Lipatan Kertas
Aku lupa
kapan terakhir kali lipatanku terbuka dan dibaca oleh lelaki itu. Dulu,
hampir setiap hari ia meluangkan waktu membaca setiap deret kata yang
tertulis di tubuhku. Tulisan itu memang tidak rapi, bahkan dibuat dengan pensil yang sudah tidak runcing. Namun, aku hapal setiap katanya.
“Kamu pasti bisa. Jangan bikin malu Bapak dan Ibu!”
Aku
masih ingat pendar cahaya di mata pemilikku saat lipatanku masih baru.
Sehari bisa beberapa kali membacaku dengan lantang, dan aku ikut bangga
padanya. Mungkin sekarang ia sudah manghapalnya. Atau… justru lupa akan
keberadaanku?
Kini lipatanku mengeras, bahkan hampir menyatu. Aku
ragu, jika suatu hari ia mengingatku lalu membukaku, tubuh ini akan
terberai. Ah tak apa. Lagi pula, aku mulai muak pada kesepian ini.
Tempat sempit yang menghimpitku semakin pengap dan berbau. Tidak ada
teman yang bisa ku ajak berbicara.
Apakah pemilikku lupa memberiku teman?
No comments:
Post a Comment