Tuesday, 16 June 2026

Saat Marah


Aku melihat pantulan diriku pada si bungsu yang baru berusia empat tahun. Bukan pada cerewetnya, bukan pula pada celotehnya yang tiada henti, melainkan saat ia marah. Apakah semua perempuan ketika marah memang seperti itu? Ataukah si kecil yang belum mampu meregulasi emosinya hanya meniru apa yang selama ini ia lihat?

Aku memang bukan seorang ibu yang sempurna. Masih banyak cela dan khilaf, terutama saat emosi datang atau ketika gelombang hormon mulai tidak bersahabat pada tanggal-tanggal tertentu setiap bulannya. Namun setiap kali semuanya mereda, penyesalan selalu datang lebih dulu. "Kok bisa hanya karena kesalahan kecil emosiku memuncak seperti itu?" Aku terus mencari jawaban yang tak kunjung mampu menenangkan hati.

Terlebih ketika melihat si kecil melakukan hal yang sama persis seperti yang pernah kulakukan. Tangan mungilnya mengepal lalu memukul udara. Sesekali ia berusaha memukul kepalanya sendiri saat keinginannya tidak dipenuhi. Untungnya tanganku selalu lebih cepat menahan gerakannya agar ia tidak melukai dirinya.

Saat itu aku sadar. Anak-anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka juga menyimpan apa yang kita lakukan. Dan mungkin, tanpa sengaja, aku pernah memberikan contoh yang tidak baik. Kini aku hanya bisa berusaha memperbaikinya.

Suatu pagi, si bungsu mulai tantrum karena aku tidak mengizinkannya makan lolipop.

"Dek, kalau marah bilang apa?" tanyaku sambil mencoba menenangkannya.

"Enggak tahu!" jawabnya dengan dada yang naik turun menahan emosi.

"Dek, Ibuk hitung mulai satu ya. Ucapkan apa?"

"Enggak tahu!" Ia masih melipat kedua tangannya di dada.

"Satu... dua..." Jemariku mulai terbuka satu per satu. Belum juga terdengar kalimat yang selama ini kami latih bersama.

"Dek..." Dengan wajah yang masih cemberut, akhirnya ia berkata,

"Astaghfirullahalazim..." Masih dengan nada marah.

"Lagi. Ulang sepuluh kali." Ia mengulanginya, kali ini dengan suara yang perlahan menurun.

"Kalau masih marah saat mengucapkannya, tambah dua puluh kali ya." Pelan-pelan oktaf suaranya melemah. Tangisnya mereda. Tubuh kecil itu akhirnya bersandar di pelukanku. Aku mengusap punggungnya perlahan.

"Dek, ingat ya. Kalau marah, ucapkan Astaghfirullah, letakkan tangan di dada, lalu pejamkan mata." Ia hanya mengangguk pelan. Dan tanpa kusadari, lolipop yang sejak tadi diperjuangkannya sudah terlupakan begitu saja.

Semoga langkah kecil ini bisa menjadi cara baginya untuk mengenali dan meregulasi emosinya. Dan semoga, menjadi pengingat untukku juga. Bahwa anak-anak bukan hanya belajar dari nasihat yang kita ucapkan, tetapi dari setiap emosi yang kita tunjukkan. Maka sebelum mengajari mereka cara menenangkan diri, mungkin akulah yang lebih dulu harus belajar melakukannya.

No comments: