Friday, 3 July 2026

3 S

"Benar nih nggak ada yang mau ikut?" sekali lagi aku memastikan keputusan anak-anak. Hasilnya cukup membuat hati tenang sekaligus bangga. Kedua anakku sudah berani ditinggal dan tidak merengek untuk ikut seperti tahun sebelumnya.

"Syukurlah, berarti mereka sudah nyaman berada di rumah neneknya. Toh ada dua sepupunya yang siap mengajak main." ujar suamiku sambil memanaskan motor milik adikku.

"Ternyata ketakutan kita hanya prasangka, ya!" suamiku menggangguk sembari melemparkan senyuman menenangkan.

Hari kedua di kampung halaman, aku mulai menyelesaikan daftar misi yang sudah jauh hari kubuat. Mulailah aku berburu makanan masa kecil di pasar tradisional dekat rumah. Sesaat memasuki area pasar, semerbak aroma lawas menyapaku.

"Eh, mau kemana?" tanya suamiku ketika langkah kecilku tiba-tiba memanjang.

"Pesan empat ya, Pak. Dua rasa cokelat dan dua lagi cokelat kacang!" seruku pada pria penjual terang bulan mini yang masih setia berjualan di depan pasar. Orangnya masih sama, hanya jejak usianya yang kini terlihat jelas.

Gerobak kecilnya pun masih sama, pelanggannya juga masih membludak. Hingga akhirnya suamiku mengambil inisiatif menunggui pesanan, sedangkan aku masuk ke pasar.

"Cepat, nanti tidak kebagian petisnya!"

Aha, benar saja. Ia juga tidak mau ketinggalan makanan favoritnya yang jarang kami temui di perantauan. Tempe gembos. yang di daerah kami dinamakan menjos, dipadukan dengan petis kupang yang juga hanya kami temui di kampung halaman.

Cukup lama aku berputar-putar di dalam pasar yang sudah banyak mengalami perubahan sejak kali terakhir aku mengunjunginya dua tahun lalu. Aku mengingat-ingat kembali daftar misi yang tertinggal di rumah. Kira-kira makanan atau minuman apa lagi yang ingin kunikmati untuk menuntaskan rindu.

Setelah cukup lama, aku mengantongi banyak bahan masalan dan camilan yang kurindukan. Dengan terengah, aku menuju gerobak di pintu keluar.

"Udah, Yang?"

"Belom. Nggak tahu nih. Perasaan yang antre di depan kita cuma tiga orang, tapi rasanya seperti tiga puluh orang aja!" kata suami.

Aku melihatnya dengan tatapan aneh. Tumben si sabar ini mengeluh begini. Tapi iya sih, aku kagum. Biasanya aku akan menyerah dan menggerutu lebih dulu jika berada di posisi yang sama.

“Nggak apa-apa ya, Yang. Ini makanan favorit masa kecilku. Pengen banget! Sudah berapa tahun aku tidak memakannya,” kataku memelas. Beberapa pasang mata memperhatikan tingkah kami.

“Iya, demi kamu apa sih yang enggak.”

Terdengar sorak, “Cie... cie...” dari orang-orang di sekitar kami. Dan aku bersyukur, mendapat suami dengan tiga S: setia, sabar, dan sayang.


No comments: