Ada yang berbeda pagi ini. Suara berisik terdengar dari atap rumah mungil kami yang terbuat dari seng. Suara itu terdengar familiar, tetapi kali ini terasa berbeda.
"Suara apa ya, Yang?" tanyaku kepada suami yang sedang bersiap berangkat bekerja.
"Paling juga suara kucing atau angin yang menampar lembaran seng kita." jawabnya tenang.
"Kucing mah paling cuma sekali, itu pun biasanya di atas ruang depan. Kalau angin juga sepertinya bukan deh!"
Aku menatap dedaunan di luar jendela. Ranting pohon mangga itu diam. Tidak bergerak sedikit pun.
Gludak! Suara itu kembali terdengar. Aku melirik anak-anak yang masih terlelap, khawatir mereka akan terbangun.
Gludak! Suara itu datang lagi.
"Jangan-jangan orang dari kos sebelah!" kataku mengikuti suara hati yang membisiki.
Bukan tanpa alasan aku mengatakannya mengingat beberapa kali kami sempat dibuat kesal oleh perilaku mereka. Mulai dengan sang pemilik yang mengajukan ijin membangun tanah kosong untuk kos, mereka menunjukkan denah yang memperlihatkan balkon lantai dua tidak menghadap ke halaman rumah kami, dan pada akhirnya justru dari balkon lantai dua kos, mereka memiliki akses pemandangan di halaman rumah kami. Musik yang diputar terlalu keras, air cucian yang merembes ke genteng kami, hingga sampah yang pernah menggunung di atas atap dan menyebabkan kebocoran.
Semua kenangan itu membuatku begitu mudah menyimpulkan siapa pelaku keributan pagi ini. Dan saat aku keluar rumah untuk memastikannya, aku menemukan siapa pelakunya.
Seekor tupai dengan badan cukup besar sedang merangkak lincah di atas tali yang membentang antara kebun mini dan dinding rumah kami. Tak lama kemudia, beberapa tupai lainnya ikut menyusul. Mereka menjadikan tali rambatan tanaman sebagai jalan pintas sebelum melompat ke atap rumah, lalu berlarian menuju pohon mangga yang menaungi rumah kami.
Aku hanya terpaku.
Astaghfirullah. Bisa-bisanya aku sudah lebih dulu berprasangka kepada penghuni kos sebelah. Suamiku tertawa pelan sambil menjewer telingaku dengan gemas.
"Makanya, investigasi dulu untuk menemukan tersangkanya bukan asal nuduh!"
Kami akhirnya tertawa Bersama. Ternyata, suara yang paling berisik bukan berasal dari atap rumah. Melainkan prasangka yang terlalu cepat memenuhi kepala. Dan pagi ini, beberapa ekor tupai mengajarkanku untuk memeriksa kenyataan sebelum sibuk Menyusun tuduhan. Sebuah pelajaran sederhana yang datang sambil berlari-lari di atas seng rumah kami.
.png)
No comments:
Post a Comment