Namun, seperti kejadian-kejadian sebelumnya, pagi ini aku kembali mendapat ‘oleh-oleh’ baru.
Lutut kaki kananku tersayat ujung dipan kayu saat terburu-buru menuju kamar mandi. Tidak sampai berdarah, tetapi cukup membuat perih.
“Kan! Kok bisa sih? Kamu ini selalu saja seperti itu,” katanya sambil mencibir gemas.
Aku sendiri kadang heran. Entah bagaimana caranya, benda yang menurut orang lain tidak berbahaya justru sering berhasil melukaiku.
Suatu siang saat kami makan Bersama, aku berinisiatif membuka ikatan plastic kerupuk. Karena tanganku licin dan simpulnya terlalu rapat, jariku terpeleset hingga ujung kuku menyobek kulit jari lainnya. Darah pun langsung mengucur.
Beberapa minggu lalu aku juga menunjukkan memar kebiruan di lutut kanan. “Kenapa lagi?” tanya suami.
“Tadi waktu mau naik motor enggak sengaja kaki membentur plat motor Ayang yang belakang”
“Ih, lagi-lagi. Pantas tadi aku lihat plat nomornya sampai bengkok, padahal motornya enggak jatuh.”
Belum lagi jari yang terkena pisau, jidat yang membentur dinding, atau lengan yang tiba-tiba tergores sesuatu tanpa kusadari. Kadang aku sampai bertanya-tanya, bagaimana bisa hal-hal kecil selalu menemukan jalannya untuk melukaiku.
Namun, di balik semua kecerobohan itu ada satu hal yang selalu membuatku hangat. Anak-anak.
Setiap kali mereka melihat ibu mereka terluka, mereka tidak pernah menertawakn atau mengomeliku. Dengan wajah khawatir mereka akan bergantian menghampiri.
“Cepat sembuh ya, Buk!”
Sesederhana itu.
Tanpa diminta.
Tanpa diajari.
Doa kecil dari dua hati mungil yang selalu berhasil menjadi obat paling ampuh untuk setiap luka yang singgah di tubuhku.
.png)
No comments:
Post a Comment