Saturday, 20 June 2026

Firasat


Anak-anak berlarian ke luar rumah saat aku mengatakan bahwa sore ini kami akan bermain ke playground.

Riuh suara mereka langsung memenuhi halaman. Bahkan dengan penuh semangat mereka mengabarkan rencana itu kepada Tante Laundry dan Om potong rambut.

Saat melangkah menuju gerbang, aku melihat si bungsu memakai sandal barunya.

"Dek, ganti yang ini ya!"

Tentu saja wajah bulatnya mengembung. Kedua tangannya menyilang di dada, tanda emosi kecil mulai berkumpul.

"Adik mau sandalnya nanti tertukar? Di sana ramai. lho. Semua sandal harus dilepas. Kalau sandal barunya hilang bagaimana?"

Si Bungsu berpikir beberapa saat sebelum akhirnya pasrah melangkah kembali ke rumah.

Aku rasa ia masih mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika sandal kesayangannya hilang di perjalanan karena terlepas saat ia tertidur. Untung saja kami menemukannya kembali setalah menyusun yang kami lewati.

Sesampainya di Lapangan Puputan, kami menuju playground di sudut lapangan yang sudah dipenuhi anak-anak. Aku dan suami memilih duduk di pinggir sambil menikmati Lumpiyang yang baru kami beli.

"Tumben enggak ke perpustakaan, Yang? Keburu tutup lho!" goda suami sambil melirik rumah baca kecil di seberang Playground.

"Boleh?" tanyaku memastikan.

"Kenapa tidak? Aku yang awasi anak-anak."

Tanpa menunggu jawaban kedua, aku segera berjalan menuju rak-rak buku. Cukup lama aku menikmati bacaan di teras rumah baca, ditemani semilir angin sore yang membuat kantuk datang diam-diam. Hingga dua sosok kecil yang kukenal menghampiri.

"Susah selesai mainnya?" Mereka mengganguk sambil menunjukkan dua tusuk sosis bakar favorit mereka. Aku tersenyum melihat cara mereka menikmati makanan sederhana dengan wajah yang begitu bahagia.

Saat matahari mulai turun dan kami bersiap pulang, si bungsu tiba-tiba berhenti.

"Lho... sandal kuromiku kok ada disini?"

Ia langsung memasukkan kedua kakinya ke sandal warna ungu itu. Aku dan suami berpandangan, lalu terbahak.

"Tuh kan." kataku sambil tertawa. "firasat ibu itu selalu benar!"

"Itu bukan sandalmu, Dek. Kan sandalmu di rumah!" jelas si Sulung menahan tawa.

Si bungsu langsung menunduk malu, lalu buru-buru melepaskan sandal yang ternyata milik anak lain yang bentuk dan warnanya sama persis.

Aku memandang suami dengan mengisyatkan 'kebenaran firasatku' yang ia balas dengan angukkan menggoda.

Friday, 19 June 2026

Gagal

 

Setelah beberapa kali mendengar nada sambung yang bertepuk sebelah tangan, anak-anak akhirnya bersorak saat mendengar suara nenek mereka di ujung panggilan.

"Mbah lagi apa? Mbah sudah makan?" tanya anak-anak berebutan, pertanyaan sama yang selalu mengawali hari kami, suatu momen hangfat yang sayang untuk dilewatkan.

Saat anak-anak baru selesai mandi adalah waktu emas untuk merajut kedekatan cucu dan nenek yang terpisah Pulau. Menjelang siang mereka biasanya lebih memilih bermain di luar rumah hingga seringkali saat menelepon di luar waktu senggang anak, si nenek akan menyerah.

"Nanti lagi ya, kalau anak-anak sudah pulang." begitu katanya setiap kali anak-anak sedang sibuk dengan permainan mereka.

"Kak, ibuk mau jemur baju dulu. Kakak temenin Mbah ngobrol ya~"

Aku pun melangkah ke halaman sambil membawa ember berisi pakaian. Namun, baru beberapa helai baju tergantung, aku buru-buru berlari kembali ke dalam rumah.

Di balik telepon aku mendengar ibuku mulai bertanya tentang satu hal yang selama ini kami rahasiakan.

"Nanti libur sekolah main ke rumah Mbah ya!"

Aku terlambat. Misiku gagal. Dengan polos si sulung langsung menjawab.

"Iya, Mbah. Nanti tanggal satu kami kesana, sekitar sepuluh hari."

Bahkan tanpa diminta, ia dengan semangat membeberkan semua rencana yang sudah kami susun jauh-jauh hari.

Saat aku masuk ke ruang depan, si sulung menyadari sesuatu. Wajahnya menyiratkan penyesalan saat melihat mataku yang membulat. "Maaf,"

Akhirnya aku hanya bisa tersenyum dan mengusap kepalanya gemas.

Ternyata benar. Sesuatu yang direncanakan dengan sangat rapi, justru mudah terbongkar. Sebaliknya, hal-hal yang terjadi tanpa rencana seringkali berhasil menjadi kejutan yang sesungguhnya.

Aku teringat dua tahun lalu, kami yang awalnya tidak berencana untuk mudik tiba-tiba saat malam takbiran kami sudah berada di kampung halaman karena ajakan mudik yang tiba-tiba dari kakak. Kejutan itu sungguh manis, mengingat betapa harunya melihat ibuku memeluk rindu kedua cucunya. Wajah ibuku yang terkejut hingga menitikkan air mata masih jelas tersimpan di ingatan.

Kali ini, kejutan itu gagal. Bukan karena rencana yang kurang matang. Melainkan karena seorang anak yang belum mengenal apa itu menyimpan rahasia. Ia hanya menjawab dengan jujur setiap pertanyaan yang diberikan. Dan mungkin memang begitulah anak-anak. Mereka belum mengerti tentang kebohongan putih yang kadang dilakukan orang dewasa demi menghadirkan sebuah kejutan.

Aku pun memilih mengikhlaskan misi yang gagal itu. Karena melihat kejujuran yang masih utuh di mata anakku, rasanya jauh lebih indah daripada sebuah kejutan yang berhasil.

Thursday, 18 June 2026

Tersangka

 

Ada yang berbeda pagi ini. Suara berisik terdengar dari atap rumah mungil kami yang terbuat dari seng. Suara itu terdengar familiar, tetapi kali ini terasa berbeda.

"Suara apa ya, Yang?" tanyaku kepada suami yang sedang bersiap berangkat bekerja.

"Paling juga suara kucing atau angin yang menampar lembaran seng kita." jawabnya tenang.

"Kucing mah paling cuma sekali, itu pun biasanya di atas ruang depan. Kalau angin juga sepertinya bukan deh!"

Aku menatap dedaunan di luar jendela. Ranting pohon mangga itu diam. Tidak bergerak sedikit pun.

Gludak! Suara itu kembali terdengar. Aku melirik anak-anak yang masih terlelap, khawatir mereka akan terbangun.

Gludak! Suara itu datang lagi.

"Jangan-jangan orang dari kos sebelah!" kataku mengikuti suara hati yang membisiki.

Bukan tanpa alasan aku mengatakannya mengingat beberapa kali kami sempat dibuat kesal oleh perilaku mereka. Mulai dengan sang pemilik yang mengajukan ijin membangun tanah kosong untuk kos, mereka menunjukkan denah yang memperlihatkan balkon lantai dua tidak menghadap ke halaman rumah kami, dan pada akhirnya justru dari balkon lantai dua kos, mereka memiliki akses pemandangan di halaman rumah kami. Musik yang diputar terlalu keras, air cucian yang merembes ke genteng kami, hingga sampah yang pernah menggunung di atas atap dan menyebabkan kebocoran.

Semua kenangan itu membuatku begitu mudah menyimpulkan siapa pelaku keributan pagi ini. Dan saat aku keluar rumah untuk memastikannya, aku menemukan siapa pelakunya.

Seekor tupai dengan badan cukup besar sedang merangkak lincah di atas tali yang membentang antara kebun mini dan dinding rumah kami. Tak lama kemudia, beberapa tupai lainnya ikut menyusul. Mereka menjadikan tali rambatan tanaman sebagai jalan pintas sebelum melompat ke atap rumah, lalu berlarian menuju pohon mangga yang menaungi rumah kami.

Aku hanya terpaku.

Astaghfirullah. Bisa-bisanya aku sudah lebih dulu berprasangka kepada penghuni kos sebelah. Suamiku tertawa pelan sambil menjewer telingaku dengan gemas.

"Makanya, investigasi dulu untuk menemukan tersangkanya bukan asal nuduh!"

Kami akhirnya tertawa Bersama. Ternyata, suara yang paling berisik bukan berasal dari atap rumah. Melainkan prasangka yang terlalu cepat memenuhi kepala. Dan pagi ini, beberapa ekor tupai mengajarkanku untuk memeriksa kenyataan sebelum sibuk Menyusun tuduhan. Sebuah pelajaran sederhana yang datang sambil berlari-lari di atas seng rumah kami.