Tuesday, 16 June 2026

Menghitung Hari

 

"Buk, sekrang tanggal berapa?"

Si Sulung berdiri di depan kalender yang menempel di ruang depan.

"Tujuh belas, Nak."

"Juni, ya?" tanyanya lagi.

"Iya."

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya beberapa hari terakhir. Sejak lancar membaca dan mulai memahami kalender, ia begitu rajin menghitung hari.

Hari yang spesial baginya. Dan tentu bagiku. Bagi kami sekeluarga.

"Kakak enggak sabar, ya?" selidikku.

"Iya. Aku mau main sama Mbah." Jawabnya begitu polos hingga membuatku tersenyum.

Ternyata bukan hanya orang dewasa yang merindukan kampung halaman. Anak-anak pun punya rindu yang sama.

Meski hanya dipisahkan selat Bali, kami hanya bisa pulang sekitar sepuluh hari dalam setahun. Selain alasana akomodasi menyesuaikan libur sekolah dan cuti kantor bukan hal yang mudah.

"Buk, baju ini dibawa ya!" Si Bungsu mulai sibuk memilih pakaian yang ingin dimasukkan kedalam koper. Kini ia pun mulai memahami arti mudik, lengkap dengan semangat membawa hampir semua baju favoritnya.

"Kurang berapa hari lagi, Buk?" tanyanya.

"Ih, Adik. Kan Ibuk sudah bilang dua minggu lagi. Sekarang hari Rabu, berarti tinggal seminggu lagi" sahut si sulung dengan percaya diri.

Aku hanya tertawa. Ia memang sudah pandai membaca kalender, tetapi masih sering tertukar anatar satu minggu dan dua minggu.

"Sabar!" kata suami ikut menimpali.

Begitulah suasana di rumah kecil kami menjelang mudik. Belum ada tiket yang dicetak. Nelum ada perjalanan yang dimulai. Namun hati kami sudah lebih dulu berangkat. menghitung hari demi hari untuk melepas rindu dengan orang yang tersayang di kampung halaman.

Dan di ujung sana, aku yakin ada seorang nenek yang juga sedang melakukan hal yang sama. Menghapus satu tanggal di kalender sambil menunggu pintu rumahnya kembali diketuk oleh cucu-cucu yang paling dirindukannya. Karena ternyata, mudik bukan hanya soal perjalanan menuju kampung halaman.Melainkan tentang orang-orang yang sama-sama menghitung hari untuk saling melepas rindu.

No comments: