Friday, 3 July 2026

Segenggam Tanah

Hari yang ditunggu anak-anak akhirnya tiba. Aku tidak lagi mendengar pertanyaan mereka tentang tanggal berapa sekarang atau kapan kami akan berangkat ke rumah Neneknya. Pakaian sudah rapi di dalam koper, buah tangan berupa pie susu sudah dibeli dan tiket pun telah lunas terbayar.

Sudah satu tahun lebih kami tidak melakukan perjalanan panjang. Semoga saja kali ini anak-anak aman dan terkendali, terutama si bungsu yang kali terakhir naik bus mengalami mabuk darat. Namun, kurasa InsyaAllah kali ini akan lebih mudah karena ia akan mendapat kursinya sendiri dan tidak dipangku lagi.

Aku yang juga mudah mual dan pusing saat perjalanan sudah mempersiapkan diri. Beberapa obat dan life hack pun sudah dipersiapkan. Semoga aku dan suami juga baik-baik saja. Meskipun sempat risau karena kemarin sedang purnama, yang membuat ombak di Selat Bali cukup membuat waswas.

 “Semoga ombaknya tenang, ya!” kataku pada suami.

 “Semoga saja. Kalau ombaknya besar lagi, bisa-bisa aku muntah lagi. Haha.”

 Suamiku tertawa mengingat ia yang biasanya menjadi penopang justru ambruk karena guncangan kapal.

 Tiba-tiba saja aku teringat sebuah nasihat dari saudara Iparku. “Jangan lupa bawa segenggam tanah untuk jaga-jaga!” katanya.

Konon, anak-anak yang menginap di tempat baru dan jauh dari rumah sering sakit atau sulit menyesuaikan diri. Solusinya, menurut sebagian orang, adalah membawa segenggam tanah dari rumah tempat tinggal kami.

Aku masih menimbang-nimbang. Apakah hal tersebut perlu aku lakukan? Apakah hal demikian diperbolehkan dalam Islam atau hanya sebatas mitos?

No comments: