Sunday, 28 June 2026

Lagu Sayang

Bukan hanya menggulir layar gawai di sela-sela aktivitas atau menulis beberapa kalimat yang menjadi waktu me time-ku. Ada satu kegiatan lain yang justru paling aku nikmati: menyetrika.

Jika sebagian ibu, menyetrika adalah pekerjaan rumah yang melelahkan, bagiku justru sebaliknya. Saat berdiri di depan meja setrika, anak-anak akan berada di luar radius dan untuk beberapa saat aku bisa benar-benar fokus pada diriku sendiri. Tentu saja, sambil bernyanyi.

Awalnya, bernyanyi hanya untuk mengusir kantuk yang selalu datang saat menyetrika. Entah mengapa, rasa kantuk itu begitu bandel muncul di depan setrikaan. Namun ternyata, musik mampu mengembalikan semangat, dan bernyanyi menjadi cara sederhana untuk melepaskan segala penat.

Saat memulai, aku selalu meminta izin kepada suami.

"Maaf ya, Yang. Kalian akan mendengar suara sumbang dariku. Enggak apa-apa ya?"

Suami dan kedua anakku hanya mengangguk, lalu kembali ke kesibukan masing-masing. Di tengah tumpukan pakaian yang mulai berkurang, si bungsu tiba-tiba datang menghampiri.

"Buk, itu lagu apa sih? Lagu sayang, ya?" tanyanya polos.

Aku tertawa kecil. Biasanya ia tak pernah bertanya saat aku menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Namun kali ini berbesa. Lagu berbhasa Inggris yang belum ia mengerti rupanya membuatnya penasaran.

"Ini lagu bahasa Inggris, Nak." jawabku sambil tersenyum.

Ia mengangguk, lalu berlari riang menghampiri ayahnya. Entah bagaimana caranya ia menyimpulkan bahwa lagu yang kunyanyikan adala 'lagu sayang'.

Mungkin benar. Karena bagi seorang anak, apapun lagu yang keluar dari mulut ibunya, selama dinyanyikan dengan penuh cinta akan selalu terdengar sebagai lagu sayang.

Friday, 26 June 2026

Luka Ibu

Manusia tidak ada yang sempurna, termasuk aku yang di mata suami dikenal sebagai pribadi yang ceroboh dan mudah melukai diri sendiri. Berkali-kali ia mengingatkanku agar lebih berhati-hati saat beraktivitas.
Namun, seperti kejadian-kejadian sebelumnya, pagi ini aku kembali mendapat ‘oleh-oleh’ baru.

Lutut kaki kananku tersayat ujung dipan kayu saat terburu-buru menuju kamar mandi. Tidak sampai berdarah, tetapi cukup membuat perih.

“Kan! Kok bisa sih? Kamu ini selalu saja seperti itu,” katanya sambil mencibir gemas.

Aku sendiri kadang heran. Entah bagaimana caranya, benda yang menurut orang lain tidak berbahaya justru sering berhasil melukaiku.

Suatu siang saat kami makan Bersama, aku berinisiatif membuka ikatan plastic kerupuk. Karena tanganku licin dan simpulnya terlalu rapat, jariku terpeleset hingga ujung kuku menyobek kulit jari lainnya. Darah pun langsung mengucur.

Beberapa minggu lalu aku juga menunjukkan memar kebiruan di lutut kanan. “Kenapa lagi?” tanya suami.

“Tadi waktu mau naik motor enggak sengaja kaki membentur plat motor Ayang yang belakang”

“Ih, lagi-lagi. Pantas tadi aku lihat plat nomornya sampai bengkok, padahal motornya enggak jatuh.”

Belum lagi jari yang terkena pisau, jidat yang membentur dinding, atau lengan yang tiba-tiba tergores sesuatu tanpa kusadari. Kadang aku sampai bertanya-tanya, bagaimana bisa hal-hal kecil selalu menemukan jalannya untuk melukaiku.

Namun, di balik semua kecerobohan itu ada satu hal yang selalu membuatku hangat. Anak-anak.

Setiap kali mereka melihat ibu mereka terluka, mereka tidak pernah menertawakn atau mengomeliku. Dengan wajah khawatir mereka akan bergantian menghampiri.

“Cepat sembuh ya, Buk!”

Sesederhana itu.

Tanpa diminta.

Tanpa diajari.

Doa kecil dari dua hati mungil yang selalu berhasil menjadi obat paling ampuh untuk setiap luka yang singgah di tubuhku.

 

Kemarin

Senja menjadi salah satu waktu paling romantis bagi sebagian orang. Rona merah jambu seolah menghiasi hati, terlebih jika dinikmati di tempat yang menyuguhkan semburat jingga lembut yang mampu menumbuhkan rasa bernama cinta.

Begitulah yang dirasakan Beno. Ia tak mampu mengalihkan pandangan dari layar ponsel keluaran terbaru di tangannya.

"Aku tunggu di tepi Pantai Taman Inspirasi pukul empat sore, ya!"

Berulang kali Beno menggosok mata. Namun, isi pesan WhatsApp itu memang nyata adanya.

Walau masih terheran-heran, ia tak mampu memungkiri bunga-bunga harum yang tiba-tiba bermekaran di ruang hatinya. Gadis pujaan satu sekolah mendadak mengajaknya bertemu, berdua di tepi pantai.

Ah, berbagai adegan romantis langsung berkelindan di kepalanya.

Sesekali ia melirik jam tangan di pergelangan kiri, memastikan waktu tak terlambat untuk menemui sang dara pujaan. Namun, kini masih di tepi pantai yang sama, keesokan paginya Beno belum juga menemukan kekuatan untuk beranjak dari bangku tempat ia menunggu sejak senja kemarin.

Ternyata sang dara salah mengirim pesan. Orang yang ingin ditemuinya bukan Beno, melainkan Bejo, anak laki-laki dari asisten rumah tangga yang selama ini diam-diam meminjam ponselnya untuk mengerjakan tugas sekolah.

Beno ingin melampiaskan patah hatinya dengan kemarahan. Namun, ia tak tega memarahi seorang anak yatim yang selama ini menjadi ladang sedekah bagi dirinya dan kedua orang tuanya.