Di saat rentetan teror penantian tentang pernikahan semakin menjejali hati, apakah aku harus tetap menunggu orang yang dicintai untuk datang melamar atau menerima pinangan dari lelaki yang mencintai dengan ketulusan?
Waktu yang diberikan orang tua tunggalku telah mendekati ambang batas, sedangkan lelaki yang aku sayangi belum juga menunjukkan keseriusan. Pilihan apa yang seharusnya aku buat?
Apakah aku masih harus mendekap ego dalam keyakinan ia akan melamar dalam waktu dekat ataukah aku harus menerima sebuah pinangan dari lelaki yang pernah aku temui setelah kelulusan di bangku SMP dulu?
Memoriku kemudian berloncatan, kilasan-kilasan peristiwa ketika pertama bertemu lelaki itu merangsek ke dalam relung hati dan perlahan menjebol bendungan airmataku. Kesan pertama saat bertatap muka dengannya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa aku akan menautkan hati kepada lelaki beristri yang tengah mencari permaisuri kedua. Kalimat demi kalimat tentang keputusasaannya akan kehadiran buah hati perlahan meluluhlantakkan prinsipku tentang pernikahan impian.
Rasa bebal mulai mendominasi percakapanku, berharap bujukan serta rayuanj ini mampu melelehkan hati ibu untuk menurunkan ridhanya atas pilihanku. Tetapi, hingga menjelang usia tiga puluh, kuncup restu itu tak kunjung merekah. Akupun mencoba pasrah.
Hingga pada akhirnya, pernikahan pun terlaksana. Kuncup itu telah terbuka dan menguarkan wangi yang melenakan.
Demi ridha Tuhan melalui kedua tangan renta ibuku. Aku memilih menyulam rekah-rekah pernikahan bersama teman semasa SMPku. Dan menyakini, dialah Jodohku.

