Pertemuan itu disepakati terjadi di sebuah taman di kota sebelah, sesaat setelah senja hendak ditenggelamkan malam. Dari sore hari Jelita sudah duduk di bangku taman dan sesekali mematikan dering ponsel yang tak mau berhenti. Membiarkan sang ayah dikekang kalut dan kekhawatiran. Saat hujan mulai mendekap Jelita, ia merasakan ada naungan payung yang melindungi tubuh ranumnya. Sebuah jemari lentik dengan cat kuku berwarna mentereng adalah yang pertama ditangkap netranya.
Jelita menyesal menyanggupi ajakan pertemuan dengan Perempuan yang mengaku ibu yang telah lama meninggalkannya. Perlahan ia berlari meninggalkan Perempuan dengan baju minim yang terus memanggil namanya. Walau hujan telah menyatu dengan raganya, Jelita tak mampu melunturkan wajah dengan riasan tebal yang baru saja ia temui.

No comments:
Post a Comment