Tanpa ragu sedikit pun, suamiku mengiyakan saat ibuku meminta tolong diantar ke Pasar.
"Nak, kamu ndak malu jika menemani dan memapah Ibu ke Pasar?" tanya ibuku pagi ini.
"Iya, Buk. Kenapa harus malu?"
"Kan menggandeng tangan ibu yang tidak bisa melihat ini," kata Ibuku memastikan kesediaan suamiku lagi.
"Iya, Buk. Santai saja, kan aku juga anaknya Ibu."
"Bener, Yang?" tanyaku memastikan kembali. Ia menjawab dengan mengaca-acak rambut di balik kerudungku.
Hari ketiga kami berada di rumah orang tuaku, suami memang sama sekali tidak canggung dan menganggap ini juga rumahnya. Ia leluasa beraktivitas, mulai dari memasak, memandikan anak-anak, hingga bersenda gurau dengan adik dan keponakan-keponakanku. Tidak sedikit pun kecanggungan kutangkap dari sikapnya.
Aku memperhatikan dari kejauhan suamiku yang dengan telaten memasangkan sandal ke kaki Ibu.
Ibuku memang memiliki keterbatasan pada kedua netranya. Beliau tidak sepenuhnya buta, tetapi masih mampu menangkap sedikit cahaya. Dalam kesehariannya, beliau bahkan masih bisa naik ke lantai dua tanpa bantuan tongkat.
Aku bangga pada suami yang memperlakukan ibuku dengan sangat baik. Begitu pula Ibu yang menyayanginya dan bersyukur lelaki itu menjadi menantunya. Sebab, memang dengan insting beliaulah satu-satunya ridha muncul ketika aku memperkenalkan laki-laki yang ingin menikahiku dulu.
"Yang, terima kasih ya!" kataku sesampainya mereka dari pasar.
"Terima kasih kenapa?"
"Terima kasih sudah memperlakukan ibuku dengan baik."
"Ih, sudah seharusnya, kan? Ibumu adalah ibuku juga."
Wajahku memerah sesaat setelah mendaratkan kecupan di kening lebarnya.
"Ih, malulah tuh, dilihat anak-anak!" kata suami sambil melepas jaketnya.
Aku tak bergeming saat anak-anak mulai cemburu.
"Huwa... Adek merajuk! Mau jugaaa...!"
.png)
No comments:
Post a Comment