Sunday, 7 June 2026

Masih Bisa

 

Pagi ini saat aku sedang membaca Mushaf selepas salat subuh, suamiku terlihat menurunkan beberapa barang yang tersusun rapi di samping meja kerjaku.

Bacaanku terhenti. "Cari apa?" tanyaku.

"Penanak nasi" jawabnya singkat.

Ada sorak kecil tertahan di hatiku. Apakah ini saatnya?

"Kenapa? Penanak nasi yang di depan rusak?" tanyaku penuh semangat.

"Iya"

Jawabannya yang singkat berhasil membuatku tersenyum lebar. Akhirnya, tiba saatnya penanak nasi —yang usianya sama dengan pernikahan kami yang menjejak di tahun kesepuluh ini — untuk pensiun.

Sudah cukup lama aku merengek ingin menggantinya. Tutupnya sudah retak dengan beberapa bagiannya yang bahkan telah hilang. Pemandangan itu sukup mengganggu mataku yang diam-diam ingin setiap sudut rumah terlihat estetik.

Dan kini, waktu yang kutunggu itu tiba.

Suamiku bukan pribadi yang pelit ataupun perhitungan. Namun, dunia perbankan yang telah lama digelutinya mungkin sedikit banyak memengaruhi cara berpikirnya. Atau mungkin memang sifat itu sudah ada jauh sebelum aku mengenalnya.

"Masih bisa dipakai, kok!" Begitu kalimat andalannya.

Bukan hanya untuk penanak nasi, tetapi juga untuk barang lainnya. Termasuk helm hitam kesayangannya yang bahkan lebih tua daripada usia pernikahan kami.

Dan kali ini, ia tidak bisa menolak saat aku menghadiahkan helm baru di hari ulang tahunnya.

Lucunya, bukan hanya aku yang memberinya helm. Teman-teman kantornya ternyata memiliki ide yang sama.

Pecahlah tawa kami malam itu.

Alhamdulillah, ada beberapa barang kebutuhan lain yang sudah tersedia saat kami membutuhkannya. Seperti pagi ini. Ketika penanak nasi tiba-tiba rusak, kami tidak perlu terburu-buru membeli yang baru karena masih ada cadangan hasil doorprize dari beberapa kegiatan. Ada pula setrika, hair dryer hingga dispenser yang masih tersimpan rapi menunggu giliran digunakan.

MasyaAllah. Mungkin itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah. Rezeki tidak selalu datang saat kita meminta, tetapi sering kali sudah dipersiapkan jauh sebelum kita menyadari akan membutuhkannya.

Aku tidak pernah benar-benar keberatan dengan kalimat andalan suamiku, “masih bisa dipakai, kok.” Karena tanpa sadar, aku mulai mengikuti jejaknya. Belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Belajar mensyukuri apa yang masih berfungsi.

Meski sesekali aku tetap membujukknya membeli barang baru untuk rumah kami. Untungnya ia jarang menolak. Asalkan senyum tidak hilang dari wajah bulat istrinya ini.

No comments: