Setelah beberapa kali mendengar nada sambung yang bertepuk sebelah tangan, anak-anak akhirnya bersorak saat mendengar suara nenek mereka di ujung panggilan.
"Mbah lagi apa? Mbah sudah makan?" tanya anak-anak berebutan, pertanyaan sama yang selalu mengawali hari kami, suatu momen hangfat yang sayang untuk dilewatkan.
Saat anak-anak baru selesai mandi adalah waktu emas untuk merajut kedekatan cucu dan nenek yang terpisah Pulau. Menjelang siang mereka biasanya lebih memilih bermain di luar rumah hingga seringkali saat menelepon di luar waktu senggang anak, si nenek akan menyerah.
"Nanti lagi ya, kalau anak-anak sudah pulang." begitu katanya setiap kali anak-anak sedang sibuk dengan permainan mereka.
"Kak, ibuk mau jemur baju dulu. Kakak temenin Mbah ngobrol ya~"
Aku pun melangkah ke halaman sambil membawa ember berisi pakaian. Namun, baru beberapa helai baju tergantung, aku buru-buru berlari kembali ke dalam rumah.
Di balik telepon aku mendengar ibuku mulai bertanya tentang satu hal yang selama ini kami rahasiakan.
"Nanti libur sekolah main ke rumah Mbah ya!"
Aku terlambat. Misiku gagal. Dengan polos si sulung langsung menjawab.
"Iya, Mbah. Nanti tanggal satu kami kesana, sekitar sepuluh hari."
Bahkan tanpa diminta, ia dengan semangat membeberkan semua rencana yang sudah kami susun jauh-jauh hari.
Saat aku masuk ke ruang depan, si sulung menyadari sesuatu. Wajahnya menyiratkan penyesalan saat melihat mataku yang membulat. "Maaf,"
Akhirnya aku hanya bisa tersenyum dan mengusap kepalanya gemas.
Ternyata benar. Sesuatu yang direncanakan dengan sangat rapi, justru mudah terbongkar. Sebaliknya, hal-hal yang terjadi tanpa rencana seringkali berhasil menjadi kejutan yang sesungguhnya.
Aku teringat dua tahun lalu, kami yang awalnya tidak berencana untuk mudik tiba-tiba saat malam takbiran kami sudah berada di kampung halaman karena ajakan mudik yang tiba-tiba dari kakak. Kejutan itu sungguh manis, mengingat betapa harunya melihat ibuku memeluk rindu kedua cucunya. Wajah ibuku yang terkejut hingga menitikkan air mata masih jelas tersimpan di ingatan.
Kali ini, kejutan itu gagal. Bukan karena rencana yang kurang matang. Melainkan karena seorang anak yang belum mengenal apa itu menyimpan rahasia. Ia hanya menjawab dengan jujur setiap pertanyaan yang diberikan. Dan mungkin memang begitulah anak-anak. Mereka belum mengerti tentang kebohongan putih yang kadang dilakukan orang dewasa demi menghadirkan sebuah kejutan.
Aku pun memilih mengikhlaskan misi yang gagal itu. Karena melihat kejujuran yang masih utuh di mata anakku, rasanya jauh lebih indah daripada sebuah kejutan yang berhasil.
.png)
No comments:
Post a Comment