Aku cukup terkejut mendengar suara mungil si bungsu saat aku masih berada di kamar mandi menjelang subuh. Ketika keluar, kulihat anak perempuanku sudah berada di samping ayahnya yang sedang duduk di depan istri keduanya.
“Lho, adik sudah bangun?” tanyaku.
Bukannya menjawab, ia malah bertanya mengapa aku tadi berteriak dan membangunkan ayahnya. Aku tersenyum lalu menceritakan tentang seekor lebah yang asyik berputar-putar di dekat lampu kamar mandi.
Rasa kantuknya langsung hilang, berganti dengan rentetan pertanyaan tentang nasib si lebah kemudian. Melihat matanya yang sudah segar, aku memutuskan tidak mengajaknya tidur Kembali meskipun semalam anak-anak tidur larut.
Dengan lembut aku membangunkan si sulung untuk salat Subuh. Ajaibnya, ia langsung bangun dan tidak melobi seperti biasanya. Selepas salat, ia segera mengingat misinya.
“Buk, jam berapa mereka datang?” yanyanya penuh harap.
“Sabar, sebentar lagi.”
Beberapa hari yang lalu aku memang menunggu hal yang sama. Aku bahkan menyiapkan kamera untuk mengabadikannya sebagai bukti bahwa cerita yang kusampaikan kepada anak-anak bukan karangan semata agar mereka mau bangun lebih pagi.
Namanya juga anak-anak. Terkadang mereka baru benar-benar percaya jika melihatnya sendiri.
“Jam berapa mereka akan datang?” tanya si sulung lagi.
“Biasanya sih, saat Ayah sudah mau berangkat kerja.”
Si sulung kemudian mondar-mandir keluar masuk rumah. Sesekali menatap atap, lalu bertanya Kembali. Aku hanya tersenyum melihat kesungguhannya. Namun, hingga matahari mulai meninggi, yang kami tunggu tak kunjung datang. Hingga si sulung mulai menyerah.
Meski ia tidak mengatakan bahwa cerita ibunya mungkin hanya rekaan, aku tahu ia kecewa. Sejujurnya, aku juga. Kemarin aku gagal mengabadikan mereka meskipun sudah berlari secepat mungkin saat mendengar derap langkah mungil kaki mereka menginjak atap seng rumah kami. Hari ini, saat si sulung sangat antusias, justru kawanan tupai itu tidak muncul seekor pun.
“Mungkin saat itu mereka hanya numpang lewat, Kak.” Kataku mencoba menghibur.
“Atau atap rumah kita dijadikan jalan saat mereka mencari tempat tinggal baru. Jadi sekarang mereka sudah menemukan rumah yang lain.”
Si sulung mengangguk pelan. Dan pagi ini kami belajar satu hal. Tidak semua penantian berakhir dengan pertemuan. Kadang yang datang justru sebuah cerita untuk dikenang, tentang beberapa ekor tupai yang pernah membuat atap rumah mungil kami riuh oleh suara lompatan-lompatan kecil mereka.
.png)
.png)
