Thursday, 30 April 2026

Kuncup Restu

Di saat rentetan teror penantian tentang pernikahan semakin menjejali hati, apakah aku harus tetap menunggu orang yang dicintai untuk datang melamar atau menerima pinangan dari lelaki yang mencintai dengan ketulusan?

Waktu yang diberikan orang tua tunggalku telah mendekati ambang batas, sedangkan lelaki yang aku sayangi belum juga menunjukkan keseriusan. Pilihan apa yang seharusnya aku buat? 

Apakah aku masih harus mendekap ego dalam keyakinan ia akan melamar dalam waktu dekat ataukah aku harus menerima sebuah pinangan dari lelaki yang pernah aku temui setelah kelulusan di bangku SMP dulu?

Memoriku kemudian berloncatan, kilasan-kilasan peristiwa ketika pertama bertemu lelaki itu merangsek ke dalam relung hati dan perlahan menjebol bendungan airmataku. Kesan pertama saat bertatap muka dengannya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa aku akan menautkan hati kepada lelaki beristri yang tengah mencari permaisuri kedua. Kalimat demi kalimat tentang keputusasaannya akan kehadiran buah hati perlahan meluluhlantakkan prinsipku tentang pernikahan impian.

Rasa bebal mulai mendominasi percakapanku, berharap bujukan serta rayuanj ini mampu melelehkan hati ibu untuk menurunkan ridhanya atas pilihanku. Tetapi, hingga menjelang usia tiga puluh, kuncup restu itu tak kunjung merekah. Akupun mencoba pasrah. 

Hingga pada akhirnya, pernikahan pun terlaksana. Kuncup itu telah terbuka dan menguarkan wangi yang melenakan.

Demi ridha Tuhan melalui kedua tangan renta ibuku. Aku memilih menyulam rekah-rekah pernikahan bersama teman semasa SMPku. Dan menyakini, dialah Jodohku. 

Wednesday, 29 April 2026

Antologi ke-10 : Ternyata Engkau Jodohku



 
Gemintang mulai redup di ujung pagi

Menyisakan dingin yang tak begitu berarti 

Walau hati ingin memiliki

Apa daya jika restu tak kunjung meng-aamiini

 

Hujan tak lagi menderas

Berganti mentari dengan senyumnya

Jika luka memang menyisakan bekas

Biarlah waktu yang akan menutupinya

 

                                                                    Kembang tak kunjung mewangi

                                                                    Harum tak jua menemani

                                                                    Hati memang telah memilih

                                                                    Tetapi pasti tak berpaut kasih 

 ***

 

    Jodoh memang unik dan misteri. Tetapi setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk bertemu jodohnya. Di buku antologi ke-10 ini terdapat satu tulisanku yang berjudul kuncup restu. Selain kisah yang aku abadikan dengan tulisan ini, ada beberapa kisah dari kontributor lain yang juga menceritakan jalan mereka dalam menemukan, menunggu bahkan merelakan. setiap cerita memiliki warna yang berbeda. Ada yang dipertemukan melalui proses yang singkat. ada yang harus melewati penantian panjang dan ada pula yang belajar menerima bahwa tidak semua yang diharapkan harus ia miliki.

    Membaca keseluruhan isi buku ini seperti diajak berjalan menyusuri berbagai takdir yang Allah tuliskan untuk hambaNya. Tidak ada yang benar-benar sama, namun semua bermuara pada satu hal. Yaitu belajar untuk percaya. Percaya bahwa setiap pertemuan dan perpisahan bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari rencana yang sudah disusun begitu rapi.

    Melalui buku ini, aku belajar bahwa jodoh bukan hanya tentang 'siapa', tapi juga tentang 'kapan' dan 'bagaimana'. Dan seringkali, bagian tersulitnya bukan saat bertemu. melainkan saat diminta untuk bersabar sebelum pertemuan itu benar-benar terjadi.

    Untuk kamu yang juga sedang menanti jodoh, yang mungkin hari ini sedang merasa sendiri atau lelah menanti dan mulai mempertanyakan rencanaNya, tetaplah kuat! 

    Tidak semua yang tertunda berarti ditolak. bisa jadi, Allah sedang menyiapkan versi terbaik dirimu dan dia. Agar ketika kalian dipertemukan kelak, kalian datang dalam keadaan yang lebih siap.

    Nikmati saja alur yang Allah berikan. Tidak perlu terburu-buru mengejar sesuatu yang memang sudah ditetapkan waktunya. Isi hari-harimu dengan hal baik, perbaiki diri dan teruslah berdoa tanpa lelah. Karena jodoh yang baik tidak hanya untuk ditemukan, tapi juga untuk dipersiapkan. Dan percayalah, apa yang sudah Allah tetapkan tidak akan pernah salah alamat.

 

Judul buku: Ternyata Engkau Jodohku

Penulis: Nurrul Hidayati dan Tim WIN (Wong Indonesia Nulis)

Penerbit: CV. Win Media Kediri Jawa Timur.

ISBN: 978-623-99452-7-5

Cetakan pertama, Maret 2022

144 Halaman

 

Saturday, 7 December 2019

Kursi Ayah dan Ibu


“Ada yang tertinggal!” kataku sambil menyerahkan kotak-kotak yang ia bawa tadi. Tanganku berbalas angin. Dia hanya terpaku, menunjukkan wajah sendunya. Dan kembali tanpa kata, ia masuk ke dalam mobil dan perlahan melajukan mobilnya.

Apa kamu bisa membuat yang usang kembali berkilau?


***

Alhamdulillah, aku kira tulisanku bakal berhenti ketika jari telah terhias cincin pernikahan. terimakasih Penerbit Harasi telah meloloskan tulisan saya. ini menjadi antologi ke delapan. masih dengan tokoh seorang perempuan dengan kisah cintanya yang rumit dan pebuh dengan keharuan. silahkan dicek langsung di Penerbit Harasi ya untuk mendapatkan bukunya. :)