Cinta Nessa
Oleh: Trias Swasti Arini
“Dia tidak akan datang, Ness!”
Nessa seolah tidak mendengar apa yang
dikatakan adik semata wayangnya. Selang seminggu setelah kejadian pahit itu, ia
hanya diam terduduk di ujung ranjangnya. Mata bulat itu tidak lagi memancarkan
sinar, pandangannya kosong dan hanya tertuju kepada satu titik. Pintu gerbang.
Reifan tak
henti-hentinya mengutuk dirinya yang tidak mampu menvegah pernikahan itu
terjadi. Dia memang merasa tidak begitu dekat dengan keluarganya, bahkan dia
rela pergi meninggalkan rumah demi kehidupan yang diinginkannya. Kehidupan
bebas tanpa tuntutan dan kekangan kedua orang tua ningratnya. Jadi tidak bisa
disalahkan jika restu dan penolakan Reifan tentang pernikahan Nessa dan Robby
diabaikan orang tuanya, terutama Nessa, saudara kembarnya.
Reifan tahu
betul siapa robby, teman seperjuangan di dunia yang begitu melenakan. Dunia
penuh dengan harum bunga-bunga liar dan pahitmya alcohol yang melenakan. Entah
bagaimana lelaki itu bisa menjerat hati putih saudarinya.
Semua
persiapan telah sempurna, pengantin laki-laki telah duduk di depan Papa beserta
penghulu dan para saksi. Ijab Kabul dengan satu tarikan napas mulus tanpa
halangan. Semuanya aman terkendali hingga datanglah seorang Perempuan
berpakaian minim dengan perut yang menjorok ke depan.
Semua
tercengang, tak hanya Reifan tentunya yang merasa syok saat Perempuan itu
menarik tangan Robby dan membawanya keluar dari ruang pernikahan. Papa terlihat
pucat, apalagi Mama yang seketika pingsan. Nessa?
Seketika
Reifan tak lagi mengenalinya. Nessa tiba-tiba saja seolah menjadi maneken. Diam
tanpa Gerak dan suara. Hingga di detik ini.
“Nessa sudah
mandi, Bik Sum?” tanya Reifan kepada pengasuh sedari kecilnya.
“Iya Mas
Rei,” jawab Bik Sumi sambil menyisir rambut Panjang Nessa sebelum kain putih
bermotif bunga itu menutupi kelas rambut majikan kecilnya. Tak terasa 29 tahun
bayi kembar itu telah dibersamainya.
“Titip Nessa
ya, Bik.”
“Mas Rei mau
pergi lagi?”
“Rei hanya
mau mengambil beberapa barang di kos, nanti sore Rei balik lagi. Rei janji Bik,
kali ini Rei akan menajaga dan merawat Nessa sampai dia ‘kembali’.”
Selepas
acara pernikahan itu Reifan memang tidak beranjak sedikit pun dari sisi Nessa.
Hatinya masih saja terluka mengingat perkataan Nessa beberapa hari ,emjelang
pernikahan itu. Kenyataan bahwa Nessa merindukan masa kecil mereka yang selalu
bersama dalam tawa maupun duka. Kepergiannya dari rumah mereka telah
menggoreskan luka dalam bagi Nessa. Reifan sangat menyesalinya apalagi setelah
mengetahui Nessa Tengah sendiri menghadapi segala tuntutan dan pongah orang tua
mereka. Reifan tidak menyadari itu semua, Nessa sendiri dan sangat membutuhkan
uluran serta pelukan teman semenjak di dalam Rahim mamanya.
“Bagiamana
keadaan Nessa, Bik?” Mama Nessa—tanpa mengetuk pintu —langsung menghambur kea
nak Perempuan semata wayangnya. Terlihat ada perubahan wajah dari Bik Sum.
“Kenapa, Bik?” susulnya.
“Oh, tidak
apa-apa, Nyonya. Hanya kaget, tadi tidak ada siapa-siapa di kamar ini kecuali
saya dan Non Nessa. Non Nessa masih sama seperti kemarin, tadi Den Reifan
keluar sebentar untuk mengambil barang-barangnya di kos.”
“Akhirnya
kami sekeluarga sudah berkumpul Kembali ya, Bik!” Terdengar getaran dalam
perkataan majikannya. “Tapi bukan dengan cara seperti ini, Bik.” Tetesan bening
meluncur mulus dari kedua mata Perempuan yang telah melahirkan si kembar Nessa
dan Reifan.
Ini kali
pertama Bik Sumi mendengar keluh kesah Perempuan yang mempekerjakannya. Tiada
lagi gurat keangkuhan dan keras hati yang selama ini membelenggu kebebasan
Reifan dan Nessa. Bik Sumi hanya terdiam, hatinya merasa lega sekaligus
bersyukur. Sebuah rencana telah menemukan titik kesuksesannya. Sekali lagi, Bik
Sumi akan menjadi saksi dalam Sejarah keluarga ningrat itu.
*
“Tolong kunci
pintunya, Bik!” Nessa segera menghambur ke kamar mandi untuk mengambil air
wudhu. Dan mulailah ia tenggelam dalam kekhusyukan ibadahnya. Bik Sumi hanya
mengamati dari kejauhan, dirinya sama sekali tidak menyangka akan turut andil
dalam sKenario yang Nessa dan Robby buat.
Pernikahan
itu memang benar adanya, dan itu sah menurut agam juga negara. Memang benar ada
twist tak terduga denfan datangnya Perempuan berbadan dua itu, namun
ternyata itu Adalah bumbu penyedap dari Robby tanpa Nessa ketahui. Robby
berulang kali meminta maaf jika keputusannya yang telah merubah naskah yang
telah mereka buat.
“Malam ini saat yang tepat, Bik!”
Nessa merebahkan diri sejenak keapda pembantu sekaligus pengasuhnya.
“Orang-orang
yang aku cintai telah berkumpul, aku harap pengakuanku tidak akan memudarkan
cinta mereka kepadaku seperti sebelum aku ‘sakit’. Doakan aku ya, Bik!”