Saturday, 20 June 2026

Gemuruh Pagi

 

Desisan nyaring tiba-tiba memecah pagi yang tenang.

Si Bungsu yang memang sensitif terhadap suara keras langsung terbangun. Ia menangis, bahkan nyaris histeris.

"Takut... takut..."

Aku yang sedang rebahan ikut terlonjak dari kasur. Suami segera berlari keluar saat pegawai laundry datang meminta tolong.

Wajahnya panik.

Asap putih mulai menyebar, diiringi suara desisan yang tak kunjung berhenti.

Bukan sekali dua kali mesin setrika uap uap itu mengeluarkan suara seperti itu. Namun tetap saja, kejadian tersebut selalu membuat panik orang yang belum pernah mengalaminya. Apalagi pegawai laundry yang baru bekerja seminggu. Wajar jika pengalaman pertama itu cukup mengagetkannya.

Aku sendiri yang sudah beberapa kali mendengar suara itu pun sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi kakak ipar selaku pemilik laundry sedang melakukan rutinitas paginya berolahraga di lapangan bersama suaminya.

"Matikan saja kompornya!" ujarku panik.

"Sudah mbak!" jawab pegawai laundry.

"Aku juga enggak mengerti" sahut suamiku.

Kami saling berpandangan sambil menunggu sesuatu terjadi. Untungnya, beberapa saat setelah kompor dimatikan serta regulator tabung gas dilepas, suara desisan itu perlahan mulai mereda. Kami pun bernapas lega.

Tak lama kemudian kakak ipar pulang dan segera menangani sumber masalahnya.

Bagitulah kepanikan yang mewarnai pagi kami hari ini. Aku sering heran pada diriku sendiri. Pikiranku begitu mudah dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Takut meledak

Takut terbakar

Takut terjadi sesuatu yang lebih besar.

MasyaAllah.

Padahal seharusnya aku bisa lebih tenang menghadapi segala keadaan. Namun, mau bagaimana lagi? Aku memang termasuk orang yang mudah terkejut oleh suara keras. Dan rupanya sifat itu menurun pada anak keduaku.

Bedanya, kali ini aku sedikit lebih baik. Aku masih mampu mengatur napas dan menenangkan diri. Tidak sampai pingsan karena panik seperti beberapa kejadian sebelumnya.
Mungkin itu juga sebuah kemajuan.

No comments: