Virus lagu MBG mulai merajalela, termasuk meracuni lisan anak-anakku yang entah dari mana mereka mendengarnya. Mungkin dibawa kakak dari sekolah atau mungkin juga dari tontonan saat screentime mereka. Yang jelas, lagu itu mulai sering terdengar di rumah mungil kami.
Aku pun mulai memutar otak bagaimana caranya agar nama ‘tokoh’ dalam lagu itu tidak terus menggema di rumah. Bisa-bisa dunia perpolitikan dan perekonomian yang sudah cukup membuat pusing ikut memanggil migrain kembali bersarang di kepala.
“Kakak, Adik! Dilarang menyebut nama laki-laki lain selain nama Kakak dan Ayah di rumah ini!” tegurku cukup keras.
“Kenapa, Buk?” tanya si sulung.
“Pokoknya kalau Ibu bilang enggak boleh, ya enggak boleh!” Percuma juga menjelaskan Panjang lebar. Usia mereka masih terlalu dini untuk memahami maksudku.
“Ya sudah, namanya diganti saja.”
“Diganti?” selidikku penasaran.
“Iya!” Lalu dengan penuh semangat ia mulai bernyanyi.
“M-A-G, Mas Ayah Ganteng. Buah apa yang paling manis? Buapaknya Kakak!” Si bungsu langsung ikut bernyanyi sambil tertawa. Aku dan suami terbahak. Kreatif sekali anak-anak ini.
Tak mau kalah, si bungsu mencoba menyanyikannya sendiri tanpa bantuan dari sang kakak.
“M-B-G, Mas Ayah Ganteng. Buah apa yang paling manis? Buapaknya Kakak!” Tawa kami Kembali pecah.
“Dek, bukan MBG!” protes sang kakak. “tapi MAG!”
Dan malam itu, lagu yang sempat ingin kuhilangkan dari rumah justru lahir kembali dalam versi yang jauh lebih aman. Versi keluarga kami sendiri. Lagu yang membuat suami menunjukkan senyumnya yang paling lebar.
.png)
No comments:
Post a Comment