Sunday, 7 June 2026

Pengamat Cilik

"Apa itu Gerimis 30 Hari, Buk?" tanya si sulung sambil mengamati tulisan pada whiteboard sticker yang kutempel di dekat meja kerja.

"Hemm... apa ya?" Aku sendiri sedang merangkai kalimat sederhana agar ia mengerti.

Semakin bertambah usia, kedua anakku semakin sering melontarkan pertanyaan yang mengharuskanku menjadi lebih kreatif dan bijak agar rasa ingin tahu mereka bisa terjawab. Terutama si sulung yang kini duduk di kelas satu sekolah dasar.

Kemampuan membacanya yang semakin lancar membuat pertanyaan dan komentar ceplas-ceplosnya makin beragam. Bahkan sering kali terasa sangat out of the box untuk generasi milenial sepertiku.

Selain pertanyaan-pertanyaan kritis yang mengalir dari danau rasa ingin tahunya, si sulung juga gemar mencuri pandang pada apa pun yang kutulis. Baik saat aku membalas pesan di gawai maupun ketika layar komputer masih menampilkan dokumen Word yang dipenuhi deretan kata.

"Kak, nggak sopan ya membaca pesan di HP orang," pesanku padanya.

Namun, aku tak bisa melarangnya membaca tulisan-tulisan yang terpampang di papan putih, tempat aku sering menuliskan ide yang tiba-tiba muncul di sela aktivitas.

Seperti pagi ini.

Suamiku sudah siap berangkat kerja, sementara si sulung masih asyik menatap layar komputer.

"Kak, ayo berangkat! Ih, belum pakai kaus kaki lagi. Cepat, Ayah sudah di depan!" seruku sambil mengemas bekal mereka dengan gerakan tergesa.

"Pamit ya, Buk. Assalamu'alaikum."

Baru beberapa langkah berjalan, ia berbalik.

"Buk, tulisan Ibu banyak salahnya lho. Diperbaiki ya!"

 

Aku masih berusaha mencerna perkataannya ketika ia sudah berlari menuju motor yang mesinnya mulai menderu.

MasyaAllah. Ternyata si sulung sudah menjadi pengamat sekaligus editor kecil bagiku. Ia sering menemukan kesalahan pada rangkuman materi dan latihan soal yang kubuat. Huruf M yang seharusnya N, soal yang terulang tanpa kusadari, atau kesalahan-kesalahan kecil lainnya yang lolos dari perhatianku. Kadang pengamatannya bahkan terlalu kreatif.

Seperti saat ia menambahkan kata militer di belakang kata barak yang berarti merah dalam bahasa Bali. Atau menambahkan gelar Ustadzah di depan sebuah nama dalam buku karena nama itu sama dengan gurunya di sekolah.

Yang paling membuatku menahan tawa adalah saat membaca buku Bahasa Inggris miliknya. Ia menambahkan dua suku kata di belakang kata hen (ayam betina) hingga berubah menjadi nama seorang guru yang menurutnya paling galak.

MasyaAllah.

Di balik rasa gemas itu, aku sadar bahwa anak-anak memang selalu memperhatikan lebih banyak daripada yang kita kira. Mereka membaca, mengamati, dan menyimpan banyak hal dalam ingatan mereka. Dan rupanya, tanpa kusadari, aku telah memiliki seorang pengamat sekaligus editor cilik di rumah.

No comments: