Ada kalanya kita begitu sibuk memahami orang lain sehingga lupa mendengar diri sendiri. Padahal, hati yang selama ini menemani setiap langkah juga membutuhkan ruang untuk didengar dan dipahami.
Surat untuk diriku adalah salah satu buku antologi yang memiliki kesan tersendiri dalam perjalanan menulis. Buku ini merupakan antologi ke-11 yang berhasil saya terbitkan, sekaligus menjadi bagian dari Event Nulis Bareng ke-8 bersama Yuliant Sanjaya.
Sesuai judulnya, buku ini terasa seperti kumpulan surat yang ditulis dengan penuh ketulusan untuk diri sendiri. Setiap penulis mengajak pembaca berbincang, berbagi pengalaman dan merenungkan berbagai hal yang sering kali luput kita perhatikan. Tentang bagaimana menerima diri, menghargai proses kehidupan, serta belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
Membaca buku ini seperti duduk bersama seorang sahabat yang tidak menghakimi. Tidak ada petuah yang menggurui, melainkan rangkaian cerita dan pengalaman yang mengingatkan bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing. Bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah terluka, melainkan mampu bertahan dan terus melangkah meski pernah jatuh.
Diantara berbagai tulisan yang menghiasi halaman-halamannya, saya turut menyumbangkan sebuah kisah berjudul Refleksi Batin. Tulisan ini lahir dari perjalanan pribadi saat berhadapan dengan rasa sakit yang tidak mudah dilalui. Ada masa ketika semuanya terasa berat, tetapi dari proses itulah saya belajar tentang ketabahan, penerimaan dan keberanian untuk bangkit kembali. Sebuah refleksi sederhana bahwa luka tidak selalu menjadi akhir cerita. Terkadang, justru dari luka itulah kita menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi dalam diri.
Buku ini cocok dibaca saat ingin mengambil jeda dari kesibukan sehari-hari. Halaman demi halaman mengajak kita menengok ke dalam diri, mengenali apa yang sedang dirasakan dan memperlakukan diri sendiri dengan lebih bijaksana.
Bagi saya, Surat untuk Diriku bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah pengingat bahwa di tengah berbagai peran yang kita jalani, ada satu orang yang tidak boleh kita abaikan: diri kita sendiri. Karena sebelum mampu mengutakan orang lain, kita perlu belajar memeluk diri sendiri terlebih dahulu.
Surat untuk Diriku
Penulis: Yulian Sanjaya, dkk.
Editor: Nasrul Yung
Tata letak: Mahirnulis Studio
Desain sampul: Mahirnulis Studio
ISBN: 978-602-6498-34-2
Cetakan pertama, April 2022
Diterbitkan oleh: Nahima Press
Didistribusikan oleh: Mahirnulis Media
.png)
No comments:
Post a Comment