Tuesday, 1 September 2026

Pertemuan (Pentigraf)

 

Semua orang mengira Jelita adalah gadis piatu yang menjadi prioritas sang ayah yang tak kenal lelah mengayuh pedalbecak demi memenihi setiap kebutuhan anak smeta wayangnya. Beranjak remaja gadis ayu itu mulai mempertanyakan tentang sosok yang melahirkannya karena tak satu pun ia pernah diajak menemui atau pun berziarah ke makam sang Ibu jika memang telah berpulang. Senja mendadak membawakan sebuah jawaban, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Malam itu juga ia menyanggupi ajakan untuk bertemu dari seorang Wanita yang mengaku sebagai ibunya keesokan hari.

Pertemuan itu disepakati terjadi di sebuah taman di kota sebelah, sesaat setelah senja hendak ditenggelamkan malam. Dari sore hari Jelita sudah duduk di bangku taman dan sesekali mematikan dering ponsel yang tak mau berhenti. Membiarkan sang ayah dikekang kalut dan kekhawatiran. Saat hujan mulai mendekap Jelita, ia merasakan ada naungan payung yang melindungi tubuh ranumnya. Sebuah jemari lentik dengan cat kuku berwarna mentereng adalah yang pertama ditangkap netranya.

Jelita menyesal menyanggupi ajakan pertemuan dengan Perempuan yang mengaku ibu yang telah lama meninggalkannya. Perlahan ia berlari meninggalkan Perempuan dengan baju minim yang terus memanggil namanya. Walau hujan telah menyatu dengan raganya, Jelita tak mampu melunturkan wajah dengan riasan tebal yang baru saja ia temui.

Antologi ke-15: Kutu Buku (Kumpulan Pentigraf)

 
Menemukan Pembelajaran dari Setiap Rasa

Rasa sering kali datang dari apa yang kita lihat, kita dengar, kita alami, bahkan dari hal-hal sederhana yang mungkin awalnya kita anggap biasa saja. Ada rasa manis yang membuat kita ingin mengulanginya, ada pula rasa pahit yang mungkin ingin segera kita lupakan. Namun, dari keduanya selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari. Sebab, bukankah setiap pengalaman selalu meninggalkan cerita?

Itulah yang saya temukan ketika membaca buku antologi ini. Setiap cerita seperti membawa saya pada rasa yang berbeda. Ada yang membuat tersenyum, ada yang menggelitik, ada yang membuat terdiam sejenak, bahkan ada pula yang menghadirkan keterkejutan karena akhir ceritanya tidak seperti yang saya duga.

Buku ini merupakan kumpulan cerita yang lahir dari kelas menulis pentigraf yang diadakan oleh SIP Publishing bersama Bapak Pentigraf, Tengsoe Tjahjono. Pentigraf sendiri merupakan singkatan dari cerpen tiga paragraf, yaitu cerita pendek yang disajikan hanya dalam tiga paragraf. Meski pendek, bukan berarti cerita di dalamnya sederhana. Justru di sanalah tantangannya: penulis harus mampu membangun cerita, menghadirkan konflik, menyampaikan pesan, dan memberikan kejutan hanya dalam ruang yang sangat terbatas.

Dan ternyata, tiga paragraf bisa membawa begitu banyak rasa.

Setiap penulis memiliki cara masing-masing dalam menangkap sesuatu yang ada di sekitarnya, kemudian merangkumnya menjadi cerita. Ada pengalaman yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, ada pengamatan terhadap manusia dan lingkungan, ada pula cerita yang membuat kita bertanya-tanya sebelum akhirnya sampai pada bagian akhir.

Saya menikmati bagian ketika sebuah cerita ternyata tidak berjalan seperti yang saya bayangkan. Ada kejutan-kejutan kecil yang membuat saya kembali membaca beberapa kalimat sebelumnya. Mungkin inilah salah satu hal menarik dari pentigraf. Karena ruangnya singkat, setiap kalimat terasa memiliki peran. Kita diajak membaca dengan lebih teliti, sekaligus menebak ke mana cerita akan dibawa.

Bagi saya, antologi ini bukan sekadar kumpulan cerita pendek. Ia seperti kumpulan rasa yang dirangkum oleh banyak kepala dan hati. Masing-masing penulis membawa pengalaman, pengamatan, juga sudut pandangnya sendiri. Kita sebagai pembaca tinggal menikmati setiap rasa yang disajikan, lalu menemukan apa yang bisa kita bawa pulang.

Karena pada akhirnya, sebuah cerita tidak selalu harus memberikan nasihat secara langsung. Kadang cukup membuat kita tersenyum, terkejut, teringat pada sesuatu, atau bahkan berkata dalam hati, “Ternyata bisa juga dilihat dari sisi seperti ini.”

Buku ini adalah buku antologi ke-15 yang lahir di tahun 2022. Lima belas buku tentu bukan perjalanan yang sebentar. Dan setiap buku punya cerita serta rasa yang berbeda untuk dikenang.

Selamat membaca, menikmati setiap rasa yang disajikan, dan menemukan pembelajaran dari cerita-cerita di dalamnya. Atau kalau ternyata ada cerita yang terasa begitu dekat dengan kehidupan sendiri, anggap saja kita sedang menemukan tempat untuk curhat sebentar. Karena mungkin, begitulah cerita bekerja: menjadi cermin untuk melihat kembali pengalaman, sekaligus menjadi teman untuk memahami bahwa setiap rasa, baik manis maupun pahit, selalu punya sesuatu yang bisa kita pelajari.

 

Kumpulan Pentigraf

Kutu Buku

Penulis: Dedy Purwono, dkk

Desain Sampul & Tata Letak: Tim Desainer SIP Publisher

Penerbit: SIP Publishing (Anggota IKAPI)

SIPSBN: 920-220-500-044-6

Cetakan Pertama, Juni 2022

Ukuran Buku: 14X20CM

Halaman: 124

 

Friday, 24 July 2026

Jaring Harapan

Setiap malam aku bergoyang pelan di dekat jendela di sebuah rumah berdinding kayu. Benang-benangku mulai rapuh, bulu-bulu yang dulu menari kini tinggal beberapa helai. Pemilikku telah lama tumbuh dewasa. Ia tidak lagi percaya pada kemampuanku menyaring mimpi buruk.

Namun, sampai kini aku tidak benar-benar sendiri. Tepat saat malam mencapai sunyinya, di tanggal tertentu ada aroma si bunga wijayakusuma selalu datang. Harumnya menyelinap perlahan bersama angin, lembut dan bening perlahan memenuhi ruang tanpa mengusik.

Ia tidak setajam melati dan mampu meninggalkan rasa ketenangan seolah ada doa yang sedang diam-diam dipanjatkan. Saat ia datang aroama itu meresap disela anyamanku, mengusir apek yang selama ini menemaniku. Aku tidak lagi berharap bisa menangkap mimpi buruk. Aku hanya ingin menangkap satu hal yang tak pernah gagal datang bersama harum wijayakusuma yaitu doa yang mengantarkan pemilikku pulang, meski hanya sekejap, walau tanpa raga.