Friday, 12 June 2026

Kapsul Kasih Sayang

Tiba-tiba saja rasa sakit yang tak tertahankan menjalar dari tenggorokan hingga dada kananku. Aktivitas menjemur pun terhenti.


Anak-anak yang sedang bermain di dekatku langsung menyadari gerakku yang tidak biasa.


"Ibuk kenapa?" tanya si Sulung.


Rasa sakit dan keringat dingin yang membanjiri diri tubuh seolah menahan suaraku untuk menjawab. Dengan langkah sempoyongan aku masuk ke dalam rumah.


"Cepat sembuh ya, Buk" ucap si bungsu. Tanpa penjelasan, ia sudah paham dari raut wajahku.

Aku hanya mampu membalas dengan senyum yang dipaksakan. Lalu semuanya gelap.Entah berapa lama aku tidak sadar, hingga derap langkah anak-anak yang mendekat membawaku perlahan ke alam sadar.

"Ibu sudah baikan?" tanya si sulung sambil menyodorkan segelas air putih.

"Masih, Nak. Tapi sudah lebih baik." jawabku seadanya agar anak-anak tidak terlalu khawatir. "Kita tidur siang, ya. Ibu masih harus istirahat." bujukku.

Ajaib. Siang ini tidak ada drama yang terjadi. Padahal jam menunjukkan pukul dua belas dan salat Zuhur pun belum kami kerjakan. Keduanya menurut tanpa protes dan akhirnya kami tertidur bersama. Menjelang sore aku terbangun lebih dulu. Rasa sakit mulai mereda, meski masih tersisa. Tiba-tiba aku teringat jemuran yang tadi kutinggalkan begitu saja. Dengan langkah tergesa aku keluar rumah. Namun, ember merah muda itu telah kosong. Semua pakaian telah berjajar rapi di tiang jemuran.

Aku hanya bisa menebak. Apakah ini ulah anak-anak? Pelan-pelan aku membangunkan si sulung untuk mengajaknya salat Zuhur. Setelah Salat, kami memilih tetap duduk di atas sajadah sambil menunggu azan Ashar berkumandang.


"Kak, tadi yang jemur baju di depan itu kakak?"


"Iya, Buk"


"Kok bisa? kan jemurannya tinggi."


"Tadi sambil jinjit." Ternyata benar. Aku mengusap kepalanya lembut dan mendaratkan sebuah ciuman.


“Terima kasih ya, Kak”


“Iya. Ibuk istirahat lagi ya”


“Ibuk masih harus bersih-bersih. Sebentar lagi Ayah pulang, biar rumahnya rapi.”


“Udah, biar aku saja yang nyapu. Ibuk rebahan saja.”


Sore ini aku melihat anak lelakiku ternyata sudah tumbuh besar. Ia makin pandai membantu ibunya. Dan si bungsu, seperti biasa, ia tidak pernah lupa mendoakan kesembuhanku. Airmataku menggenang melihat keduanya bekerja sama membersihkan rumah. 


Tak lama kemudian suara salam terdengar dari depan pintu. Sorak gembira anak-anak langsung menyambut plastic putih berisi roti favorit mereka yang dibawa suami.


“Istriku sakit apa?” tanyanya. Aku pun menceritakan semua yang kurasakan sejak siang.


“Bisa jadi kapsul vitamin yang kamu minum belum tertelan semua dan tersangkut di tenggprokan.” Aku mencoba mengingat Kembali kejadiannya. Sepertinya memang begitu.


“Lain kali minumnya pakai air yang banyak ya. Dan pastikan benar-benar sudah tertelan.” Aku mengangguk.


Hari ini, satu kapsul kecil memang sempat membuatku kesakitan. Namun di saat yang sama kapsul itu membuka mataku bahwa aku sedang dikelilingi anak-anak yang tumbuh penuh empati, suami yang selalu tenang dan rumah mungil yang diam-diam dipenuhi kasih sayang.

No comments: