Firasatku benar. Andai saja kami bisa menolak saat seorang ibu memakaikan kami pada kaki mungil bayinya. Aku dan pasanganku sempat berselisih paham tentang hal ini.
"Asyik, akhirnya kita bisa keluar dari kotak plastik ini!" seru pasanganku, sebut saja si kiri.
Sedangkan aku bersikeras bahwa ini masih belum saatnya. Aku merasa kami masih terlalu besar untuk kaki mungil bayi perempuan itu.
Tak lama setelah sampai di sebuah pusat perbelanjaan hentakan kaki si bayi mengguncang tubuhku hingga terpental. Orang tuanya hanya berfokus pada tangisan mungil yang kian mengeras, tak sadar bahwa aku tak lagi melindungi kaki kanan anaknya.
Kiri terus memanggilku hingga perlahan suaranya menghilang di tengah kerumunan pengunjung mal. Seketika aku merasa asing. Kaki-kaki besar bergantian melewatiku. Hingga sepasang tangan bersarung lateks merah muda memungutku. Aku tak tahu ke mana raga ini dibawa.
Tak lama kemudian aku sudah berada di sebuah lemari. Aku sempat melihat sekeliling. Ternyata aku tidak sendiri. Ada kunci motor yang sesenggukan, botol susu yang mulai mengeluarkan bau, juga payung lipat yang masih menyisakan air hujan di tubuhnya yang mulai mengering.
"Sabar, ya!" kata si topi bertuliskan huruf LV dari lemari sebelahku.
Entahlah, bisakah aku bersabar hingga pemilikku menyadari ketiadaanku di kaki kanan si mungil? Ataukah aku akan terus mendekam di lemari asing ini?
Andai saja pemilikku mau sedikit bersabar hingga kaki anaknya benar-benar pas untuk kulindungi. Mungkin aku tidak akan mudah terlempar saat bayi itu menangis kelaparan.
.png)
No comments:
Post a Comment