Tuesday, 23 June 2026

Refleksi Batin

                                      Refleksi Batin

Oleh: Trias Swasti Arini

Jika kita menghadapi seseorang yang seringkali membicarakan keburukan orang lain kepada kita, niscaya suatu saat orang tersebut juga akan membicarakan kita di hadapan orang lain. Maka siapkanlah mental jika kita tetap berada di lingkungan orang seperti itu.

Jika memang mental kita kuat, bertahanlah!

Jika lelah, tidak apa-apa untuk menyudahi dan berjalan ke tempat yang lebih baik.

Mungkin kita bisa memaklumi kebiasaan itu, sekali atau dua kali. Diam dan tidak mengambil sikap menjadi pembenaran. Tapi, apakah kitab isa tetap sehat di lingkungan yang toxic seperti itu?

Bisa jadi suatu saat tameng iman akan tergerus dan tanpa sadar menyambut ghibahan itu mengatasnamakan khilaf.

Saatnya melihat refleksi batin. Karena ia tahu apa yang baik.

***

Ujian adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya. Melalui masalah yang singgah bisa jadi ia sangat merindukan suara lirih doa dan derai airmata kita di ujung malam yang kita pasrahkan di atas sajadah dan dekapan rakat.

Sambungan telepon dari saudara perempuan tertua suami di tanah Jawa tetiba membawa badai tebal di cerahnya rumah mungil kami. Dan jebol sudah bendungan airmata yang senantiasa tertampung tenang.

Aku sudahi jeritan beserta airmata atas ketidakadilan atau perasaan terluka yang membuat dadaku terasa sakit hingga gelap diikuti sesak yang te5rasa. Disela derai itu aku berseru kepda suamiku agar kami segera pindah dai rumah yang kami tempati. Tak perlu lagi aku mengungkit sumber dari hal yang dipermasalahkan oleh iparku, karena aku hanya berkomunikasi dengan satu orang di keseharianku. Dan dia Adalah Adalah orang terdekat dan masih memiliki hubungan darah dengan suami.

“Aku tidak kuat, Yang!”

“Ayo pindah!”

 “Demi Allah, aku tidak melakukan tuduhan yang dialamatkan kepadaku oleh kakakmu!”

Berulang kali aku mengulang perkataan itu kepada belahan jiwaku Ketika ia menyeka airmataku yang berjatuhan. Kedua matanya memerah dengan genangan air yang hendak jatuh.

“Iya, aku percaya!” berulangkali juga ia mengatakan hal yang sama.

Malam itu juga aku mulai mengemasi barang-barang, walaupun dengan airmata yang tidak berhenti dan rasa sakit yang aku rasakan di dad sebelah kiri. Kalimat-kalimat tuduhan yang tertuju kepadaku tidak mau sirna dan makin membelit hingga aku mengalami kesulitan bernapas. Dalam diam  hati memilih merebahkan raga di pembaringan. Tapi mata tak kunjung terpejam, hingga aku memilih membuka gawai dan meluncur ke dunia maya mencari sebuah kos untuk tempat tinggal baru.       Keesokan harinya, dadaku masih saja merasakan perih. Airmata dengan sendirinya keluar dan hati mulai merasakan ketidaknyamanan disusul dengan keraguan yang muncul. Apakah Keputusan kami untuk pindah adalah jawaban atas permasalahan yang tengah kami alami?

Rasa lelah yang memberatkan raga masih berdenyar, serta bayangan akan besarnya pengeluaran untuk jasa pindah rumah mulai berkelindan. Kandunganku yang memasuki bulan keenam ikut menjadi pertimbangan. Apakah gaji suami kelak akan mencukupi jika kami masih harus mengeluarkan uang untuk membayar uang kos belum lagi tagihan listrik dan air?

Selama ini kami tinggal di rumah mungil yang dibangun di tanah yang kakak iparku sewa, berhadapan dengan rumahnya dan juga masih satu pagar. Mau tak mau pertemuan akan selalu terjadi, belum lagi anakku yang selalu bermain dengan sepupu-sepupunya begitu pula sebaliknya.

Sebagai saudara tentunya berkomunikasi menjadi suatu kewajaran, walaupun selama ini aku lebih banyak mendengarkan alih-alih menceritakan satu dua hal karena dominasi percakapan dipegang oleh kakak Perempuan suamiku.

Seharusnya aku memang lebih bisa mengontrol lisan ini, bicara seperlunya tanpa menceritakan semua yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga kami. Aku harus ingat posisiku yang ‘hanya’ sebagai ipar. Ini Adalah pembelajaran berharga untukku.

Saat ini memang aku lebih memilih untuk memaafkan walaupun tidak untuk melupakan. Memaafkan saja membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk bermuara pada keikhlasan, apalagi untuk melupakan. Aku kir aitu membutuhkan waktu selamanya atau saat amnesia bermukim di kepalaku.

Aku memilih tetap tinggal di rumah ini, namun sangat membatasi interaksi ataupun komunikasi dengan kakak iparku. Aku memang tidak melarang anakku pergi ke rumahnya, bermain dengan sepupu-sepupunya atau dengannya. Tapi, masih sulit denganku untuk bertegur sapa dengannya. Bahkan mendengar suaranya saja hatiku sakit dan dadaku berdebar. Apakah ini sebuah trauma?

Sebisa mungkin aku mengalihkan perhatian, entah memilih tidru atau menyibukkan diri dengan menulis. Ya, writing is healing! Dan khusnudzan menjadi senjata pamungkas. Percaya ini adalh ujian untuk menguatkan Iman dan Takwa. Kita harus percaya kepada rencanaNya. Karena setiap kehendakNya tidakakan membuat hambaNya rugi. Iya, kan!?


No comments: