Friday, 3 July 2026

Salah Alamat

Menjelang malam aku mulai bersiap menjelma menjadi makhluk yang paling ditakuti para ibu yang baru melahirkan. Tubuhku terasa ringan, lalu aku mulai menyusuri permukiman warga di kampung sebelah. Siang tadi aku mendapat informasi ada yang baru melahirkan anak kembar. Ah, liurku tak bisa kutahan lagi. Dengan kecepatan penuh aku melayang membidik sebuah rumah.. Gas Pol!!!

Wah, benar saja. Rumah itu terlihat ramai dijaga oleh beberapa orang satpam. Eh, kok satpam? Apakah yang melahirkan adalah orang penting?

Tak butuh waktu lama. akhirnya aku menemukan sebuah celah untuk masuk ke dalam. Pertandingan bola dunia membuat lengah para pria bertubuh kekar, berwajah sangar itu.

Aneh, kenapa tidak ada bau bayi di rumah ini? Yang ada hanya bau anyir darah bercampur dengan aroma yang sering kutemui di rumah sakit. Tapi aku tak gentar dan mulai menjelajahi setiap sudut rumah. Aku terpaku pada sebuah ruangan yang dipenuhi aroma anyir cairan merah.

Saat aku masuk, beberapa pasang mata menatapku dingin. Aneh, tak ada teriakan atau jerit ketakutan seperti orang-orang yang sering mengejarku. Seringai mereka justru membuatku takut.

"Sepertinya kita tidak membutuhkan pisau bedah hari ini!" kata seorang pria yang mengenakan pakaian plastik bening itu.

Tiba-tiba sebuah jaring menangkapku. Sesaat kemudian aku sudah berbaring di atas meja yang dingin, sementara tangan-tangan berbalut sarung lateks mulai mencabik badanku.

No comments: