Begitulah yang dirasakan Beno. Ia tak mampu mengalihkan pandangan dari layar ponsel keluaran terbaru di tangannya.
"Aku tunggu di tepi Pantai Taman Inspirasi pukul empat sore, ya!"
Berulang kali Beno menggosok mata. Namun, isi pesan WhatsApp itu memang nyata adanya.
Walau masih terheran-heran, ia tak mampu memungkiri bunga-bunga harum yang tiba-tiba bermekaran di ruang hatinya. Gadis pujaan satu sekolah mendadak mengajaknya bertemu, berdua di tepi pantai.
Ah, berbagai adegan romantis langsung berkelindan di kepalanya.
Sesekali ia melirik jam tangan di pergelangan kiri, memastikan waktu tak terlambat untuk menemui sang dara pujaan. Namun, kini masih di tepi pantai yang sama, keesokan paginya Beno belum juga menemukan kekuatan untuk beranjak dari bangku tempat ia menunggu sejak senja kemarin.
Ternyata sang dara salah mengirim pesan. Orang yang ingin ditemuinya bukan Beno, melainkan Bejo, anak laki-laki dari asisten rumah tangga yang selama ini diam-diam meminjam ponselnya untuk mengerjakan tugas sekolah.
Beno ingin melampiaskan patah hatinya dengan kemarahan. Namun, ia tak tega memarahi seorang anak yatim yang selama ini menjadi ladang sedekah bagi dirinya dan kedua orang tuanya.
.png)
No comments:
Post a Comment