Thursday, 18 June 2026

Tersangka

 

Ada yang berbeda pagi ini. Suara berisik terdengar dari atap rumah mungil kami yang terbuat dari seng. Suara itu terdengar familiar, tetapi kali ini terasa berbeda.

"Suara apa ya, Yang?" tanyaku kepada suami yang sedang bersiap berangkat bekerja.

"Paling juga suara kucing atau angin yang menampar lembaran seng kita." jawabnya tenang.

"Kucing mah paling cuma sekali, itu pun biasanya di atas ruang depan. Kalau angin juga sepertinya bukan deh!"

Aku menatap dedaunan di luar jendela. Ranting pohon mangga itu diam. Tidak bergerak sedikit pun.

Gludak! Suara itu kembali terdengar. Aku melirik anak-anak yang masih terlelap, khawatir mereka akan terbangun.

Gludak! Suara itu datang lagi.

"Jangan-jangan orang dari kos sebelah!" kataku mengikuti suara hati yang membisiki.

Bukan tanpa alasan aku mengatakannya mengingat beberapa kali kami sempat dibuat kesal oleh perilaku mereka. Mulai dengan sang pemilik yang mengajukan ijin membangun tanah kosong untuk kos, mereka menunjukkan denah yang memperlihatkan balkon lantai dua tidak menghadap ke halaman rumah kami, dan pada akhirnya justru dari balkon lantai dua kos, mereka memiliki akses pemandangan di halaman rumah kami. Musik yang diputar terlalu keras, air cucian yang merembes ke genteng kami, hingga sampah yang pernah menggunung di atas atap dan menyebabkan kebocoran.

Semua kenangan itu membuatku begitu mudah menyimpulkan siapa pelaku keributan pagi ini. Dan saat aku keluar rumah untuk memastikannya, aku menemukan siapa pelakunya.

Seekor tupai dengan badan cukup besar sedang merangkak lincah di atas tali yang membentang antara kebun mini dan dinding rumah kami. Tak lama kemudia, beberapa tupai lainnya ikut menyusul. Mereka menjadikan tali rambatan tanaman sebagai jalan pintas sebelum melompat ke atap rumah, lalu berlarian menuju pohon mangga yang menaungi rumah kami.

Aku hanya terpaku.

Astaghfirullah. Bisa-bisanya aku sudah lebih dulu berprasangka kepada penghuni kos sebelah. Suamiku tertawa pelan sambil menjewer telingaku dengan gemas.

"Makanya, investigasi dulu untuk menemukan tersangkanya bukan asal nuduh!"

Kami akhirnya tertawa Bersama. Ternyata, suara yang paling berisik bukan berasal dari atap rumah. Melainkan prasangka yang terlalu cepat memenuhi kepala. Dan pagi ini, beberapa ekor tupai mengajarkanku untuk memeriksa kenyataan sebelum sibuk Menyusun tuduhan. Sebuah pelajaran sederhana yang datang sambil berlari-lari di atas seng rumah kami.

Tuesday, 16 June 2026

Menghitung Hari

 

"Buk, sekarang tanggal berapa?"

Si Sulung berdiri di depan kalender yang menempel di ruang depan.

"Tujuh belas, Nak."

"Juni, ya?" tanyanya lagi.

"Iya."

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya beberapa hari terakhir. Sejak lancar membaca dan mulai memahami kalender, ia begitu rajin menghitung hari.

Hari yang spesial baginya. Dan tentu bagiku. Bagi kami sekeluarga.

"Kakak enggak sabar, ya?" selidikku.

"Iya. Aku mau main sama Mbah." Jawabnya begitu polos hingga membuatku tersenyum.

Ternyata bukan hanya orang dewasa yang merindukan kampung halaman. Anak-anak pun punya rindu yang sama.

Meski hanya dipisahkan selat Bali, kami hanya bisa pulang sekitar sepuluh hari dalam setahun. Selain alasana akomodasi menyesuaikan libur sekolah dan cuti kantor bukan hal yang mudah.

"Buk, baju ini dibawa ya!" Si Bungsu mulai sibuk memilih pakaian yang ingin dimasukkan kedalam koper. Kini ia pun mulai memahami arti mudik, lengkap dengan semangat membawa hampir semua baju favoritnya.

"Kurang berapa hari lagi, Buk?" tanyanya.

"Ih, Adik. Kan Ibuk sudah bilang dua minggu lagi. Sekarang hari Rabu, berarti tinggal seminggu lagi" sahut si sulung dengan percaya diri.

Aku hanya tertawa. Ia memang sudah pandai membaca kalender, tetapi masih sering tertukar anatar satu minggu dan dua minggu.

"Sabar!" kata suami ikut menimpali.

Begitulah suasana di rumah kecil kami menjelang mudik. Belum ada tiket yang dicetak. Nelum ada perjalanan yang dimulai. Namun hati kami sudah lebih dulu berangkat. menghitung hari demi hari untuk melepas rindu dengan orang yang tersayang di kampung halaman.

Dan di ujung sana, aku yakin ada seorang nenek yang juga sedang melakukan hal yang sama. Menghapus satu tanggal di kalender sambil menunggu pintu rumahnya kembali diketuk oleh cucu-cucu yang paling dirindukannya. Karena ternyata, mudik bukan hanya soal perjalanan menuju kampung halaman.Melainkan tentang orang-orang yang sama-sama menghitung hari untuk saling melepas rindu.

Saat Marah


Aku melihat pantulan diriku pada si bungsu yang baru berusia empat tahun. Bukan pada cerewetnya, bukan pula pada celotehnya yang tiada henti, melainkan saat ia marah. Apakah semua perempuan ketika marah memang seperti itu? Ataukah si kecil yang belum mampu meregulasi emosinya hanya meniru apa yang selama ini ia lihat?

Aku memang bukan seorang ibu yang sempurna. Masih banyak cela dan khilaf, terutama saat emosi datang atau ketika gelombang hormon mulai tidak bersahabat pada tanggal-tanggal tertentu setiap bulannya. Namun setiap kali semuanya mereda, penyesalan selalu datang lebih dulu. "Kok bisa hanya karena kesalahan kecil emosiku memuncak seperti itu?" Aku terus mencari jawaban yang tak kunjung mampu menenangkan hati.

Terlebih ketika melihat si kecil melakukan hal yang sama persis seperti yang pernah kulakukan. Tangan mungilnya mengepal lalu memukul udara. Sesekali ia berusaha memukul kepalanya sendiri saat keinginannya tidak dipenuhi. Untungnya tanganku selalu lebih cepat menahan gerakannya agar ia tidak melukai dirinya.

Saat itu aku sadar. Anak-anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka juga menyimpan apa yang kita lakukan. Dan mungkin, tanpa sengaja, aku pernah memberikan contoh yang tidak baik. Kini aku hanya bisa berusaha memperbaikinya.

Suatu pagi, si bungsu mulai tantrum karena aku tidak mengizinkannya makan lolipop.

"Dek, kalau marah bilang apa?" tanyaku sambil mencoba menenangkannya.

"Enggak tahu!" jawabnya dengan dada yang naik turun menahan emosi.

"Dek, Ibuk hitung mulai satu ya. Ucapkan apa?"

"Enggak tahu!" Ia masih melipat kedua tangannya di dada.

"Satu... dua..." Jemariku mulai terbuka satu per satu. Belum juga terdengar kalimat yang selama ini kami latih bersama.

"Dek..." Dengan wajah yang masih cemberut, akhirnya ia berkata,

"Astaghfirullahalazim..." Masih dengan nada marah.

"Lagi. Ulang sepuluh kali." Ia mengulanginya, kali ini dengan suara yang perlahan menurun.

"Kalau masih marah saat mengucapkannya, tambah dua puluh kali ya." Pelan-pelan oktaf suaranya melemah. Tangisnya mereda. Tubuh kecil itu akhirnya bersandar di pelukanku. Aku mengusap punggungnya perlahan.

"Dek, ingat ya. Kalau marah, ucapkan Astaghfirullah, letakkan tangan di dada, lalu pejamkan mata." Ia hanya mengangguk pelan. Dan tanpa kusadari, lolipop yang sejak tadi diperjuangkannya sudah terlupakan begitu saja.

Semoga langkah kecil ini bisa menjadi cara baginya untuk mengenali dan meregulasi emosinya. Dan semoga, menjadi pengingat untukku juga. Bahwa anak-anak bukan hanya belajar dari nasihat yang kita ucapkan, tetapi dari setiap emosi yang kita tunjukkan. Maka sebelum mengajari mereka cara menenangkan diri, mungkin akulah yang lebih dulu harus belajar melakukannya.