Wednesday, 10 June 2026

Seminggu

 

"Dek, ada teman baru tuh" kataku sembari menyambut peri kecil yang baru saja terbangun dari dunia mimpinya.

Dengan langkah lunglai, ia mengucek mata lalu bersandar di badanku yang sedang duduk di ruang TV.

"Siapa, Buk?" tanyanya dengan mata yang masih setengah terpejam.

"Anaknya Om potong rambut"

"Oh, iya?"

"He'em. Mau kenalan?"

"Malu, belum mandi."

Selepas mandi, dengan sedikit dorongan aku mengantarkan si bungsu ke kios pemilik rambut milik kakak iparku yang masih satu lokasi dengan rumah kami.

"Permisi, Om. Adik mau kenalan nih"

Si bungsu masih bersembunyi di belakangku dengan wajah malu-malu. Dan akhirnya, perkenalan itu gagal.

“Kak, ada teman baru lho!”

Belum sempat berganti pakaian sepulang sekolah, si sulung langsung melangkah panjang menuju kios potong rambut. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan wajah berbinar.

"Namanya Dodo, Buk! Baru datang tadi pagi. Habis ini aku mau main sama dia, ya!”

Berbeda dengan adik perempuannya yang masih malu dengan orang baru, anak sulungku adalah pribadi yang sangat mudah akrab. Bukan hanya dengan teman seusia, tetapi juga yang lebih muda maupun yang lebih tua.

Pembawaannya yang ramah bahkan sering menjadi bahan cerita para gurunya. Saking asyiknya mengobrol, ia beberapa kali ketahuan berbincang saat pelajaran berlangsung. Jujur, aku dan suami sering heran. Padahal kami berdua sama-sama tipe introvert. Entah dari mana ia mewarisi keramahan itu.

Selama satu minggu penuh, mereka bertiga selalu bermain bersama. Bangun tidur, yang pertama di cari adalah Dodo.

"Buk, Adik mau main sama Dodo dulu, ya"

"Eh, mandi dulu!"

Begitu pula Dodo. Sesekali ia melintas di depan rumah sambil celingukan mencari anak-anak.

"Sabar ya, Do. Kakak lagi sekolah dan Adik masih tidur." Lalu ia akan mengangguk dan kembali ke tempat ayahnya bekerja.

Anak-anakku memang selalu antusias jika ada anak seusia yang datang ke lingkungan rumah. Mereka jarang bermain di luar pagar karena kami membatasi mereka. Selain banyak anjing yang berkeliaran, rumah kami juga berada di depan jalan yang cukup ramai dilalui kendaraan.

Hingga akhirnya, waktu perpisahan tiba.

“Buk, Dodonya mau pulang…” Kakak dan Adik mengucapkannya hamper bersamaan. Raut mendung langsung memenuhi wajah meeka. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepala keduanya.

“Sabar ya. Nnati kalua libur sekolah, Dodo main lagi ke sini.”

Malam terakhir sebelum travel menjemput Dodo dan Ibunya, aku yang biasanya cerewet menyuruh anak-anak tidur pukul sepuluh memilih mengalah. Aku membiarkan mereka tertawa, berlari dan menghabiskan waktu sedikit lebih lama.

Karena aku tahu, beberapa pertemanan tidak diukur dari lamanya waktu. Ia hanya hadir seminggu, namun berhasil meninggalkan rindu yang tinggal jauh kebih lama di hati anak-anak. Dan dari mereka aku belajar bahwa berteman tidak membutuhkan syarat yang rumit. Cukup satu sapaan, satu permainan lalu hati mereka saling menerima begitu saja.

No comments: