"Ingat, kalau melihat Tante, kalian kasih kejutan ya!" komandoku pada kedua buah hatiku sesaat sebelum memasuki mal terbesar di kota kelahiranku.
Mal itu sudah ada cukup lama. Hanya saja, aku belum pernah memiliki kesempatan mengunjunginya saat mudik. Kali ini kami sengaja datang karena kakak perempuanku dipindahtugaskan ke gerai kosmetik di sana. Namun, kejutan kami gagal saat seorang perempuan berseragam hijau menghampiri kami yang masih mengedarkan pandangan ke setiap sudut pusat perbelanjaan.
"Yah, kita ketahuan, Buk!" kata si sulung. Kakakku hanya tertawa mengetahui rencana kami gagal.
Setelah menyapa dan melihat tempat kerja barunya, kami memilih menyusuri setiap lorong di pusat perbelanjaan itu. Seperti biasa, anak-anak menyerbu rak makanan, sedangkan aku memilih beberapa produk yang dipasarkan oleh kakakku.
Tak lama kemudian, anak-anak kembali dengan berbagai camilan yang jarang kami temui di perantauan. Liurku seakan ikut menetes. Dalam sekejap, aku sudah berada di area cemilan.
"Ingat, kita beli yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan." nasihat suamiku yang melihatku asyik memilih benda-benda yang kuanggap imut.
"Lantai atas ada apa, Kak?" tanyaku.
"Pakaian."
"Wah, aku ke atas dulu ya, Yang." ujarku.
Suami dan kakakku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku.
"Bahaya, nih!" gumam suami sembari menenteng belanjaan dari supermarket.
"Aku tunggu disini ya."
"Aku dan anak-anak mulai berkeliling. Si bungsu mengambil sebuah celengan berbentuk karakter favoritnya, Melody. Kakaknya masih menimbang-nimbang pilihannya.
Berselang satu jam, aku melihat suamiku sedang berjongkok di dekat penitipan barang. Wajahnya tampak tertekuk saat melihat beberapa kantong plastik yang kubawa. Aku hanya tertawa kecil sambil menyatukan kedua telapak tangan tanda minta maaf. Ia memeriksa barang-barang yang kubeli.
"Mana sepreinya?"
"Enggak jadi beli. Mahal sih. Aku beli online aja ya," kataku sambil menahan tawa.
Suami mulai mencibir gemas. Padahal kami pamit kepada ibu hendak membeli seprei, tetapi yang kubawa pulang justru beberapa helai baju, empat handuk, mainan anak, ATK, dan camilan. Siap-siap aku akan mendengar petuah sesampainya di rumah.
Namun, hati kecilku tetap bersyukur tanpa sedikitpun penyesalan. Toh, aku sudah menyiapkan pembelaan. "Mumpung harga disini jauh lebih murah daripada di Denpasar."
"Iya-iya. Siap-siap deh. Kita datang bawa satu koper, nanti pulangnya jadi empat koper." canda suamiku saat mendengar alasanku untuk membela diri dari petuah yang akan kuterima di rumah nanti.
.png)

.png)