Friday, 26 June 2026

Kemarin

Senja menjadi salah satu waktu paling romantis bagi sebagian orang. Rona merah jambu seolah menghiasi hati, terlebih jika dinikmati di tempat yang menyuguhkan semburat jingga lembut yang mampu menumbuhkan rasa bernama cinta.

Begitulah yang dirasakan Beno. Ia tak mampu mengalihkan pandangan dari layar ponsel keluaran terbaru di tangannya.

"Aku tunggu di tepi Pantai Taman Inspirasi pukul empat sore, ya!"

Berulang kali Beno menggosok mata. Namun, isi pesan WhatsApp itu memang nyata adanya.

Walau masih terheran-heran, ia tak mampu memungkiri bunga-bunga harum yang tiba-tiba bermekaran di ruang hatinya. Gadis pujaan satu sekolah mendadak mengajaknya bertemu, berdua di tepi pantai.

Ah, berbagai adegan romantis langsung berkelindan di kepalanya.

Sesekali ia melirik jam tangan di pergelangan kiri, memastikan waktu tak terlambat untuk menemui sang dara pujaan. Namun, kini masih di tepi pantai yang sama, keesokan paginya Beno belum juga menemukan kekuatan untuk beranjak dari bangku tempat ia menunggu sejak senja kemarin.

Ternyata sang dara salah mengirim pesan. Orang yang ingin ditemuinya bukan Beno, melainkan Bejo, anak laki-laki dari asisten rumah tangga yang selama ini diam-diam meminjam ponselnya untuk mengerjakan tugas sekolah.

Beno ingin melampiaskan patah hatinya dengan kemarahan. Namun, ia tak tega memarahi seorang anak yatim yang selama ini menjadi ladang sedekah bagi dirinya dan kedua orang tuanya.

Antologi ke-13: Kado Ulang Tahun (Kumpulan Flash Fiction)

 

Kado Ulang Tahun: Ketika Cerita Singkat Mampu Meninggalkan Kesan Panjang

 

Tidak semua cerita harus ditulis berlembar-lembar untuk dapat menyentuh hati pembacanya. Ada kalanya, hanya dalam beberapa ratus kata, sebuah kisah mampu menghadirkan senyum, haru, bahkan meninggalkan renungan yang panjang. Itulah yang di kenal dengan flash fiction atau fiksi mini, sebuah cerita pendek yang ringkas, padat, namun tetap utuh dalam menyampaikan konflik dan penyelesainnya.

Kado Ulang Tahun menjadi antologi ke-13 dalam perjalanan menulis saya. Buku ini lahir dari event menulis Flash Fiction bersama Gol A Gong yang diselenggarakan oleh SIP Publishing. Menulis fiksi mini menjadi pengalaman yang berbeda bagi saya. Tantangannya bukan hanya menghadirkan cerita yang menarik, tetapi juga memilih setiap kata agar tetap bermakna meski ruang yang tersedia sangat terbatas.

Buku ini berisi 50 Flash Fiction karya penulis dari berbagai daerah di Indonesia. Masing-masing menghadirkan kisah dengan tema yang beragam, mulai dari kehidupan keluarga, persahabatan, percintaan hingga berbagai peristiwa sederhana yang begitu dekat dengan keseharian kita. Konflik yang diangkat pun terasa akrab, seolah mengajak pembaca menemukan potongan-potongan kehidupan mereka sendiri di setiap cerita.

Judul Kado Ulang Tahun diambil dari salah satu karya Gol A Gong yang membuka antologi ini.  Namun, bukan berarti cerita-cerita setelahnya kehilangan pesonanya. Justru setiap halaman menawarkan kejutan dengan gaya bertutur dan sudut pandang yang berbeda. Karena bentuknya yang singkat, buku ini terasa seperti menikmati camilan favorit ringan, tetapi cukup untuk mengobati rasa ingin membaca. Satu cerita selesai, rasanya ingin segera membuka halaman berikutnya.

Di dalam antologi ini, saya turut menyumbangkan sebuah Flash Fiction berjudul kemarin. Cerita ini mengisahkan Beno, seorang remaja yang tidak peracaya ketika sebuah pesan dari kembang sekolah tiba-tiba muncul di layar gawainya. Sebuah momen sederhana yang membuka ruang bagi berbagai harapan, keraguan dan pertanyaan yang mungkin pernah dialami banyak orang. Sebab terkadang, satu pesan singkat saja dapat mengubah suasana hati seseorang.

 Bagi saya, Kado Ulang Tahun menjadi pengingat bahwa panjang sebuah cerita tidak selalu menentukan dalamnya makna yang disampaikan. Dengan kalimat-kalimat yang ringkas, para penulis berhasil menghadirkan kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan dan mudah dinikmati di sela-sela kesibukan.

Antologi ini juga menjadi salah satu langkah yang memperkaya perjalanan saya sebagai penulis. Dari menulis cerpen, jurna, hingga mencoba pentigraf dan kini Flash Fiction, saya belajar bahwa setiap bentuk tulisan memiliki tantangannya masing-masing. Dan dari setiap tantangan itu, selalu ada pelajaran baru yang membuat saya semakin mencintai dunia literasi.

 

Kumpulan Flash Fiction

KADO ULANG TAHUN

Penulis: Gol A Gong, dkk

Desain Sampul & Tata Letak: Yusuf Muhammad Iqbal

Penerbit: SIP Publishing (Anggota IKAPI)

ISBN: 978-623-337-701-0

Cetakan Pertama, Juni 2022

Ukuran Buku: A5

Halaman: x+192

 

Thursday, 25 June 2026

Bukan MBG

 

Virus lagu MBG mulai merajalela, termasuk meracuni lisan anak-anakku yang entah dari mana mereka mendengarnya. Mungkin dibawa kakak dari sekolah atau mungkin juga dari tontonan saat screentime mereka. Yang jelas, lagu itu mulai sering terdengar di rumah mungil kami.

Aku pun mulai memutar otak bagaimana caranya agar nama ‘tokoh’ dalam lagu itu tidak terus menggema di rumah. Bisa-bisa dunia perpolitikan dan perekonomian yang sudah cukup membuat pusing ikut memanggil migrain kembali bersarang di kepala.

“Kakak, Adik! Dilarang menyebut nama laki-laki lain selain nama Kakak dan Ayah di rumah ini!” tegurku cukup keras.

“Kenapa, Buk?” tanya si sulung.

“Pokoknya kalau Ibu bilang enggak boleh, ya enggak boleh!” Percuma juga menjelaskan Panjang lebar. Usia mereka masih terlalu dini untuk memahami maksudku.

“Ya sudah, namanya diganti saja.”

“Diganti?” selidikku penasaran.

“Iya!” Lalu dengan penuh semangat ia mulai bernyanyi.

“M-A-G, Mas Ayah Ganteng. Buah apa yang paling manis? Buapaknya Kakak!” Si bungsu langsung ikut bernyanyi sambil tertawa. Aku dan suami terbahak. Kreatif sekali anak-anak ini.

Tak mau kalah, si bungsu mencoba menyanyikannya sendiri tanpa bantuan dari sang kakak.

“M-B-G, Mas Ayah Ganteng. Buah apa yang paling manis? Buapaknya Kakak!” Tawa kami Kembali pecah.

“Dek, bukan MBG!” protes sang kakak. “tapi MAG!”

Dan malam itu, lagu yang sempat ingin kuhilangkan dari rumah justru lahir kembali dalam versi yang jauh lebih aman. Versi keluarga kami sendiri. Lagu yang membuat suami menunjukkan senyumnya yang paling lebar.