Showing posts with label #30DJ9. Show all posts
Showing posts with label #30DJ9. Show all posts

Sunday, 5 July 2026

Kalap

"Ingat, kalau melihat Tante, kalian kasih kejutan ya!" komandoku pada kedua buah hatiku sesaat sebelum memasuki mal terbesar di kota kelahiranku.

Mal itu sudah ada cukup lama. Hanya saja, aku belum pernah memiliki kesempatan mengunjunginya saat mudik. Kali ini kami sengaja datang karena kakak perempuanku dipindahtugaskan ke gerai kosmetik di sana. Namun, kejutan kami gagal saat seorang perempuan berseragam hijau menghampiri kami yang masih mengedarkan pandangan ke setiap sudut pusat perbelanjaan.

"Yah, kita ketahuan, Buk!" kata si sulung. Kakakku hanya tertawa mengetahui rencana kami gagal.

Setelah menyapa dan melihat tempat kerja barunya, kami memilih menyusuri setiap lorong di pusat perbelanjaan itu. Seperti biasa, anak-anak menyerbu rak makanan, sedangkan aku memilih beberapa produk yang dipasarkan oleh kakakku.

Tak lama kemudian, anak-anak kembali dengan berbagai camilan yang jarang kami temui di perantauan. Liurku seakan ikut menetes. Dalam sekejap, aku sudah berada di area cemilan.

"Ingat, kita beli yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan." nasihat suamiku yang melihatku asyik memilih benda-benda yang kuanggap imut.

"Lantai atas ada apa, Kak?" tanyaku.

"Pakaian."

"Wah, aku ke atas dulu ya, Yang." ujarku.

Suami dan kakakku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku.

"Bahaya, nih!" gumam suami sembari menenteng belanjaan dari supermarket.

"Aku tunggu disini ya."

"Aku dan anak-anak mulai berkeliling. Si bungsu mengambil sebuah celengan berbentuk karakter favoritnya, Melody. Kakaknya masih menimbang-nimbang pilihannya. 

Berselang satu jam, aku melihat suamiku sedang berjongkok di dekat penitipan barang. Wajahnya tampak tertekuk saat melihat beberapa kantong plastik yang kubawa. Aku hanya tertawa kecil sambil menyatukan kedua telapak tangan tanda minta maaf. Ia memeriksa barang-barang yang kubeli.

"Mana sepreinya?"

"Enggak jadi beli. Mahal sih. Aku beli online aja ya," kataku sambil menahan tawa.

Suami mulai mencibir gemas. Padahal kami pamit kepada ibu hendak membeli seprei, tetapi yang kubawa pulang justru beberapa helai baju, empat handuk, mainan anak, ATK, dan camilan. Siap-siap aku akan mendengar petuah sesampainya di rumah.

Namun, hati kecilku tetap bersyukur tanpa sedikitpun penyesalan. Toh, aku sudah menyiapkan pembelaan. "Mumpung harga disini jauh lebih murah daripada di Denpasar."

"Iya-iya. Siap-siap deh. Kita datang bawa satu koper, nanti pulangnya jadi empat koper." canda suamiku saat mendengar alasanku untuk membela diri dari petuah yang akan kuterima di rumah nanti. 

Friday, 3 July 2026

Ibumu Ibuku

 

Tanpa ragu sedikit pun, suamiku mengiyakan saat ibuku meminta tolong diantar ke Pasar.

"Nak, kamu ndak malu jika menemani dan memapah Ibu ke Pasar?" tanya ibuku pagi ini.

"Iya, Buk. Kenapa harus malu?"

"Kan menggandeng tangan ibu yang tidak bisa melihat ini," kata Ibuku memastikan kesediaan suamiku lagi.

"Iya, Buk. Santai saja, kan aku juga anaknya Ibu."

"Bener, Yang?" tanyaku memastikan kembali. Ia menjawab dengan mengaca-acak rambut di balik kerudungku.

Hari ketiga kami berada di rumah orang tuaku, suami memang sama sekali tidak canggung dan menganggap ini juga rumahnya. Ia leluasa beraktivitas, mulai dari memasak, memandikan anak-anak, hingga bersenda gurau dengan adik dan keponakan-keponakanku. Tidak sedikit pun kecanggungan kutangkap dari sikapnya.

Aku memperhatikan dari kejauhan suamiku yang dengan telaten memasangkan sandal ke kaki Ibu.

Ibuku memang memiliki keterbatasan pada kedua netranya. Beliau tidak sepenuhnya buta, tetapi masih mampu menangkap sedikit cahaya. Dalam kesehariannya, beliau bahkan masih bisa naik ke lantai dua tanpa bantuan tongkat.

Aku bangga pada suami yang memperlakukan ibuku dengan sangat baik. Begitu pula Ibu yang menyayanginya dan bersyukur lelaki itu menjadi menantunya. Sebab, memang dengan insting beliaulah satu-satunya ridha muncul ketika aku memperkenalkan laki-laki yang ingin menikahiku dulu.

"Yang, terima kasih ya!" kataku sesampainya mereka dari pasar.

"Terima kasih kenapa?"

"Terima kasih sudah memperlakukan ibuku dengan baik."

"Ih, sudah seharusnya, kan? Ibumu adalah ibuku juga." 

Wajahku memerah sesaat setelah mendaratkan kecupan di kening lebarnya.

"Ih, malulah tuh, dilihat anak-anak!" kata suami sambil melepas jaketnya.

Aku tak bergeming saat anak-anak mulai cemburu.

"Huwa... Adek merajuk! Mau jugaaa...!"

3 S

"Benar nih nggak ada yang mau ikut?" sekali lagi aku memastikan keputusan anak-anak. Hasilnya cukup membuat hati tenang sekaligus bangga. Kedua anakku sudah berani ditinggal dan tidak merengek untuk ikut seperti tahun sebelumnya.

"Syukurlah, berarti mereka sudah nyaman berada di rumah neneknya. Toh ada dua sepupunya yang siap mengajak main." ujar suamiku sambil memanaskan motor milik adikku.

"Ternyata ketakutan kita hanya prasangka, ya!" suamiku menggangguk sembari melemparkan senyuman menenangkan.

Hari kedua di kampung halaman, aku mulai menyelesaikan daftar misi yang sudah jauh hari kubuat. Mulailah aku berburu makanan masa kecil di pasar tradisional dekat rumah. Sesaat memasuki area pasar, semerbak aroma lawas menyapaku.

"Eh, mau kemana?" tanya suamiku ketika langkah kecilku tiba-tiba memanjang.

"Pesan empat ya, Pak. Dua rasa cokelat dan dua lagi cokelat kacang!" seruku pada pria penjual terang bulan mini yang masih setia berjualan di depan pasar. Orangnya masih sama, hanya jejak usianya yang kini terlihat jelas.

Gerobak kecilnya pun masih sama, pelanggannya juga masih membludak. Hingga akhirnya suamiku mengambil inisiatif menunggui pesanan, sedangkan aku masuk ke pasar.

"Cepat, nanti tidak kebagian petisnya!"

Aha, benar saja. Ia juga tidak mau ketinggalan makanan favoritnya yang jarang kami temui di perantauan. Tempe gembos. yang di daerah kami dinamakan menjos, dipadukan dengan petis kupang yang juga hanya kami temui di kampung halaman.

Cukup lama aku berputar-putar di dalam pasar yang sudah banyak mengalami perubahan sejak kali terakhir aku mengunjunginya dua tahun lalu. Aku mengingat-ingat kembali daftar misi yang tertinggal di rumah. Kira-kira makanan atau minuman apa lagi yang ingin kunikmati untuk menuntaskan rindu.

Setelah cukup lama, aku mengantongi banyak bahan masalan dan camilan yang kurindukan. Dengan terengah, aku menuju gerobak di pintu keluar.

"Udah, Yang?"

"Belom. Nggak tahu nih. Perasaan yang antre di depan kita cuma tiga orang, tapi rasanya seperti tiga puluh orang aja!" kata suami.

Aku melihatnya dengan tatapan aneh. Tumben si sabar ini mengeluh begini. Tapi iya sih, aku kagum. Biasanya aku akan menyerah dan menggerutu lebih dulu jika berada di posisi yang sama.

“Nggak apa-apa ya, Yang. Ini makanan favorit masa kecilku. Pengen banget! Sudah berapa tahun aku tidak memakannya,” kataku memelas. Beberapa pasang mata memperhatikan tingkah kami.

“Iya, demi kamu apa sih yang enggak.”

Terdengar sorak, “Cie... cie...” dari orang-orang di sekitar kami. Dan aku bersyukur, mendapat suami dengan tiga S: setia, sabar, dan sayang.


Teriakan & Ombak

Beberapa menit setelah keluar dari pelabuhan Ketapang Banyuwangi, bus yang kami tumpangi berhenti di sebuah rumah makan untuk sajian makan malam.

"Yang, di sebelah sana saja!" kata suamiku dengan menunjuk meja kosong paling belakang. "sambil menikmati suara deburan ombak dan deru angin pantai," imbuhnya.

Aku hanya mengiyakan, meskipun di dalam hati menggerutu. Mana ada pemandangan pantai malam hari? Yang ada hanyalah butiran kilau dari lampu-lampu di kejauhan. Setelah suami datang membawa dua piring makanan, si bungsu yang dari tadi terlihat gelisah mulai berteriak ketakutan.

"Takuuutt... Di sini berisik!" ujarnya sambil menutup kedua telinganya.

"Tidak apa-apa, Dek!" bujuk si sulung.

Namun, si kecil makin histeris ketika mendengar suara dari toa rumah makan yang memberi kabar kepada penumpang jurusan lain agar segera kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan. Belum juga sesuap nasi menjelajah saluran makan, kami harus mencari tempat yang cukup jauh dari bibir pantai. Namun, tetap saja teriakan si kecil menggema, menyaingi suara toa yang terus mengulang pemberitahuan.

Baik di rumah maupun di perjalanan, sensitivitas pendengaran putri kami selalu terjaga. Perilaku yang menurun dariku itu sering kali membuat kami harus memutar otak mencari jalan lain untuk menenangkannya. Dan sialnya, malam itu kami lupa membawa headphone kelincinya untuk meredam telinga si bungsu dari kebisingan.

"Ayah. cepat maknnya!!! Di sini berisik!! Adek takuutt!!" berulang kali dia mengatakan hal yang sama dengan oktaf yang semakin naik.

Suamiku yang selalu memiliki raut tenang tetap menikmati sajian di hadapannya. Sedangkan aku, sang ibu yang mudah panik mulai terseret oleh kegelisahan.

"Ayolah, Yang. Kasihan anaknya!"

Namun, beliau tetap saja tenang sampai piring berkilau kembali tanpa sisa remahan lauk maupun nasi.

Aku yang selalu menganggap suara deburan ombak sebagai sesuatu yang menghadirkan nuansa romantis, ditambah tiupan angin pantai yang mampu membius sukma, kini memiliki penilaian lain. 

Malam itu, ombak tidak lagi menyanyikan lagu cinta. Ia menjadi gema ketakutan seorang gadis kecil.

Segenggam Tanah

Hari yang ditunggu anak-anak akhirnya tiba. Aku tidak lagi mendengar pertanyaan mereka tentang tanggal berapa sekarang atau kapan kami akan berangkat ke rumah Neneknya. Pakaian sudah rapi di dalam koper, buah tangan berupa pie susu sudah dibeli dan tiket pun telah lunas terbayar.

Sudah satu tahun lebih kami tidak melakukan perjalanan panjang. Semoga saja kali ini anak-anak aman dan terkendali, terutama si bungsu yang kali terakhir naik bus mengalami mabuk darat. Namun, kurasa InsyaAllah kali ini akan lebih mudah karena ia akan mendapat kursinya sendiri dan tidak dipangku lagi.

Aku yang juga mudah mual dan pusing saat perjalanan sudah mempersiapkan diri. Beberapa obat dan life hack pun sudah dipersiapkan. Semoga aku dan suami juga baik-baik saja. Meskipun sempat risau karena kemarin sedang purnama, yang membuat ombak di Selat Bali cukup membuat waswas.

 “Semoga ombaknya tenang, ya!” kataku pada suami.

 “Semoga saja. Kalau ombaknya besar lagi, bisa-bisa aku muntah lagi. Haha.”

 Suamiku tertawa mengingat ia yang biasanya menjadi penopang justru ambruk karena guncangan kapal.

 Tiba-tiba saja aku teringat sebuah nasihat dari saudara Iparku. “Jangan lupa bawa segenggam tanah untuk jaga-jaga!” katanya.

Konon, anak-anak yang menginap di tempat baru dan jauh dari rumah sering sakit atau sulit menyesuaikan diri. Solusinya, menurut sebagian orang, adalah membawa segenggam tanah dari rumah tempat tinggal kami.

Aku masih menimbang-nimbang. Apakah hal tersebut perlu aku lakukan? Apakah hal demikian diperbolehkan dalam Islam atau hanya sebatas mitos?