Sunday, 14 June 2026

Pissokgi

Irama lagu yang khas itu mulai terdengar saat jarum jam baru saja menunjukkan pukul sepuluh malam. Suami sedang asyik bersama istri keduanya, sedangkan anak-anak masih memegang gawai masing-masing.

Alunan pertama terdengar lembut, sama seperti suara penjual es yang selalu dinanti anak-anak kompleks saat cuaca sedang terik.

Tulilut... tulilut...

Namun, alunan nada yang sudah memiliki lirik ciptaanku sendiri justru menjadi hal yang paling ditakuti anak-anak dan suamiku. Karena jika lagu itu mulai dinyanyikan, artinya mereka harus meninggalkan kesenangan masing-masing dan menuruti titah sang baginda ratu. Aku.

Sekali dua kali mereka masih pura-pura tidak mendengar. Hingga akhirnya alunan lagu semakin nyaring dan diiringi suara penebah yang kutabuh seadanya.

"Pissokgi, pissokgi, ayo pipis gosok gigi..." Aku terus mengulangnya sambil sesekali menambahkan lirik baru yang membuat suasana malam semakin dramatis.

"Pissokgi, pissokgi, ayo pipis gosok gigi. Pissokgi, pissokgi, kalau tidak gosok gigi, Ibuk akan datangi..."

Tanganku semakin semangat memperindah lagu dengan irama penebah. Diam-diam suami mulai mematikan komputer. Si sulung melangkah gontai meletakkan gawainya di meja kerja. Sedangkan si bungsu mulai memprotes.

"Yaa... masih mau nonton. Belum ngantuk!"

Aku pun memperkeras suara sambil memasang wajah galak yang entah berhasil atau tidak.

"Ayah besok kerja, Kakak besok sekolah. Sudah waktunya tidur. Cepat ke kamar mandi! Pissokgi!" Oktafku mulai meninggi. Dan ajaibnya, ketiga orang tersayang itu berubah seperti robot yang patuh pada prompt sang baginda ratu.

Meski begitu, pekerjaanku sebagai seorang ibu ternyata belum benar-benar selesai. Entah kenapa aku masih kesulitan membuat anak-anak tidur lebih awal. Pukul sembilan malam, misalnya. Padahal jika mereka sudah terlelap lebih cepat, masih banyak hal yang bisa kuselesaikan. Menulis, membaca, atau sekadar menikmati secangkir teh hangat bersama suami. Lucunya, anak-anak seolah memiliki aturan tak tertulis.

Selama orang tuanya belum tidur, mereka pun merasa belum waktunya memejamkan mata. Jadi, setiap malam aku kembali mengandalkan lagu andalan itu. Pissokgi. Sebuah lagu sederhana yang mungkin tidak pernah masuk tangga lagu mana pun, tetapi selalu berhasil menjadi penanda bahwa hari ini sudah selesai. Saatnya pipis, menggosok gigi, mematikan gawai, lalu pulang ke pelukan selimut dan doa-doa sebelum tidur. Dan kelak. bertahun-tahun lagi ketika mereka sudah tumbuh besar, aku akan merindukan malam-malam yang selalu ditutup dengan suara sumbangku menyanyikan, "Pissokgi, pissokgi..."

Saturday, 13 June 2026

Istri Kedua

 

“Iya, sebentar.”

Jawab suamiku saat aku menyuruhnya datang ke kamar untuk membantuku. Dan benar saja, ia masih asyik di hadapan sang istri kedua.

“Yang...?”

Ia hanya menjawab dengan satu kata.

“Apa?”

Kesabaranku mulai menyublim. Aku pun memanggil nama lengkapnya dengan nada berat yang mengandung bibit amarah.

“Iya, iya. Apa yang bisa dibantu, Sayang?” tanyanya polos.

Aku sedikit melunak begitu mendengar kata sayang dalam tuturannya.

“Geserin kasur bawah, berat! Sekalian bersihkan pakai penebah, ya!”

Sementara itu, jemariku kembali sibuk menyelesaikan setrikaan yang masih menggunung.

Beberapa kali aku benar-benar marah dengan sikapnya. Namun, entah kenapa aku selalu kembali pada permakluman yang tulus. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna selain Tuhan?

Apalagi, ia selalu mendapat dukungan penuh dari mertuanya, yaitu ibuku.

“Biarkan saja. Hanya itu hiburan suamimu. Dia tidak merokok, tidak nongkrong di luar, dan tetap mau membantu. Meskipun Ibu juga kadang gregetan melihat kesabarannya menghadapi sikap bawelmu,” berondong ibuku setiap kali aku mengeluhkan kebiasaan suami dengan istri keduanya.

Ibuku adalah pendukung nomor satu suamiku. Satu-satunya menantu yang selalu ia banggakan.

Dan harus kuakui, perkataan beliau memang benar.

Suamiku tidak pernah kasar. Ia penyabar, bertanggung jawab, dan selalu membantu pekerjaan rumah. Hanya saja, durasinya tidak pernah sesuai ekspektasiku. Tidak ada istilah mak bedunduk atau bim salabim langsung selesai saat aku meminta bantuan.

Lalu, kenapa aku tidak sedikit mengalah kepada istri keduanya?

Pernah suatu hari aku bersorak gembira.

“RF-nya sudah tutup, Yang!”

Wajahnya langsung memelas.

Layar persegi panjang itu kini dikuasai anak-anak dengan tontonan kartun favorit mereka. Aku diam-diam merasa menang.

Namun kemenangan itu ternyata tidak berlangsung lama.

Suatu hari, hadir pengganti sang istri kedua.

Namanya Ragnarok.

Kini permainan itu kembali menguasai perhatian suami sepulang kerja. Meski begitu, aku tak bisa sepenuhnya marah. Ia masih bisa berlaku adil kepada kami. Sesekali menjawab pertanyaan anak-anak, mendengarkan ceritaku, bahkan tetap membantu pekerjaan rumah sambil sesekali melirik layar gawainya.

Aku kemudian sadar bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk melepas penat.

Jika aku memilih membaca buku atau menulis, maka ia memilih bermain gim.

Dan selama hiburan itu tidak membuatnya lupa menjadi ayah bagi anak-anak, tidak melalaikan tanggung jawabnya sebagai suami, serta tidak membuatnya lebih betah di luar rumah daripada bersama kami, mungkin aku memang harus belajar berdamai.

Lagi pula, aku sudah memenangkan posisi yang paling penting.

Baiklah.

Asalkan aku tetap menjadi istri pertama, biarlah Ragnarok menjadi istri kedua yang hanya hidup di dalam layar.

Friday, 12 June 2026

Satu-satu Kusayang

 

Kedua anakku memiliki minat yang berbeda. Jika dulu di usia empat tahun si sulung lebih senang menonton tayangan tentang kendaraan, si bungsu justru sangat menyukai lagu anak-anak. Ia mudah menghapal lirik dan tidak pernah segan untuk bertanya jika lupa.

"Buk, lagu satu-satu itu bagaimana, ya?" Aku mulai bernyanyi, dan ia mengikuti.

"Satu-satu adik sayang Ibuk. Dua-dua adik sayang Ayah. Tiga-tiga adik sayang kakak. Satu dua tiga, adik sayang semuanya."

Si bungsu menyanyikannya dengan penuh semangat. Namun sore harinya, sepulang dari rumah kakak Iparku, lirik itu berubah.

"Satu-satu adik sayang Mama. Dua-dua adik sayang Papa. Tiga-tiga adik sayang Kakak Fia. Satu dua tiga, adik sayang semuanya."

Aku sampai menyuruhnya mengulang, ternyata telingaku tidak salah menangkap.

"Kok begitu? Siapa yang ngajarin?" selidikku.

"Mama" Alisku langsung bertaut. Ternyata kakak Iparkulah pelakunya.

Dengan wajah memelas aku mulai merajuk.

”Adik enggak sayang ibuk?" Si kecil tertawa, lalu buru-buru memperbaiki liriknya menjadi versi yang biasa kunyanyikan.

"Nah, gitu dong. Jangan diganti lagi ya. Nanti Ibuk sedih." Akupun menghujani pipi chubby-nya dengan ciuman.

Sebenarnya aku tahu, anak keduaku memang sangat dekat dengan kakak iparku yang ia panggil Mama. Ia sering diajak bermain, jalan-jalan di mal bahkan makan di restoran. Aku tidak pernah keberatan. Hanya saja...

Si bungsu masih suka menggoda kami. Saat bernyanyi ia kadang mengganti lirik sesuai dengan yang diajarkan mamanya. dan seringkali mengganti nama kakaknya dengan nama sepupunya. Aku sih tak masalah, asalah baris pertama tetap satu-satu ku sayang ibuk. Karena kalau sampai "Adik sayang Mama" yang dinyanyikan, bisa-bisa ibunya ini menjelma nenek sihir yang siap menculik si bungsu dan mendekapnya dalam ketiak. 😂