Sesaat setelah kajian ditutup dan langkah pengajar mulai menjauh, beberapa dari kami terlibat dalam obrolan ringan sembari menunggu jam pulang sekolah anak-anak. Ada yang sibuk menggulir layar gawai, ada yang berbincang dan aku memilih menikmati peran sebagai pengamat.
"Eh, sudah lihat postingan ini belum?" Seorang teman menunjukkan unggahan salah satu teman kami.
"Ih, romantis sekali suaminya. Berani posting bahasa cinta di media sosial. Jadi bikin insecure nih."
Tanpa sadar kami mulai berkomentar dan membandingkan.
"Ih, suamiku mana pernah upload hal romantis begitu. Padahal ingin juga, kan ya?"
Aku pun ikut menimpali.
"Iya ya, suamiku saja enggak pernah posting apa-apa di media sosial. Jangankan tentang aku, tentang pekerjaannya saja hampir enggak pernah."
Namun, setibanya di rumah aku menyesali perkataanku.
Di hadapanku, suami sedang menyuapi anak-anak dengan wajah lembut. Sepulang bekerja, ia masih menyapa kami dengan hangat. Tidak pernah mengeluh rumah yang belum rapi atau lantai yang belum tersapu. Ia membawakan lauk untuk makan malam dan masih bersedia memandikan anak-anak di sisa lelahnya.
"Ibu mau makan di piring sendiri atau sekalian?" tanyanya.
"Mau disuapin juga ya, biar rezekinya Ayang makin lancar tanpa pernah terputus." candaku sambil memasang wajah paling imut yang aku miliki.
"Bilang aja malas makan." balasnya sambil tertawa.
"Entah kenapa ya, Yang. Kalau makan disuapin sama yang tersayang itu rasanya sejuta miliar kali lebih nikmat." Hiperbolisku kambuh.
Akhirnya, kami berempat makan di satu piring yang sama, menikmati suapan demi suapan dari imam di rumah mungil kami.
Saat itulah aku tersadar.
Seringkali kita menganggap pembuktian cinta harus berupa kalimat "Aku cinta kamu,” unggahan romantis atau kata-kata manis yang bisa dilihat orang. Padahal bahasa cinta tidak selalu berupa kata.
Ia bisa hadir dalam sepiring makan malam yang dibawa pulang, tangan yang ikut memandikan anak-anak, pundak yang tetap kuat mencari nafkah dan dalam kesabaran yang jarang berubah menjadi amarah. Serta lelaki yang tidak pandai mengucapkan "aku saying," tetapi setiap hari menunjukkan cintanya lewat tindakan.
Mungkin, beginilah cara Allah mengajarkanku bahwa cinta yang paling tulus seringkali tidak banyak berbicara, tetapi selalu ada dan bekerja dalam diam.
.png)
No comments:
Post a Comment