Anak-anak berlarian ke luar rumah
saat aku mengatakan bahwa sore ini kami akan bermain ke playground.
Riuh suara mereka langsung memenuhi halaman. Bahkan dengan penuh semangat mereka mengabarkan rencana itu kepada Tante Laundry dan Om potong rambut.
Saat melangkah menuju gerbang, aku melihat si bungsu memakai sandal barunya.
"Dek, ganti yang ini ya!"
Tentu saja wajah bulatnya mengembung. Kedua tangannya menyilang di dada, tanda emosi kecil mulai berkumpul.
"Adik mau sandalnya nanti tertukar? Di sana ramai. lho. Semua sandal harus dilepas. Kalau sandal barunya hilang bagaimana?"
Si Bungsu berpikir beberapa saat sebelum akhirnya pasrah melangkah kembali ke rumah.
Aku rasa ia masih mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika sandal kesayangannya hilang di perjalanan karena terlepas saat ia tertidur. Untung saja kami menemukannya kembali setalah menyusun yang kami lewati.
Sesampainya di Lapangan Puputan,
kami menuju playground di sudut lapangan yang sudah dipenuhi anak-anak. Aku dan
suami memilih duduk di pinggir sambil menikmati Lumpiyang yang baru kami beli.
"Tumben enggak ke perpustakaan, Yang? Keburu tutup lho!" goda suami
sambil melirik rumah baca kecil di seberang Playground.
"Boleh?" tanyaku memastikan.
"Kenapa tidak? Aku yang awasi anak-anak."
Tanpa menunggu jawaban kedua, aku segera berjalan menuju rak-rak buku. Cukup lama aku menikmati bacaan di teras rumah baca, ditemani semilir angin sore yang membuat kantuk datang diam-diam. Hingga dua sosok kecil yang kukenal menghampiri.
"Susah selesai mainnya?" Mereka mengganguk sambil menunjukkan dua tusuk sosis bakar favorit mereka. Aku tersenyum melihat cara mereka menikmati makanan sederhana dengan wajah yang begitu bahagia.
Saat matahari mulai turun dan kami bersiap pulang, si bungsu tiba-tiba berhenti.
"Lho... sandal kuromiku kok ada disini?"
Ia langsung memasukkan kedua kakinya ke sandal warna ungu itu. Aku dan suami berpandangan, lalu terbahak.
"Tuh kan." kataku sambil tertawa. "firasat ibu itu selalu benar!"
"Itu bukan sandalmu, Dek. Kan sandalmu di rumah!" jelas si Sulung menahan tawa.
Si bungsu langsung menunduk malu, lalu buru-buru melepaskan sandal yang ternyata milik anak lain yang bentuk dan warnanya sama persis.
Aku memandang suami dengan mengisyatkan 'kebenaran firasatku' yang ia balas dengan angukkan menggoda.
.png)
.png)