Friday, 3 July 2026

Ibumu Ibuku

 

Tanpa ragu sedikit pun, suamiku mengiyakan saat ibuku meminta tolong diantar ke Pasar.

"Nak, kamu ndak malu jika menemani dan memapah Ibu ke Pasar?" tanya ibuku pagi ini.

"Iya, Buk. Kenapa harus malu?"

"Kan menggandeng tangan ibu yang tidak bisa melihat ini," kata Ibuku memastikan kesediaan suamiku lagi.

"Iya, Buk. Santai saja, kan aku juga anaknya Ibu."

"Bener, Yang?" tanyaku memastikan kembali. Ia menjawab dengan mengaca-acak rambut di balik kerudungku.

Hari ketiga kami berada di rumah orang tuaku, suami memang sama sekali tidak canggung dan menganggap ini juga rumahnya. Ia leluasa beraktivitas, mulai dari memasak, memandikan anak-anak, hingga bersenda gurau dengan adik dan keponakan-keponakanku. Tidak sedikit pun kecanggungan kutangkap dari sikapnya.

Aku memperhatikan dari kejauhan suamiku yang dengan telaten memasangkan sandal ke kaki Ibu.

Ibuku memang memiliki keterbatasan pada kedua netranya. Beliau tidak sepenuhnya buta, tetapi masih mampu menangkap sedikit cahaya. Dalam kesehariannya, beliau bahkan masih bisa naik ke lantai dua tanpa bantuan tongkat.

Aku bangga pada suami yang memperlakukan ibuku dengan sangat baik. Begitu pula Ibu yang menyayanginya dan bersyukur lelaki itu menjadi menantunya. Sebab, memang dengan insting beliaulah satu-satunya ridha muncul ketika aku memperkenalkan laki-laki yang ingin menikahiku dulu.

"Yang, terima kasih ya!" kataku sesampainya mereka dari pasar.

"Terima kasih kenapa?"

"Terima kasih sudah memperlakukan ibuku dengan baik."

"Ih, sudah seharusnya, kan? Ibumu adalah ibuku juga." 

Wajahku memerah sesaat setelah mendaratkan kecupan di kening lebarnya.

"Ih, malulah tuh, dilihat anak-anak!" kata suami sambil melepas jaketnya.

Aku tak bergeming saat anak-anak mulai cemburu.

"Huwa... Adek merajuk! Mau jugaaa...!"

Yang Tertinggal

Firasatku benar. Andai saja kami bisa menolak saat seorang ibu memakaikan kami pada kaki mungil bayinya. Aku dan pasanganku sempat berselisih paham tentang hal ini.

"Asyik, akhirnya kita bisa keluar dari kotak plastik ini!" seru pasanganku, sebut saja si kiri.

Sedangkan aku bersikeras bahwa ini masih belum saatnya. Aku merasa kami masih terlalu besar untuk kaki mungil bayi perempuan itu. 

Tak lama setelah sampai di sebuah pusat perbelanjaan hentakan kaki si bayi mengguncang tubuhku hingga terpental. Orang tuanya hanya berfokus pada tangisan mungil yang kian mengeras, tak sadar bahwa aku tak lagi melindungi kaki kanan anaknya.

Kiri terus memanggilku hingga perlahan suaranya menghilang di tengah kerumunan pengunjung mal. Seketika aku merasa asing. Kaki-kaki besar bergantian melewatiku. Hingga sepasang tangan bersarung lateks merah muda memungutku. Aku tak tahu ke mana raga ini dibawa.

Tak lama kemudian aku sudah berada di sebuah lemari. Aku sempat melihat sekeliling. Ternyata aku tidak sendiri. Ada kunci motor yang sesenggukan, botol susu yang mulai mengeluarkan bau, juga payung lipat yang masih menyisakan air hujan di tubuhnya yang mulai mengering.

"Sabar, ya!" kata si topi bertuliskan huruf LV dari lemari sebelahku. 

Entahlah, bisakah aku bersabar hingga pemilikku menyadari ketiadaanku di kaki kanan si mungil? Ataukah aku akan terus mendekam di lemari asing ini? 

Andai saja pemilikku mau sedikit bersabar hingga kaki anaknya benar-benar pas untuk kulindungi. Mungkin aku tidak akan mudah terlempar saat bayi itu menangis kelaparan.

3 S

"Benar nih nggak ada yang mau ikut?" sekali lagi aku memastikan keputusan anak-anak. Hasilnya cukup membuat hati tenang sekaligus bangga. Kedua anakku sudah berani ditinggal dan tidak merengek untuk ikut seperti tahun sebelumnya.

"Syukurlah, berarti mereka sudah nyaman berada di rumah neneknya. Toh ada dua sepupunya yang siap mengajak main." ujar suamiku sambil memanaskan motor milik adikku.

"Ternyata ketakutan kita hanya prasangka, ya!" suamiku menggangguk sembari melemparkan senyuman menenangkan.

Hari kedua di kampung halaman, aku mulai menyelesaikan daftar misi yang sudah jauh hari kubuat. Mulailah aku berburu makanan masa kecil di pasar tradisional dekat rumah. Sesaat memasuki area pasar, semerbak aroma lawas menyapaku.

"Eh, mau kemana?" tanya suamiku ketika langkah kecilku tiba-tiba memanjang.

"Pesan empat ya, Pak. Dua rasa cokelat dan dua lagi cokelat kacang!" seruku pada pria penjual terang bulan mini yang masih setia berjualan di depan pasar. Orangnya masih sama, hanya jejak usianya yang kini terlihat jelas.

Gerobak kecilnya pun masih sama, pelanggannya juga masih membludak. Hingga akhirnya suamiku mengambil inisiatif menunggui pesanan, sedangkan aku masuk ke pasar.

"Cepat, nanti tidak kebagian petisnya!"

Aha, benar saja. Ia juga tidak mau ketinggalan makanan favoritnya yang jarang kami temui di perantauan. Tempe gembos. yang di daerah kami dinamakan menjos, dipadukan dengan petis kupang yang juga hanya kami temui di kampung halaman.

Cukup lama aku berputar-putar di dalam pasar yang sudah banyak mengalami perubahan sejak kali terakhir aku mengunjunginya dua tahun lalu. Aku mengingat-ingat kembali daftar misi yang tertinggal di rumah. Kira-kira makanan atau minuman apa lagi yang ingin kunikmati untuk menuntaskan rindu.

Setelah cukup lama, aku mengantongi banyak bahan masalan dan camilan yang kurindukan. Dengan terengah, aku menuju gerobak di pintu keluar.

"Udah, Yang?"

"Belom. Nggak tahu nih. Perasaan yang antre di depan kita cuma tiga orang, tapi rasanya seperti tiga puluh orang aja!" kata suami.

Aku melihatnya dengan tatapan aneh. Tumben si sabar ini mengeluh begini. Tapi iya sih, aku kagum. Biasanya aku akan menyerah dan menggerutu lebih dulu jika berada di posisi yang sama.

“Nggak apa-apa ya, Yang. Ini makanan favorit masa kecilku. Pengen banget! Sudah berapa tahun aku tidak memakannya,” kataku memelas. Beberapa pasang mata memperhatikan tingkah kami.

“Iya, demi kamu apa sih yang enggak.”

Terdengar sorak, “Cie... cie...” dari orang-orang di sekitar kami. Dan aku bersyukur, mendapat suami dengan tiga S: setia, sabar, dan sayang.