"Bisa nggak sih, makan itu enggak usah pakai sambal?" tanya suami saat aku kembali mengeluhkan sakit perut.
"Kalau sudah begini, bilangnya kapok. Besok diulang lagi." lanjutnya.
Aku hanya diam sambil menikmati perut yang sedang menangis perih.
Sudah berkali-kali suami menasehatiku untuk mengurangi kopi, sambal dan mi instan. Biasanya aku akan membombardirnya dengan sejuta alasan hingga ia hanya bisa menggeleng gemas.
"Ya sudah, risikonya ditanggung sendiri!" katanya suatu hari, menyerah.
Malam itu, saat aku hendak menyetrika seragam kerjanya, suara suami terdengar di ruang depan.
"Ayo makan."
"Hemm... boleh deh. Nanti saja setrikanya. Lapar juga nih!" jawabku sambil beranjak meninggalkan tumpukan pakaian yang terdengar mulai merajuk.
Di ruang depan sudah terhidang nasi putih hangat dan ayam goreng favorit kami. Aku duduk, lalu refleks berdiri lagi menuju lemari es.
"Cari apa?" tanya suami.
"Sambal" jawabku jujur tanpa menoleh.
"Dasar! Sambal terus. Nanti kalau sakit perut lagi jangan mengeluh, ya!"
Aku berhenti sejenak. Tiba-tiba sebuah nyala terang menyinari kepalaku.
"Baiklah, aku nggak makan sambal."
Suami tampak terkejut.
"Tapi..." lanjutku.
"Nah, kan. Ada tapinya."
"Makannya disuapin ya!"
Suamiku tertawa kecil.
"Iya deh!"
Dan ajaibanya, aku benar-benar bisa mengesampingkan godaan sambal malam itu.
Entah mengapa, makanan yang masuk melalui tangan orang terkasih selalu terasa berbeda. Lebih nikmat. Lebih hangat. Seolah ada bumbu rahasia yang tidak bisa ditemukan di dapur manapun.
Saat aku mengatakan hal itu, suami langsung menyahut.
"Iyalah, kan pakai sambal cinta."
Anak-anak yang sedari tadi asyik mengunyah apaha ayam langsung menoleh.
"Mana sambalnya, Yah?" tanya si sulung polos.
"Kok nggak keliatan"
Aku dan suami saling berpandangan. Lalu tawa kami pecah bersamaan.
Malam itu tidak ada sambal merah yang terhidang. Tapi rupanya ada sambal yang membuat makanan terasa lebih nikmat dari biasanya. Namanya, sambal cinta. ❤️
.png)
No comments:
Post a Comment