Beberapa menit setelah keluar dari pelabuhan Ketapang Banyuwangi, bus yang kami tumpangi berhenti di sebuah rumah makan untuk sajian makan malam.
"Yang, di sebelah sana saja!" kata suamiku dengan menunjuk meja kosong paling belakang. "sambil menikmati suara deburan ombak dan deru angin pantai," imbuhnya.
Aku hanya mengiyakan, meskipun di dalam hati menggerutu. Mana ada pemandangan pantai malam hari? Yang ada hanyalah butiran kilau dari lampu-lampu di kejauhan. Setelah suami datang membawa dua piring makanan, si bungsu yang dari tadi terlihat gelisah mulai berteriak ketakutan.
"Takuuutt... Di sini berisik!" ujarnya sambil menutup kedua telinganya.
"Tidak apa-apa, Dek!" bujuk si sulung.
Namun, si kecil makin histeris ketika mendengar suara dari toa rumah makan yang memberi kabar kepada penumpang jurusan lain agar segera kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan. Belum juga sesuap nasi menjelajah saluran makan, kami harus mencari tempat yang cukup jauh dari bibir pantai. Namun, tetap saja teriakan si kecil menggema, menyaingi suara toa yang terus mengulang pemberitahuan.
Baik di rumah maupun di perjalanan, sensitivitas pendengaran putri kami selalu terjaga. Perilaku yang menurun dariku itu sering kali membuat kami harus memutar otak mencari jalan lain untuk menenangkannya. Dan sialnya, malam itu kami lupa membawa headphone kelincinya untuk meredam telinga si bungsu dari kebisingan.
"Ayah. cepat maknnya!!! Di sini berisik!! Adek takuutt!!" berulang kali dia mengatakan hal yang sama dengan oktaf yang semakin naik.
Suamiku yang selalu memiliki raut tenang tetap menikmati sajian di hadapannya. Sedangkan aku, sang ibu yang mudah panik mulai terseret oleh kegelisahan.
"Ayolah, Yang. Kasihan anaknya!"
Namun, beliau tetap saja tenang sampai piring berkilau kembali tanpa sisa remahan lauk maupun nasi.
Aku yang selalu menganggap suara deburan ombak sebagai sesuatu yang menghadirkan nuansa romantis, ditambah tiupan angin pantai yang mampu membius sukma, kini memiliki penilaian lain.
Malam itu, ombak tidak lagi menyanyikan lagu cinta. Ia menjadi gema ketakutan seorang gadis kecil.
.png)
No comments:
Post a Comment