Friday, 12 June 2026

Satu-satu Kusayang

 

Kedua anakku memiliki minat yang berbeda. Jika dulu di usia empat tahun si sulung lebih senang menonton tayangan tentang kendaraan, si bungsu justru sangat menyukai lagu anak-anak. Ia mudah menghapal lirik dan tidak pernah segan untuk bertanya jika lupa.

"Buk, lagu satu-satu itu bagaimana, ya?" Aku mulai bernyanyi, dan ia mengikuti.

"Satu-satu adik sayang Ibuk. Dua-dua adik sayang Ayah. Tiga-tiga adik sayang kakak. Satu dua tiga, adik sayang semuanya."

Si bungsu menyanyikannya dengan penuh semangat. Namun sore harinya, sepulang dari rumah kakak Iparku, lirik itu berubah.

"Satu-satu adik sayang Mama. Dua-dua adik sayang Papa. Tiga-tiga adik sayang Kakak Fia. Satu dua tiga, adik sayang semuanya."

Aku sampai menyuruhnya mengulang, ternyata telingaku tidak salah menangkap.

"Kok begitu? Siapa yang ngajarin?" selidikku.

"Mama" Alisku langsung bertaut. Ternyata kakak Iparkulah pelakunya.

Dengan wajah memelas aku mulai merajuk.

”Adik enggak sayang ibuk?" Si kecil tertawa, lalu buru-buru memperbaiki liriknya menjadi versi yang biasa kunyanyikan.

"Nah, gitu dong. Jangan diganti lagi ya. Nanti Ibuk sedih." Akupun menghujani pipi chubby-nya dengan ciuman.

Sebenarnya aku tahu, anak keduaku memang sangat dekat dengan kakak iparku yang ia panggil Mama. Ia sering diajak bermain, jalan-jalan di mal bahkan makan di restoran. Aku tidak pernah keberatan. Hanya saja...

Si bungsu masih suka menggoda kami. Saat bernyanyi ia kadang mengganti lirik sesuai dengan yang diajarkan mamanya. dan seringkali mengganti nama kakaknya dengan nama sepupunya. Aku sih tak masalah, asalah baris pertama tetap satu-satu ku sayang ibuk. Karena kalau sampai "Adik sayang Mama" yang dinyanyikan, bisa-bisa ibunya ini menjelma nenek sihir yang siap menculik si bungsu dan mendekapnya dalam ketiak. 😂

No comments: