Sunday, 7 June 2026

Ibu juga Manusia

 Nak, maafkan Ibu, ya. Maaf untuk segala sikap yang mungkin menimbulkan luka di hatimu yang masih putih. Maaf atas segala khilaf dan ketidaksempurnaan yang Ibu miliki.

“Buk, berapa minimal nilai ujian Kakak agar Ibu tidak ngambek sama aku?”

Pertanyaan itu kamu lontarkan sepulang sekolah beberapa waktu lalu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, kamu menunjukkan beberapa lembar hasil ujian yang sudah diberi nilai.

“Maaf ya, Buk. Yang penting kan Kakak sudah berusaha,” katamu lirih, dengan mendung yang siap meluruhkan air mata ke pipimu.

Seketika ingatanku berjalan mundur.

Aku teringat saat memarahimu beberapa bulan lalu ketika menemanimu belajar untuk ujian tengah semester. Dadaku sesak. Bagaimana mungkin seorang ibu yang selalu ingin menjadi tempat ternyaman untuk anaknya justru membuatmu takut pada hasil yang kamu bawa pulang?

Ibu malu, Nak. Kadang Ibu merasa tidak pantas menjadi ibu untukmu. Namun kali ini, Ibu tidak ingin mengulanginya. Ibu berusaha mempersiapkan diri. Membaca materi pelajaranmu, membuat rangkuman, dan menyusun beberapa latihan soal agar Ibu bisa lebih memahami apa yang sedang kamu pelajari. Agar Ibu juga bisa menempatkan diri di posisimu.

Dan Ibu sempat tertegun. Penat hinggap di kepala saat membuka lembar demi lembar buku paket dan LKS milikmu.

Benar, Nak. Kamu memang baru kelas satu sekolah dasar. Namun, beberapa materi yang ada di bukumu terasa seperti pelajaran yang dulu Ibu pelajari saat duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Maaf jika Ibu pernah kecewa saat kamu tidak mendapat peringkat pertama seperti yang dulu sering Ibu raih hingga jenjang SMP. Padahal, Ibu lupa bahwa kamu bukanlah Ibu. Kamu adalah dirimu sendiri. Dan Ibu seharusnya tidak mengukur langkahmu dengan jejak yang pernah Ibu tempuh.

Ibu bangga padamu, Nak.

Kamu sudah berusaha dengan baik. Kamu sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Kamu sudah hebat bisa masuk sepuluh besar di kelasmu. Maafkan sikap Ibu yang mungkin pernah terlalu menekanmu.

Maafkan harapan-harapan yang tanpa sadar berubah menjadi beban di pundak kecilmu. Sekali lagi, maaf ya, Nak. Karena Ibu juga manusia.

Manusia yang tak luput dari salah dan khilaf, tetapi akan terus belajar menjadi ibu yang lebih baik untukmu, setiap harinya.

No comments: