulah lahir kumpulan kisah yang kemudian dirangkai menjadi sebuah buku tentang cinta.

Seringkali kita mengira cinta hanya tentang dua insan yang saling jatuh hati. Namun, September Love mengajak pembacanya melihat cinta dari sudut pandang yang lebih luas. Di dalamnya terdapat beragam cerita tentang cinta kepada orang tua, keluarga,sahabat, pasangan bahkan cinta kepada diri sendiri.

Cinta memang memiliki banyak bahasa. Ia bisa hadir dalam pelukan seorang ibu, nasihat seorang ayah, kesetiaan seorang teman atau pengorbanan yang tidak pernah terucap. Tidak semua kisag cinta berakhir dengan bahagia. Ada yang meninggalkan senyum, ada yang menyisakan airmata. Namun, justru di sanalah letak keistimewaannya.

Membaca buku ini seperti menikmati berbagai rasa dalam satu hidangan. Ada manis, asam, asin, bahkan sedikit pedas. Semuanya berpadu menciptakan pengalaman yang berbeda di setiap halaman. Sebab cinta, sebagaimana kehidupan, tidak pernah hanyaa memiliki satu rasa.

Di antara tiga puluh kisah yang tersaji, saya turut menyumbangkan sebuah cerita berjudul Cinta Nessa. Kisah ini menceritakan dilema yang dihadapi Nessa ketika berhadapan dengan kenyataan dalam keluarga yang sangat ia cintai. Sebuah cerita sederhana tentang pilihan, pengorbanan dan arti mencintai orang-orang terdekat.

Meski telah terbit beberapa tahun lalu, September Love tetap memiliki tempat khusus di hati saya. Selain saya sempat melupakan pernah membuat cerita di antologi ini, saya yang akhirnya sadar memiliki buku antologi ke-9 yang baru bisa aku Cekout 8 tahun kemudian karena kesibukan saya waktu tahun itu sebagai ibu baru dengan segala kesibukan bersama newborn. Dan aku menyakini hal tersebut merupakan langkah kecil yang mengajarkan bahwa setiap cerita, sekecil apa pun, layak untuk dituliskan.  

 

Sunday, 21 June 2026

Sambal Cinta

"Bisa nggak sih, makan itu enggak usah pakai sambal?" tanya suami saat aku kembali mengeluhkan sakit perut.


"Kalau sudah begini, bilangnya kapok. Besok diulang lagi." lanjutnya.

Aku hanya diam sambil menikmati perut yang sedang menangis perih.

Sudah berkali-kali suami menasehatiku untuk mengurangi kopi, sambal dan mi instan. Biasanya aku akan membombardirnya dengan sejuta alasan hingga ia hanya bisa menggeleng gemas.


"Ya sudah, risikonya ditanggung sendiri!" katanya suatu hari, menyerah.

Malam itu, saat aku hendak menyetrika seragam kerjanya, suara suami terdengar di ruang depan.

"Ayo makan."

"Hemm... boleh deh. Nanti saja setrikanya. Lapar juga nih!" jawabku sambil beranjak meninggalkan tumpukan pakaian yang terdengar mulai merajuk.


Di ruang depan sudah terhidang nasi putih hangat dan ayam goreng favorit kami. Aku duduk, lalu refleks berdiri lagi menuju lemari es.

 
"Cari apa?" tanya suami.

"Sambal" jawabku jujur tanpa menoleh.

"Dasar! Sambal terus. Nanti kalau sakit perut lagi jangan mengeluh, ya!"

Aku berhenti sejenak. Tiba-tiba sebuah nyala terang menyinari kepalaku.

"Baiklah, aku nggak makan sambal."

Suami tampak terkejut.

"Tapi..." lanjutku.

"Nah, kan. Ada tapinya."

"Makannya disuapin ya!"

Suamiku tertawa kecil.

"Iya deh!"

Dan ajaibanya, aku benar-benar bisa mengesampingkan godaan sambal malam itu.

Entah mengapa, makanan yang masuk melalui tangan orang terkasih selalu terasa berbeda. Lebih nikmat. Lebih hangat. Seolah ada bumbu rahasia yang tidak bisa ditemukan di dapur manapun.


Saat aku mengatakan hal itu, suami langsung menyahut.

"Iyalah, kan pakai sambal cinta."

Anak-anak yang sedari tadi asyik mengunyah apaha ayam langsung menoleh.

"Mana sambalnya, Yah?" tanya si sulung polos.

"Kok nggak keliatan"

Aku dan suami saling berpandangan. Lalu tawa kami pecah bersamaan.

Malam itu tidak ada sambal merah yang terhidang. Tapi rupanya ada sambal yang membuat makanan terasa lebih nikmat dari biasanya. Namanya, sambal cinta. ❤️

Saturday, 20 June 2026

Gemuruh Pagi

 

Desisan nyaring tiba-tiba memecah pagi yang tenang.

Si Bungsu yang memang sensitif terhadap suara keras langsung terbangun. Ia menangis, bahkan nyaris histeris.

"Takut... takut..."

Aku yang sedang rebahan ikut terlonjak dari kasur. Suami segera berlari keluar saat pegawai laundry datang meminta tolong.

Wajahnya panik.

Asap putih mulai menyebar, diiringi suara desisan yang tak kunjung berhenti.

Bukan sekali dua kali mesin setrika uap uap itu mengeluarkan suara seperti itu. Namun tetap saja, kejadian tersebut selalu membuat panik orang yang belum pernah mengalaminya. Apalagi pegawai laundry yang baru bekerja seminggu. Wajar jika pengalaman pertama itu cukup mengagetkannya.

Aku sendiri yang sudah beberapa kali mendengar suara itu pun sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi kakak ipar selaku pemilik laundry sedang melakukan rutinitas paginya berolahraga di lapangan bersama suaminya.

"Matikan saja kompornya!" ujarku panik.

"Sudah mbak!" jawab pegawai laundry.

"Aku juga enggak mengerti" sahut suamiku.

Kami saling berpandangan sambil menunggu sesuatu terjadi. Untungnya, beberapa saat setelah kompor dimatikan serta regulator tabung gas dilepas, suara desisan itu perlahan mulai mereda. Kami pun bernapas lega.

Tak lama kemudian kakak ipar pulang dan segera menangani sumber masalahnya.

Bagitulah kepanikan yang mewarnai pagi kami hari ini. Aku sering heran pada diriku sendiri. Pikiranku begitu mudah dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Takut meledak

Takut terbakar

Takut terjadi sesuatu yang lebih besar.

MasyaAllah.

Padahal seharusnya aku bisa lebih tenang menghadapi segala keadaan. Namun, mau bagaimana lagi? Aku memang termasuk orang yang mudah terkejut oleh suara keras. Dan rupanya sifat itu menurun pada anak keduaku.

Bedanya, kali ini aku sedikit lebih baik. Aku masih mampu mengatur napas dan menenangkan diri. Tidak sampai pingsan karena panik seperti beberapa kejadian sebelumnya.
Mungkin itu juga sebuah kemajuan.