Alunan pertama terdengar lembut, sama seperti suara penjual es yang selalu dinanti anak-anak kompleks saat cuaca sedang terik.
Tulilut... tulilut...
Namun, alunan nada yang sudah memiliki lirik ciptaanku sendiri justru menjadi hal yang paling ditakuti anak-anak dan suamiku. Karena jika lagu itu mulai dinyanyikan, artinya mereka harus meninggalkan kesenangan masing-masing dan menuruti titah sang baginda ratu. Aku.
Sekali dua kali mereka masih pura-pura tidak mendengar. Hingga akhirnya alunan lagu semakin nyaring dan diiringi suara penebah yang kutabuh seadanya.
"Pissokgi, pissokgi, ayo pipis gosok gigi..." Aku terus mengulangnya sambil sesekali menambahkan lirik baru yang membuat suasana malam semakin dramatis.
"Pissokgi, pissokgi, ayo pipis gosok gigi. Pissokgi, pissokgi, kalau tidak gosok gigi, Ibuk akan datangi..."
Tanganku semakin semangat memperindah lagu dengan irama penebah. Diam-diam suami mulai mematikan komputer. Si sulung melangkah gontai meletakkan gawainya di meja kerja. Sedangkan si bungsu mulai memprotes.
"Yaa... masih mau nonton. Belum ngantuk!"
Aku pun memperkeras suara sambil memasang wajah galak yang entah berhasil atau tidak.
"Ayah besok kerja, Kakak besok sekolah. Sudah waktunya tidur. Cepat ke kamar mandi! Pissokgi!" Oktafku mulai meninggi. Dan ajaibnya, ketiga orang tersayang itu berubah seperti robot yang patuh pada prompt sang baginda ratu.
Meski begitu, pekerjaanku sebagai seorang ibu ternyata belum benar-benar selesai. Entah kenapa aku masih kesulitan membuat anak-anak tidur lebih awal. Pukul sembilan malam, misalnya. Padahal jika mereka sudah terlelap lebih cepat, masih banyak hal yang bisa kuselesaikan. Menulis, membaca, atau sekadar menikmati secangkir teh hangat bersama suami. Lucunya, anak-anak seolah memiliki aturan tak tertulis.
Selama orang tuanya belum tidur, mereka pun merasa belum waktunya memejamkan mata. Jadi, setiap malam aku kembali mengandalkan lagu andalan itu. Pissokgi. Sebuah lagu sederhana yang mungkin tidak pernah masuk tangga lagu mana pun, tetapi selalu berhasil menjadi penanda bahwa hari ini sudah selesai. Saatnya pipis, menggosok gigi, mematikan gawai, lalu pulang ke pelukan selimut dan doa-doa sebelum tidur. Dan kelak. bertahun-tahun lagi ketika mereka sudah tumbuh besar, aku akan merindukan malam-malam yang selalu ditutup dengan suara sumbangku menyanyikan, "Pissokgi, pissokgi..."
.png)
.png)
.png)