Untuk urusan deodoran, aku tidak sesetia suamiku yang selalu menggunakan produk yang sama bertahun-tahun. Aku justru senang mencoba berbagai aroma.
Satu per satu tutup kemasan kubuka. Kuhirup perlahan setiap aroma yang ditawarkan. Hingga sebuah wangi menyeretku ke masa yang jauh. Sangat jauh. Aroma itu begitu akrab. Padahal lebih dari dua puluh tahun telah berlalu. Aku terdiam.
"Kenapa, Yang?" tanya suami yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.
"Ibuk kenapa? Kok menangis?"anak-anak mulai memperhatikanku dengan wajah khawatir.
Aku hanya menggeleng pelan, lalu mengambil satu kemasan deodoran itu dan memasukkannya ke dalam keranjang.
"Tumben pilih yang itu?" Selidik suami.
"Nanti kuceritakan."
Sesampainya di rumah barulah aku meceritakan semuanya. Tentang aroma yang mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku rindukan. Bapak.
Bukan karena mereknya, atau kemasannya yang memang mirip dengan deodorant milik almarhum Bapak dulu, melainkan wanginya yang sama persis dengan aroma yang dulu sering menempel di tubuh beliau.
Ternyata sebuah aroma mampu menyimpan kenangan begitu lama. Ingatanku tentang Bapak mungkin tidak banyak tersisa. Waktu telah menghapus sebagian besar detailnya. Namun aroma itu masih tinggal di sudut ingatan yang paling dalam.
Dan hari ini, tanpa diduga, ia datang kembali. Membawa rindu yang selama ini diam. Rindu pada sosok cinta pertamaku. Sosok yang belum sempat mendengar kata 'sayang' secara langsung dariku.
.png)
No comments:
Post a Comment