Tuesday, 23 June 2026

Penantian

“Lagi apa, Yah?”

Aku cukup terkejut mendengar suara mungil si bungsu saat aku masih berada di kamar mandi menjelang subuh. Ketika keluar, kulihat anak perempuanku sudah berada di samping ayahnya yang sedang duduk di depan istri keduanya.

“Lho, adik sudah bangun?” tanyaku.

Bukannya menjawab, ia malah bertanya mengapa aku tadi berteriak dan membangunkan ayahnya. Aku tersenyum lalu menceritakan tentang seekor lebah yang asyik berputar-putar di dekat lampu kamar mandi.

Rasa kantuknya langsung hilang, berganti dengan rentetan pertanyaan tentang nasib si lebah kemudian. Melihat matanya yang sudah segar, aku memutuskan tidak mengajaknya tidur Kembali meskipun semalam anak-anak tidur larut.

Dengan lembut aku membangunkan si sulung untuk salat Subuh. Ajaibnya, ia langsung bangun dan tidak melobi seperti biasanya. Selepas salat, ia segera mengingat misinya.

“Buk, jam berapa mereka datang?” yanyanya penuh harap.

“Sabar, sebentar lagi.”

Beberapa hari yang lalu aku memang menunggu hal yang sama. Aku bahkan menyiapkan kamera untuk mengabadikannya sebagai bukti bahwa cerita yang kusampaikan kepada anak-anak bukan karangan semata agar mereka mau bangun lebih pagi.

Namanya juga anak-anak. Terkadang mereka baru benar-benar percaya jika melihatnya sendiri.

“Jam berapa mereka akan datang?” tanya si sulung lagi.

“Biasanya sih, saat Ayah sudah  mau berangkat kerja.”

Si sulung kemudian mondar-mandir keluar masuk rumah. Sesekali menatap atap, lalu bertanya Kembali. Aku hanya tersenyum melihat kesungguhannya. Namun, hingga matahari mulai meninggi, yang kami tunggu tak kunjung datang. Hingga si sulung mulai menyerah.

Meski ia tidak mengatakan bahwa cerita ibunya mungkin hanya rekaan, aku tahu ia kecewa. Sejujurnya, aku juga. Kemarin aku gagal mengabadikan mereka meskipun sudah berlari secepat mungkin saat mendengar derap langkah mungil kaki mereka menginjak atap seng rumah kami. Hari ini, saat si sulung sangat antusias, justru kawanan tupai itu tidak muncul seekor pun.

“Mungkin saat itu mereka hanya numpang lewat, Kak.” Kataku mencoba menghibur.

“Atau atap rumah kita dijadikan jalan saat mereka mencari tempat tinggal baru. Jadi sekarang mereka sudah menemukan rumah yang lain.”

Si sulung mengangguk pelan. Dan pagi ini kami belajar satu hal. Tidak semua penantian berakhir dengan pertemuan. Kadang yang datang justru sebuah cerita untuk dikenang, tentang beberapa ekor tupai yang pernah membuat atap rumah mungil kami riuh oleh suara lompatan-lompatan kecil mereka.

Antologi ke-12: Bertabur Kasih nan Berliku (Kumpulan Pentigraf)

Bertabur Kasih nan Berliku: Ketika Tiga Paragraf Mampu Menyentuh Hati

 

Sebelum mengenalkan buku ini, saya terlebih dahulu menjelaskan secara singkat apa itu pentigraf. Pentigraf merupakan kependekan dari "cerita tiga paragraf", Yaitu sebuah karya fiksi yang disajikan secara ringkas hanya dalam tiga paragraf. Meski singkat, pentigraf tetap tetap memiliki unsur cerita yang utuh, lengkap dengan konflik dan penyelesaiannya. Justru disitulah letak tantangannya: bagaimana menyampaikan kisah yang bermakna dalam ruang yang terbatas.

Bertabur Kasih nan Berliku merupakan antologi ke-12 dalam perjalanan menulis saya. Buku ini lahir dari event menulis Pentigraf bersama Agung Pribadi yang diselenggarakan oleh SIP Publishing. Sebuah pengalaman yang menarik karena mengajarkan saya untuk merangkai cerita secara padat, namun tetap mampu meninggalkan kesan bagi pembaca. 

Sesuai judulnya, buku ini menghadirkan berbagai kisah kehidupan yang penuh liku. Di dalamnya terdapat 57 cerita karya para penulis dengan beragam tema, mulai dari perjuangan hidup, persahabatan, percintaan, hubungan antara ibu dan anak, hingga berbagai persoalan kemanusiaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Meski setiap cerita hanya terdiri dari tiga paragraf, kisah-kisah di dalam buku ini mampu mengajak pembaca menyelami emosi para tokohnya. Ada cerita yang menghangatkan hati, ada yang memantik haru, ada pula yang mengajak kita merenung tentang makna syukur dan keteguhan tentang makna syukur dan keteguhan dalam menjalani kehidupan. 

Di antara puluhan cerita yang tersaji, saya turut menyumbangkan sebuah pentigraf  berjudul Mbok Minah. Kisah ini menceritakan perjuangan seorang perempuan sederhana yang menyimpan impian besar untuk menjejakkan kaki di Tanah Suci. Bertahun-tahun ia berjuang, menabung, dan memendam harapan. Namun, ketika impian itu akhirnya berada di depan mata, kenyataan yang dihadapi ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan yang dibayangkannya. Sebuah cerita tentang harapan, pengorbanan dan pelajaran bahwa kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan.

Bagi saya, keistimewaan buku ini terletak pada kemampuannya menyampaikan pesan kehidupan melalui cerita-cerita yang singkat namun mengena. Setiap kisah seolah menjadi pengingat bahwa di balik seyiap perjalanan hidup, selalu ada pelajaran yang dapat dipetik.

Bertabur Kasih nan Berliku membuktikan bahwa sebuah cerita tidak harus panjang untuk dapat menyentuh hati. Kadang, hanya dengan tiga paragraf, sebuah kisah mampu meninggalkan jejak yang bertahan lama dalam ingatan pembacanya. 

 

Penulis: Nur’aeni, dkk

Desain sampul & tata letak: Tim Desainer SIP Publishing

Diterbitkan oleh: SIP Publishing (Anggota IKAPI)

Cetakan pertama, April 2022

14x20 cm I x +168 hlm

ISBN 978-623-337-643-3

Refleksi Batin

                                      Refleksi Batin

Oleh: Trias Swasti Arini

Jika kita menghadapi seseorang yang seringkali membicarakan keburukan orang lain kepada kita, niscaya suatu saat orang tersebut juga akan membicarakan kita di hadapan orang lain. Maka siapkanlah mental jika kita tetap berada di lingkungan orang seperti itu.

Jika memang mental kita kuat, bertahanlah!

Jika lelah, tidak apa-apa untuk menyudahi dan berjalan ke tempat yang lebih baik.

Mungkin kita bisa memaklumi kebiasaan itu, sekali atau dua kali. Diam dan tidak mengambil sikap menjadi pembenaran. Tapi, apakah kitab isa tetap sehat di lingkungan yang toxic seperti itu?

Bisa jadi suatu saat tameng iman akan tergerus dan tanpa sadar menyambut ghibahan itu mengatasnamakan khilaf.

Saatnya melihat refleksi batin. Karena ia tahu apa yang baik.

***

Ujian adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya. Melalui masalah yang singgah bisa jadi ia sangat merindukan suara lirih doa dan derai airmata kita di ujung malam yang kita pasrahkan di atas sajadah dan dekapan rakat.

Sambungan telepon dari saudara perempuan tertua suami di tanah Jawa tetiba membawa badai tebal di cerahnya rumah mungil kami. Dan jebol sudah bendungan airmata yang senantiasa tertampung tenang.

Aku sudahi jeritan beserta airmata atas ketidakadilan atau perasaan terluka yang membuat dadaku terasa sakit hingga gelap diikuti sesak yang te5rasa. Disela derai itu aku berseru kepda suamiku agar kami segera pindah dai rumah yang kami tempati. Tak perlu lagi aku mengungkit sumber dari hal yang dipermasalahkan oleh iparku, karena aku hanya berkomunikasi dengan satu orang di keseharianku. Dan dia Adalah Adalah orang terdekat dan masih memiliki hubungan darah dengan suami.

“Aku tidak kuat, Yang!”

“Ayo pindah!”

 “Demi Allah, aku tidak melakukan tuduhan yang dialamatkan kepadaku oleh kakakmu!”

Berulang kali aku mengulang perkataan itu kepada belahan jiwaku Ketika ia menyeka airmataku yang berjatuhan. Kedua matanya memerah dengan genangan air yang hendak jatuh.

“Iya, aku percaya!” berulangkali juga ia mengatakan hal yang sama.

Malam itu juga aku mulai mengemasi barang-barang, walaupun dengan airmata yang tidak berhenti dan rasa sakit yang aku rasakan di dad sebelah kiri. Kalimat-kalimat tuduhan yang tertuju kepadaku tidak mau sirna dan makin membelit hingga aku mengalami kesulitan bernapas. Dalam diam  hati memilih merebahkan raga di pembaringan. Tapi mata tak kunjung terpejam, hingga aku memilih membuka gawai dan meluncur ke dunia maya mencari sebuah kos untuk tempat tinggal baru.       Keesokan harinya, dadaku masih saja merasakan perih. Airmata dengan sendirinya keluar dan hati mulai merasakan ketidaknyamanan disusul dengan keraguan yang muncul. Apakah Keputusan kami untuk pindah adalah jawaban atas permasalahan yang tengah kami alami?

Rasa lelah yang memberatkan raga masih berdenyar, serta bayangan akan besarnya pengeluaran untuk jasa pindah rumah mulai berkelindan. Kandunganku yang memasuki bulan keenam ikut menjadi pertimbangan. Apakah gaji suami kelak akan mencukupi jika kami masih harus mengeluarkan uang untuk membayar uang kos belum lagi tagihan listrik dan air?

Selama ini kami tinggal di rumah mungil yang dibangun di tanah yang kakak iparku sewa, berhadapan dengan rumahnya dan juga masih satu pagar. Mau tak mau pertemuan akan selalu terjadi, belum lagi anakku yang selalu bermain dengan sepupu-sepupunya begitu pula sebaliknya.

Sebagai saudara tentunya berkomunikasi menjadi suatu kewajaran, walaupun selama ini aku lebih banyak mendengarkan alih-alih menceritakan satu dua hal karena dominasi percakapan dipegang oleh kakak Perempuan suamiku.

Seharusnya aku memang lebih bisa mengontrol lisan ini, bicara seperlunya tanpa menceritakan semua yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga kami. Aku harus ingat posisiku yang ‘hanya’ sebagai ipar. Ini Adalah pembelajaran berharga untukku.

Saat ini memang aku lebih memilih untuk memaafkan walaupun tidak untuk melupakan. Memaafkan saja membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk bermuara pada keikhlasan, apalagi untuk melupakan. Aku kir aitu membutuhkan waktu selamanya atau saat amnesia bermukim di kepalaku.

Aku memilih tetap tinggal di rumah ini, namun sangat membatasi interaksi ataupun komunikasi dengan kakak iparku. Aku memang tidak melarang anakku pergi ke rumahnya, bermain dengan sepupu-sepupunya atau dengannya. Tapi, masih sulit denganku untuk bertegur sapa dengannya. Bahkan mendengar suaranya saja hatiku sakit dan dadaku berdebar. Apakah ini sebuah trauma?

Sebisa mungkin aku mengalihkan perhatian, entah memilih tidru atau menyibukkan diri dengan menulis. Ya, writing is healing! Dan khusnudzan menjadi senjata pamungkas. Percaya ini adalh ujian untuk menguatkan Iman dan Takwa. Kita harus percaya kepada rencanaNya. Karena setiap kehendakNya tidakakan membuat hambaNya rugi. Iya, kan!?