Saturday, 13 June 2026

Istri Kedua

 

“Iya, sebentar.”

Jawab suamiku saat aku menyuruhnya datang ke kamar untuk membantuku. Dan benar saja, ia masih asyik di hadapan sang istri kedua.

“Yang...?”

Ia hanya menjawab dengan satu kata.

“Apa?”

Kesabaranku mulai menyublim. Aku pun memanggil nama lengkapnya dengan nada berat yang mengandung bibit amarah.

“Iya, iya. Apa yang bisa dibantu, Sayang?” tanyanya polos.

Aku sedikit melunak begitu mendengar kata sayang dalam tuturannya.

“Geserin kasur bawah, berat! Sekalian bersihkan pakai penebah, ya!”

Sementara itu, jemariku kembali sibuk menyelesaikan setrikaan yang masih menggunung.

Beberapa kali aku benar-benar marah dengan sikapnya. Namun, entah kenapa aku selalu kembali pada permakluman yang tulus. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna selain Tuhan?

Apalagi, ia selalu mendapat dukungan penuh dari mertuanya, yaitu ibuku.

“Biarkan saja. Hanya itu hiburan suamimu. Dia tidak merokok, tidak nongkrong di luar, dan tetap mau membantu. Meskipun Ibu juga kadang gregetan melihat kesabarannya menghadapi sikap bawelmu,” berondong ibuku setiap kali aku mengeluhkan kebiasaan suami dengan istri keduanya.

Ibuku adalah pendukung nomor satu suamiku. Satu-satunya menantu yang selalu ia banggakan.

Dan harus kuakui, perkataan beliau memang benar.

Suamiku tidak pernah kasar. Ia penyabar, bertanggung jawab, dan selalu membantu pekerjaan rumah. Hanya saja, durasinya tidak pernah sesuai ekspektasiku. Tidak ada istilah mak bedunduk atau bim salabim langsung selesai saat aku meminta bantuan.

Lalu, kenapa aku tidak sedikit mengalah kepada istri keduanya?

Pernah suatu hari aku bersorak gembira.

“RF-nya sudah tutup, Yang!”

Wajahnya langsung memelas.

Layar persegi panjang itu kini dikuasai anak-anak dengan tontonan kartun favorit mereka. Aku diam-diam merasa menang.

Namun kemenangan itu ternyata tidak berlangsung lama.

Suatu hari, hadir pengganti sang istri kedua.

Namanya Ragnarok.

Kini permainan itu kembali menguasai perhatian suami sepulang kerja. Meski begitu, aku tak bisa sepenuhnya marah. Ia masih bisa berlaku adil kepada kami. Sesekali menjawab pertanyaan anak-anak, mendengarkan ceritaku, bahkan tetap membantu pekerjaan rumah sambil sesekali melirik layar gawainya.

Aku kemudian sadar bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk melepas penat.

Jika aku memilih membaca buku atau menulis, maka ia memilih bermain gim.

Dan selama hiburan itu tidak membuatnya lupa menjadi ayah bagi anak-anak, tidak melalaikan tanggung jawabnya sebagai suami, serta tidak membuatnya lebih betah di luar rumah daripada bersama kami, mungkin aku memang harus belajar berdamai.

Lagi pula, aku sudah memenangkan posisi yang paling penting.

Baiklah.

Asalkan aku tetap menjadi istri pertama, biarlah Ragnarok menjadi istri kedua yang hanya hidup di dalam layar.

No comments: