Jika sebagian ibu, menyetrika adalah pekerjaan rumah yang melelahkan, bagiku justru sebaliknya. Saat berdiri di depan meja setrika, anak-anak akan berada di luar radius dan untuk beberapa saat aku bisa benar-benar fokus pada diriku sendiri. Tentu saja, sambil bernyanyi.
Awalnya, bernyanyi hanya untuk mengusir kantuk yang selalu datang saat menyetrika. Entah mengapa, rasa kantuk itu begitu bandel muncul di depan setrikaan. Namun ternyata, musik mampu mengembalikan semangat, dan bernyanyi menjadi cara sederhana untuk melepaskan segala penat.
Saat memulai, aku selalu meminta izin kepada suami.
"Maaf ya, Yang. Kalian akan mendengar suara sumbang dariku. Enggak apa-apa ya?"
Suami dan kedua anakku hanya mengangguk, lalu kembali ke kesibukan masing-masing. Di tengah tumpukan pakaian yang mulai berkurang, si bungsu tiba-tiba datang menghampiri.
"Buk, itu lagu apa sih? Lagu sayang, ya?" tanyanya polos.
Aku tertawa kecil. Biasanya ia tak pernah bertanya saat aku menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Namun kali ini berbesa. Lagu berbhasa Inggris yang belum ia mengerti rupanya membuatnya penasaran.
"Ini lagu bahasa Inggris, Nak." jawabku sambil tersenyum.
Ia mengangguk, lalu berlari riang menghampiri ayahnya. Entah bagaimana caranya ia menyimpulkan bahwa lagu yang kunyanyikan adala 'lagu sayang'.
Mungkin benar. Karena bagi seorang anak, apapun lagu yang keluar dari mulut ibunya, selama dinyanyikan dengan penuh cinta akan selalu terdengar sebagai lagu sayang.
.png)
.png)
.png)