Tuesday, 16 June 2026

Menghitung Hari

 

"Buk, sekrang tanggal berapa?"

Si Sulung berdiri di depan kalender yang menempel di ruang depan.

"Tujuh belas, Nak."

"Juni, ya?" tanyanya lagi.

"Iya."

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya beberapa hari terakhir. Sejak lancar membaca dan mulai memahami kalender, ia begitu rajin menghitung hari.

Hari yang spesial baginya. Dan tentu bagiku. Bagi kami sekeluarga.

"Kakak enggak sabar, ya?" selidikku.

"Iya. Aku mau main sama Mbah." Jawabnya begitu polos hingga membuatku tersenyum.

Ternyata bukan hanya orang dewasa yang merindukan kampung halaman. Anak-anak pun punya rindu yang sama.

Meski hanya dipisahkan selat Bali, kami hanya bisa pulang sekitar sepuluh hari dalam setahun. Selain alasana akomodasi menyesuaikan libur sekolah dan cuti kantor bukan hal yang mudah.

"Buk, baju ini dibawa ya!" Si Bungsu mulai sibuk memilih pakaian yang ingin dimasukkan kedalam koper. Kini ia pun mulai memahami arti mudik, lengkap dengan semangat membawa hampir semua baju favoritnya.

"Kurang berapa hari lagi, Buk?" tanyanya.

"Ih, Adik. Kan Ibuk sudah bilang dua minggu lagi. Sekarang hari Rabu, berarti tinggal seminggu lagi" sahut si sulung dengan percaya diri.

Aku hanya tertawa. Ia memang sudah pandai membaca kalender, tetapi masih sering tertukar anatar satu minggu dan dua minggu.

"Sabar!" kata suami ikut menimpali.

Begitulah suasana di rumah kecil kami menjelang mudik. Belum ada tiket yang dicetak. Nelum ada perjalanan yang dimulai. Namun hati kami sudah lebih dulu berangkat. menghitung hari demi hari untuk melepas rindu dengan orang yang tersayang di kampung halaman.

Dan di ujung sana, aku yakin ada seorang nenek yang juga sedang melakukan hal yang sama. Menghapus satu tanggal di kalender sambil menunggu pintu rumahnya kembali diketuk oleh cucu-cucu yang paling dirindukannya. Karena ternyata, mudik bukan hanya soal perjalanan menuju kampung halaman.Melainkan tentang orang-orang yang sama-sama menghitung hari untuk saling melepas rindu.

Saat Marah


Aku melihat pantulan diriku pada si bungsu yang baru berusia empat tahun. Bukan pada cerewetnya, bukan pula pada celotehnya yang tiada henti, melainkan saat ia marah. Apakah semua perempuan ketika marah memang seperti itu? Ataukah si kecil yang belum mampu meregulasi emosinya hanya meniru apa yang selama ini ia lihat?

Aku memang bukan seorang ibu yang sempurna. Masih banyak cela dan khilaf, terutama saat emosi datang atau ketika gelombang hormon mulai tidak bersahabat pada tanggal-tanggal tertentu setiap bulannya. Namun setiap kali semuanya mereda, penyesalan selalu datang lebih dulu. "Kok bisa hanya karena kesalahan kecil emosiku memuncak seperti itu?" Aku terus mencari jawaban yang tak kunjung mampu menenangkan hati.

Terlebih ketika melihat si kecil melakukan hal yang sama persis seperti yang pernah kulakukan. Tangan mungilnya mengepal lalu memukul udara. Sesekali ia berusaha memukul kepalanya sendiri saat keinginannya tidak dipenuhi. Untungnya tanganku selalu lebih cepat menahan gerakannya agar ia tidak melukai dirinya.

Saat itu aku sadar. Anak-anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka juga menyimpan apa yang kita lakukan. Dan mungkin, tanpa sengaja, aku pernah memberikan contoh yang tidak baik. Kini aku hanya bisa berusaha memperbaikinya.

Suatu pagi, si bungsu mulai tantrum karena aku tidak mengizinkannya makan lolipop.

"Dek, kalau marah bilang apa?" tanyaku sambil mencoba menenangkannya.

"Enggak tahu!" jawabnya dengan dada yang naik turun menahan emosi.

"Dek, Ibuk hitung mulai satu ya. Ucapkan apa?"

"Enggak tahu!" Ia masih melipat kedua tangannya di dada.

"Satu... dua..." Jemariku mulai terbuka satu per satu. Belum juga terdengar kalimat yang selama ini kami latih bersama.

"Dek..." Dengan wajah yang masih cemberut, akhirnya ia berkata,

"Astaghfirullahalazim..." Masih dengan nada marah.

"Lagi. Ulang sepuluh kali." Ia mengulanginya, kali ini dengan suara yang perlahan menurun.

"Kalau masih marah saat mengucapkannya, tambah dua puluh kali ya." Pelan-pelan oktaf suaranya melemah. Tangisnya mereda. Tubuh kecil itu akhirnya bersandar di pelukanku. Aku mengusap punggungnya perlahan.

"Dek, ingat ya. Kalau marah, ucapkan Astaghfirullah, letakkan tangan di dada, lalu pejamkan mata." Ia hanya mengangguk pelan. Dan tanpa kusadari, lolipop yang sejak tadi diperjuangkannya sudah terlupakan begitu saja.

Semoga langkah kecil ini bisa menjadi cara baginya untuk mengenali dan meregulasi emosinya. Dan semoga, menjadi pengingat untukku juga. Bahwa anak-anak bukan hanya belajar dari nasihat yang kita ucapkan, tetapi dari setiap emosi yang kita tunjukkan. Maka sebelum mengajari mereka cara menenangkan diri, mungkin akulah yang lebih dulu harus belajar melakukannya.

Monday, 15 June 2026

Shareloc

“Aku berangkat dulu ya, Yang!”

Suamiku berjalan menuju depan rumah, sementara si sulung mengekor di belakangnya.

“Dah, Ibuk! Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumsalam.” 

Aku menjawab singkat sambil memandangi punggung mereka yang semakin menjauh. Sepi langsung memelukku erat.Si bungsu masih terlelap, dan rumah mungil kami mendadak terasa begitu sunyi.

Seperti biasa, aku memulai hari dengan menyeruput kopi hangat buatan suami. Netraku menyapu setiap sudut ruangan dan mendapati beberapa mainan masih berserakan di atas playmat. Keyboard dan mouse masih berada di tempat semula, sama seperti saat subuh tadi ketika suami membuka akun Ragnarok sambil menunggu air untuk mandi mendidih.

Namun pagi itu aku masih enggan memulai pekerjaan rumah. Ada sesuatu yang membuat hatiku belum benar-benar lapang. Sesekali aku melirik gawai yang masih memperdengarkan dzikir pagi. Belum ada pesan yang selalu kutunggu untuk memulai hari dengan tenang.

Sepuluh menit kemudian, layar itu menyala.

“Alhamdulillah, sampai. Maaf baru kabari, habis briefing.”

Seketika rasa gundah itu menguap, berganti syukur yang membuatku kembali bersemangat menyelesaikan 'wife jobdesk' hari ini. Itulah kebiasaan kecil di rumah mungil kami. Cukup satu pesan sederhana untuk membuat hati tenang sepanjang hari.

Kebiasaan itu juga berulang saat jam pulang sekolah anak, jam pulang kantor, atau ketika salah satu dari kami harus bepergian. Bahkan sering kali, menjelang pulang atau saat hendak menjemput anak, aku hanya mengirim satu kata. Shareloc. Bukan karena kami saling mencurigai. Bukan pula karena harus selalu mengetahui keberadaan satu sama lain. Melainkan karena ada hati yang menunggu di rumah, menghitung jarak dengan doa-doa yang tak pernah putus. Barangkali, beginilah cara kami menjaga. Bukan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi atau panggilan yang tak henti. Hanya sebuah titik kecil di peta, lalu sebuah pesan singkat.

"Alhamdulillah, sampai."

Dan anehnya, dua kalimat sederhana itu selalu mampu membuat rumah kecil ini terasa lebih hangat. Karena aku percaya, salah satu bentuk kasih sayang bukanlah selalu bersama sepanjang waktu, melainkan memberi kabar kepada seseorang yang sedang menunggu dengan cemas. 
Sesederhana sebuah shareloc. 

Sunday, 14 June 2026

Pissokgi

Irama lagu yang khas itu mulai terdengar saat jarum jam baru saja menunjukkan pukul sepuluh malam. Suami sedang asyik bersama istri keduanya, sedangkan anak-anak masih memegang gawai masing-masing.

Alunan pertama terdengar lembut, sama seperti suara penjual es yang selalu dinanti anak-anak kompleks saat cuaca sedang terik.

Tulilut... tulilut...

Namun, alunan nada yang sudah memiliki lirik ciptaanku sendiri justru menjadi hal yang paling ditakuti anak-anak dan suamiku. Karena jika lagu itu mulai dinyanyikan, artinya mereka harus meninggalkan kesenangan masing-masing dan menuruti titah sang baginda ratu. Aku.

Sekali dua kali mereka masih pura-pura tidak mendengar. Hingga akhirnya alunan lagu semakin nyaring dan diiringi suara penebah yang kutabuh seadanya.

"Pissokgi, pissokgi, ayo pipis gosok gigi..." Aku terus mengulangnya sambil sesekali menambahkan lirik baru yang membuat suasana malam semakin dramatis.

"Pissokgi, pissokgi, ayo pipis gosok gigi. Pissokgi, pissokgi, kalau tidak gosok gigi, Ibuk akan datangi..."

Tanganku semakin semangat memperindah lagu dengan irama penebah. Diam-diam suami mulai mematikan komputer. Si sulung melangkah gontai meletakkan gawainya di meja kerja. Sedangkan si bungsu mulai memprotes.

"Yaa... masih mau nonton. Belum ngantuk!"

Aku pun memperkeras suara sambil memasang wajah galak yang entah berhasil atau tidak.

"Ayah besok kerja, Kakak besok sekolah. Sudah waktunya tidur. Cepat ke kamar mandi! Pissokgi!" Oktafku mulai meninggi. Dan ajaibnya, ketiga orang tersayang itu berubah seperti robot yang patuh pada prompt sang baginda ratu.

Meski begitu, pekerjaanku sebagai seorang ibu ternyata belum benar-benar selesai. Entah kenapa aku masih kesulitan membuat anak-anak tidur lebih awal. Pukul sembilan malam, misalnya. Padahal jika mereka sudah terlelap lebih cepat, masih banyak hal yang bisa kuselesaikan. Menulis, membaca, atau sekadar menikmati secangkir teh hangat bersama suami. Lucunya, anak-anak seolah memiliki aturan tak tertulis.

Selama orang tuanya belum tidur, mereka pun merasa belum waktunya memejamkan mata. Jadi, setiap malam aku kembali mengandalkan lagu andalan itu. Pissokgi. Sebuah lagu sederhana yang mungkin tidak pernah masuk tangga lagu mana pun, tetapi selalu berhasil menjadi penanda bahwa hari ini sudah selesai. Saatnya pipis, menggosok gigi, mematikan gawai, lalu pulang ke pelukan selimut dan doa-doa sebelum tidur. Dan kelak. bertahun-tahun lagi ketika mereka sudah tumbuh besar, aku akan merindukan malam-malam yang selalu ditutup dengan suara sumbangku menyanyikan, "Pissokgi, pissokgi..."

Saturday, 13 June 2026

Istri Kedua

 

“Iya, sebentar.”

Jawab suamiku saat aku menyuruhnya datang ke kamar untuk membantuku. Dan benar saja, ia masih asyik di hadapan sang istri kedua.

“Yang...?”

Ia hanya menjawab dengan satu kata.

“Apa?”

Kesabaranku mulai menyublim. Aku pun memanggil nama lengkapnya dengan nada berat yang mengandung bibit amarah.

“Iya, iya. Apa yang bisa dibantu, Sayang?” tanyanya polos.

Aku sedikit melunak begitu mendengar kata sayang dalam tuturannya.

“Geserin kasur bawah, berat! Sekalian bersihkan pakai penebah, ya!”

Sementara itu, jemariku kembali sibuk menyelesaikan setrikaan yang masih menggunung.

Beberapa kali aku benar-benar marah dengan sikapnya. Namun, entah kenapa aku selalu kembali pada permakluman yang tulus. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna selain Tuhan?

Apalagi, ia selalu mendapat dukungan penuh dari mertuanya, yaitu ibuku.

“Biarkan saja. Hanya itu hiburan suamimu. Dia tidak merokok, tidak nongkrong di luar, dan tetap mau membantu. Meskipun Ibu juga kadang gregetan melihat kesabarannya menghadapi sikap bawelmu,” berondong ibuku setiap kali aku mengeluhkan kebiasaan suami dengan istri keduanya.

Ibuku adalah pendukung nomor satu suamiku. Satu-satunya menantu yang selalu ia banggakan.

Dan harus kuakui, perkataan beliau memang benar.

Suamiku tidak pernah kasar. Ia penyabar, bertanggung jawab, dan selalu membantu pekerjaan rumah. Hanya saja, durasinya tidak pernah sesuai ekspektasiku. Tidak ada istilah mak bedunduk atau bim salabim langsung selesai saat aku meminta bantuan.

Lalu, kenapa aku tidak sedikit mengalah kepada istri keduanya?

Pernah suatu hari aku bersorak gembira.

“RF-nya sudah tutup, Yang!”

Wajahnya langsung memelas.

Layar persegi panjang itu kini dikuasai anak-anak dengan tontonan kartun favorit mereka. Aku diam-diam merasa menang.

Namun kemenangan itu ternyata tidak berlangsung lama.

Suatu hari, hadir pengganti sang istri kedua.

Namanya Ragnarok.

Kini permainan itu kembali menguasai perhatian suami sepulang kerja. Meski begitu, aku tak bisa sepenuhnya marah. Ia masih bisa berlaku adil kepada kami. Sesekali menjawab pertanyaan anak-anak, mendengarkan ceritaku, bahkan tetap membantu pekerjaan rumah sambil sesekali melirik layar gawainya.

Aku kemudian sadar bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk melepas penat.

Jika aku memilih membaca buku atau menulis, maka ia memilih bermain gim.

Dan selama hiburan itu tidak membuatnya lupa menjadi ayah bagi anak-anak, tidak melalaikan tanggung jawabnya sebagai suami, serta tidak membuatnya lebih betah di luar rumah daripada bersama kami, mungkin aku memang harus belajar berdamai.

Lagi pula, aku sudah memenangkan posisi yang paling penting.

Baiklah.

Asalkan aku tetap menjadi istri pertama, biarlah Ragnarok menjadi istri kedua yang hanya hidup di dalam layar.

Friday, 12 June 2026

Satu-satu Kusayang

 

Kedua anakku memiliki minat yang berbeda. Jika dulu di usia empat tahun si sulung lebih senang menonton tayangan tentang kendaraan, si bungsu justru sangat menyukai lagu anak-anak. Ia mudah menghapal lirik dan tidak pernah segan untuk bertanya jika lupa.

"Buk, lagu satu-satu itu bagaimana, ya?" Aku mulai bernyanyi, dan ia mengikuti.

"Satu-satu adik sayang Ibuk. Dua-dua adik sayang Ayah. Tiga-tiga adik sayang kakak. Satu dua tiga, adik sayang semuanya."

Si bungsu menyanyikannya dengan penuh semangat. Namun sore harinya, sepulang dari rumah kakak Iparku, lirik itu berubah.

"Satu-satu adik sayang Mama. Dua-dua adik sayang Papa. Tiga-tiga adik sayang Kakak Fia. Satu dua tiga, adik sayang semuanya."

Aku sampai menyuruhnya mengulang, ternyata telingaku tidak salah menangkap.

"Kok begitu? Siapa yang ngajarin?" selidikku.

"Mama" Alisku langsung bertaut. Ternyata kakak Iparkulah pelakunya.

Dengan wajah memelas aku mulai merajuk.

”Adik enggak sayang ibuk?" Si kecil tertawa, lalu buru-buru memperbaiki liriknya menjadi versi yang biasa kunyanyikan.

"Nah, gitu dong. Jangan diganti lagi ya. Nanti Ibuk sedih." Akupun menghujani pipi chubby-nya dengan ciuman.

Sebenarnya aku tahu, anak keduaku memang sangat dekat dengan kakak iparku yang ia panggil Mama. Ia sering diajak bermain, jalan-jalan di mal bahkan makan di restoran. Aku tidak pernah keberatan. Hanya saja...

Si bungsu masih suka menggoda kami. Saat bernyanyi ia kadang mengganti lirik sesuai dengan yang diajarkan mamanya. dan seringkali mengganti nama kakaknya dengan nama sepupunya. Aku sih tak masalah, asalah baris pertama tetap satu-satu ku sayang ibuk. Karena kalau sampai "Adik sayang Mama" yang dinyanyikan, bisa-bisa ibunya ini menjelma nenek sihir yang siap menculik si bungsu dan mendekapnya dalam ketiak. 😂

Kapsul Kasih Sayang

Tiba-tiba saja rasa sakit yang tak tertahankan menjalar dari tenggorokan hingga dada kananku. Aktivitas menjemur pun terhenti.


Anak-anak yang sedang bermain di dekatku langsung menyadari gerakku yang tidak biasa.


"Ibuk kenapa?" tanya si Sulung.


Rasa sakit dan keringat dingin yang membanjiri diri tubuh seolah menahan suaraku untuk menjawab. Dengan langkah sempoyongan aku masuk ke dalam rumah.


"Cepat sembuh ya, Buk" ucap si bungsu. Tanpa penjelasan, ia sudah paham dari raut wajahku.

Aku hanya mampu membalas dengan senyum yang dipaksakan. Lalu semuanya gelap.Entah berapa lama aku tidak sadar, hingga derap langkah anak-anak yang mendekat membawaku perlahan ke alam sadar.

"Ibu sudah baikan?" tanya si sulung sambil menyodorkan segelas air putih.

"Masih, Nak. Tapi sudah lebih baik." jawabku seadanya agar anak-anak tidak terlalu khawatir. "Kita tidur siang, ya. Ibu masih harus istirahat." bujukku.

Ajaib. Siang ini tidak ada drama yang terjadi. Padahal jam menunjukkan pukul dua belas dan salat Zuhur pun belum kami kerjakan. Keduanya menurut tanpa protes dan akhirnya kami tertidur bersama. Menjelang sore aku terbangun lebih dulu. Rasa sakit mulai mereda, meski masih tersisa. Tiba-tiba aku teringat jemuran yang tadi kutinggalkan begitu saja. Dengan langkah tergesa aku keluar rumah. Namun, ember merah muda itu telah kosong. Semua pakaian telah berjajar rapi di tiang jemuran.

Aku hanya bisa menebak. Apakah ini ulah anak-anak? Pelan-pelan aku membangunkan si sulung untuk mengajaknya salat Zuhur. Setelah Salat, kami memilih tetap duduk di atas sajadah sambil menunggu azan Ashar berkumandang.


"Kak, tadi yang jemur baju di depan itu kakak?"


"Iya, Buk"


"Kok bisa? kan jemurannya tinggi."


"Tadi sambil jinjit." Ternyata benar. Aku mengusap kepalanya lembut dan mendaratkan sebuah ciuman.


“Terima kasih ya, Kak”


“Iya. Ibuk istirahat lagi ya”


“Ibuk masih harus bersih-bersih. Sebentar lagi Ayah pulang, biar rumahnya rapi.”


“Udah, biar aku saja yang nyapu. Ibuk rebahan saja.”


Sore ini aku melihat anak lelakiku ternyata sudah tumbuh besar. Ia makin pandai membantu ibunya. Dan si bungsu, seperti biasa, ia tidak pernah lupa mendoakan kesembuhanku. Airmataku menggenang melihat keduanya bekerja sama membersihkan rumah. 


Tak lama kemudian suara salam terdengar dari depan pintu. Sorak gembira anak-anak langsung menyambut plastic putih berisi roti favorit mereka yang dibawa suami.


“Istriku sakit apa?” tanyanya. Aku pun menceritakan semua yang kurasakan sejak siang.


“Bisa jadi kapsul vitamin yang kamu minum belum tertelan semua dan tersangkut di tenggprokan.” Aku mencoba mengingat Kembali kejadiannya. Sepertinya memang begitu.


“Lain kali minumnya pakai air yang banyak ya. Dan pastikan benar-benar sudah tertelan.” Aku mengangguk.


Hari ini, satu kapsul kecil memang sempat membuatku kesakitan. Namun di saat yang sama kapsul itu membuka mataku bahwa aku sedang dikelilingi anak-anak yang tumbuh penuh empati, suami yang selalu tenang dan rumah mungil yang diam-diam dipenuhi kasih sayang.

Wednesday, 10 June 2026

Seminggu

 

"Dek, ada teman baru tuh" kataku sembari menyambut peri kecil yang baru saja terbangun dari dunia mimpinya.

Dengan langkah lunglai, ia mengucek mata lalu bersandar di badanku yang sedang duduk di ruang TV.

"Siapa, Buk?" tanyanya dengan mata yang masih setengah terpejam.

"Anaknya Om potong rambut"

"Oh, iya?"

"He'em. Mau kenalan?"

"Malu, belum mandi."

Selepas mandi, dengan sedikit dorongan aku mengantarkan si bungsu ke kios pemilik rambut milik kakak iparku yang masih satu lokasi dengan rumah kami.

"Permisi, Om. Adik mau kenalan nih"

Si bungsu masih bersembunyi di belakangku dengan wajah malu-malu. Dan akhirnya, perkenalan itu gagal.

“Kak, ada teman baru lho!”

Belum sempat berganti pakaian sepulang sekolah, si sulung langsung melangkah panjang menuju kios potong rambut. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan wajah berbinar.

"Namanya Dodo, Buk! Baru datang tadi pagi. Habis ini aku mau main sama dia, ya!”

Berbeda dengan adik perempuannya yang masih malu dengan orang baru, anak sulungku adalah pribadi yang sangat mudah akrab. Bukan hanya dengan teman seusia, tetapi juga yang lebih muda maupun yang lebih tua.

Pembawaannya yang ramah bahkan sering menjadi bahan cerita para gurunya. Saking asyiknya mengobrol, ia beberapa kali ketahuan berbincang saat pelajaran berlangsung. Jujur, aku dan suami sering heran. Padahal kami berdua sama-sama tipe introvert. Entah dari mana ia mewarisi keramahan itu.

Selama satu minggu penuh, mereka bertiga selalu bermain bersama. Bangun tidur, yang pertama di cari adalah Dodo.

"Buk, Adik mau main sama Dodo dulu, ya"

"Eh, mandi dulu!"

Begitu pula Dodo. Sesekali ia melintas di depan rumah sambil celingukan mencari anak-anak.

"Sabar ya, Do. Kakak lagi sekolah dan Adik masih tidur." Lalu ia akan mengangguk dan kembali ke tempat ayahnya bekerja.

Anak-anakku memang selalu antusias jika ada anak seusia yang datang ke lingkungan rumah. Mereka jarang bermain di luar pagar karena kami membatasi mereka. Selain banyak anjing yang berkeliaran, rumah kami juga berada di depan jalan yang cukup ramai dilalui kendaraan.

Hingga akhirnya, waktu perpisahan tiba.

“Buk, Dodonya mau pulang…” Kakak dan Adik mengucapkannya hamper bersamaan. Raut mendung langsung memenuhi wajah meeka. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepala keduanya.

“Sabar ya. Nnati kalua libur sekolah, Dodo main lagi ke sini.”

Malam terakhir sebelum travel menjemput Dodo dan Ibunya, aku yang biasanya cerewet menyuruh anak-anak tidur pukul sepuluh memilih mengalah. Aku membiarkan mereka tertawa, berlari dan menghabiskan waktu sedikit lebih lama.

Karena aku tahu, beberapa pertemanan tidak diukur dari lamanya waktu. Ia hanya hadir seminggu, namun berhasil meninggalkan rindu yang tinggal jauh kebih lama di hati anak-anak. Dan dari mereka aku belajar bahwa berteman tidak membutuhkan syarat yang rumit. Cukup satu sapaan, satu permainan lalu hati mereka saling menerima begitu saja.

Tuesday, 9 June 2026

Maaf ya, Kak!


 "Nanggung, Kak! Kan cuma sebentar."

Aku masih berusaha membujuk si sulung agar besok mau absen sekolah. Ternyata ada juga ya, seorang ibu yang menyuruh anaknya bolos. Dan ibu itu adalah aku. Dilema, sebenarnya. Kalau di sekolah ada pelajaran seperti biasa, jangan harap ada kata bolos dari mulutku. Bahkan, si sulunglah yang sering mengingatkanku.

"Kan kalau bolos enggak dapat ilmu, Buk."

Sesekali, aku memang tertampar oleh ceplas-ceplosnya anak-anak.

"Besok cuma di lapangan, Kak. Sampai jam sebelas aja," bujukku lagi.

"Tapi aku ingin main sepak bola"

Aku mencoba menjelaskan pelan-pelan.

"Kak, ojol biasanya suka nolak kalau jemput disana. Lapangan Renon luas, kan? Kemarin saja sempat di-cancel karena enggak ketemu kakak."

Beginilah jika dalam satu rumah hanya ada satu motor yang menjadi andalan transportasi.

Biasanya, si sulung dijemput Ayah di sela jam istirahat kerjanya yang disesuaikan dengan jam pulang sekolah. Alhamdulillah, kantornya cukup dekat sehingga semuanya masih bisa diatur. Namun, tidak semua keadaan bisa berjalan sesuai rencana.

Sebagai seorang perempuan, aku merasa minder melihat ibu-ibu hebat yang mampu mengendarai motor atau mobil sendiri. Mereka bisa menjemput anak, menyambut kepulangannya di depan gerbang lalu berbincang sepanjang perjalanan pulang.

Sementara aku...

Selain hanya memiliki satu motor yang dipakai, keterbatasan penglihatanku membuatku takut berkendara sendiri. Ada banyak momen yang ingin aku lakukan, tetapi belum bisa. Dan hari ini, aku memilih yang paling mungkin.

Maaf ya, Kak!

Maaf jika ibu belum bisa seperti ibu-ibu lain yang bisa menjemputmu kapan saja. Maaf jika hari ini kamu harus melewatkan hari terakhir bertemu teman-temanmu sebelum liburan panjang kenaikan kelas.

Semoga suatu hari nanti, saat kamu tumbuh dewasa kamu mengerti bahwa setiap keputusan yang ibu ambil bukan karena tidak ingin mengusahakan yang terbaik. Melainkan karena ibu sedang menjaga kita dengan cara yang paling mampu ibu lakukan.



Sunday, 7 June 2026

Masih Bisa

 

Pagi ini saat aku sedang membaca Mushaf selepas salat subuh, suamiku terlihat menurunkan beberapa barang yang tersusun rapi di samping meja kerjaku.

Bacaanku terhenti. "Cari apa?" tanyaku.

"Penanak nasi" jawabnya singkat.

Ada sorak kecil tertahan di hatiku. Apakah ini saatnya?

"Kenapa? Penanak nasi yang di depan rusak?" tanyaku penuh semangat.

"Iya"

Jawabannya yang singkat berhasil membuatku tersenyum lebar. Akhirnya, tiba saatnya penanak nasi —yang usianya sama dengan pernikahan kami yang menjejak di tahun kesepuluh ini — untuk pensiun.

Sudah cukup lama aku merengek ingin menggantinya. Tutupnya sudah retak dengan beberapa bagiannya yang bahkan telah hilang. Pemandangan itu sukup mengganggu mataku yang diam-diam ingin setiap sudut rumah terlihat estetik.

Dan kini, waktu yang kutunggu itu tiba.

Suamiku bukan pribadi yang pelit ataupun perhitungan. Namun, dunia perbankan yang telah lama digelutinya mungkin sedikit banyak memengaruhi cara berpikirnya. Atau mungkin memang sifat itu sudah ada jauh sebelum aku mengenalnya.

"Masih bisa dipakai, kok!" Begitu kalimat andalannya.

Bukan hanya untuk penanak nasi, tetapi juga untuk barang lainnya. Termasuk helm hitam kesayangannya yang bahkan lebih tua daripada usia pernikahan kami.

Dan kali ini, ia tidak bisa menolak saat aku menghadiahkan helm baru di hari ulang tahunnya.

Lucunya, bukan hanya aku yang memberinya helm. Teman-teman kantornya ternyata memiliki ide yang sama.

Pecahlah tawa kami malam itu.

Alhamdulillah, ada beberapa barang kebutuhan lain yang sudah tersedia saat kami membutuhkannya. Seperti pagi ini. Ketika penanak nasi tiba-tiba rusak, kami tidak perlu terburu-buru membeli yang baru karena masih ada cadangan hasil doorprize dari beberapa kegiatan. Ada pula setrika, hair dryer hingga dispenser yang masih tersimpan rapi menunggu giliran digunakan.

MasyaAllah. Mungkin itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah. Rezeki tidak selalu datang saat kita meminta, tetapi sering kali sudah dipersiapkan jauh sebelum kita menyadari akan membutuhkannya.

Aku tidak pernah benar-benar keberatan dengan kalimat andalan suamiku, “masih bisa dipakai, kok.” Karena tanpa sadar, aku mulai mengikuti jejaknya. Belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Belajar mensyukuri apa yang masih berfungsi.

Meski sesekali aku tetap membujukknya membeli barang baru untuk rumah kami. Untungnya ia jarang menolak. Asalkan senyum tidak hilang dari wajah bulat istrinya ini.

Bahasa Cinta

 

Sesaat setelah kajian ditutup dan langkah pengajar mulai menjauh, beberapa dari kami terlibat dalam obrolan ringan sembari menunggu jam pulang sekolah anak-anak. Ada yang sibuk menggulir layar gawai, ada yang berbincang dan aku memilih menikmati peran sebagai pengamat.

"Eh, sudah lihat postingan ini belum?" Seorang teman menunjukkan unggahan salah satu teman kami.

"Ih, romantis sekali suaminya. Berani posting bahasa cinta di media sosial. Jadi bikin insecure nih."

Tanpa sadar kami mulai berkomentar dan membandingkan.

"Ih, suamiku mana pernah upload hal romantis begitu. Padahal ingin juga, kan ya?"

Aku pun ikut menimpali.

"Iya ya, suamiku saja enggak pernah posting apa-apa di media sosial. Jangankan tentang aku, tentang pekerjaannya saja hampir enggak pernah."

Namun, setibanya di rumah aku menyesali perkataanku.

Di hadapanku, suami sedang menyuapi anak-anak dengan wajah lembut. Sepulang bekerja, ia masih menyapa kami dengan hangat. Tidak pernah mengeluh rumah yang belum rapi atau lantai yang belum tersapu. Ia membawakan lauk untuk makan malam dan masih bersedia memandikan anak-anak di sisa lelahnya.

"Ibu mau makan di piring sendiri atau sekalian?" tanyanya.

"Mau disuapin juga ya, biar rezekinya Ayang makin lancar tanpa pernah terputus." candaku sambil memasang wajah paling imut yang aku miliki.

"Bilang aja malas makan." balasnya sambil tertawa.

"Entah kenapa ya, Yang. Kalau makan disuapin sama yang tersayang itu rasanya sejuta miliar kali lebih nikmat." Hiperbolisku kambuh.

Akhirnya, kami berempat makan di satu piring yang sama, menikmati suapan demi suapan dari imam di rumah mungil kami.

Saat itulah aku tersadar.

Seringkali kita menganggap pembuktian cinta harus berupa kalimat "Aku cinta kamu,” unggahan romantis atau kata-kata manis yang bisa dilihat orang. Padahal bahasa cinta tidak selalu berupa kata.

Ia bisa hadir dalam sepiring makan malam yang dibawa pulang, tangan yang ikut memandikan anak-anak, pundak yang tetap kuat mencari nafkah dan dalam kesabaran yang jarang berubah menjadi amarah. Serta lelaki yang tidak pandai mengucapkan "aku saying," tetapi setiap hari menunjukkan cintanya lewat tindakan.

Mungkin, beginilah cara Allah mengajarkanku bahwa cinta yang paling tulus seringkali tidak banyak berbicara, tetapi selalu ada dan bekerja dalam diam.

Fokus

 

Seminggu sebelum ujian sumatif akhir semester, aku sudah disibukkan dengan merangkum semua materi Kakak selama di kelas satu.

Ternyata kebiasaan sistem kebut semalam masih sulit untuk disingkirkan. Padahal aku bisa saja mencicilnya sedikit demi sedikit. Entah karena jemari ini enggan menari lebih awal, atau karena begitu terlena dengan segala tetek bengek urusan rumah tangga.

Ada banyak rangkuman materi dengan tampilan menarik khas AI yang berseliweran di media sosial. Namun bagiku, rasanya kurang afdol jika tidak membaca dan menulisnya sendiri.

Lembar demi lembar kubuka dengan kecepatan yang harus selalu dipacu. Berbekal hasil curian waktu di sela-sela aktivitas, aku memusatkan perhatian di meja kerja.

Camilan dan tontonan sudah kusiapkan di ruang depan. Aku berharap itu cukup ampuh menemani si bungsu selama aku berkutat dengan rangkuman.

Namun kenyataannya berbeda. Bayangan kecil itu selalu mengekor di belakangku.

Baiklah.

Di sela celotehan bersama mainan-mainannya, si bungsu sesekali mengajakku berbicara.

"Sebentar ya, Dek. Ibu harus fokus dulu nih." Aku mengucapkannya tanpa menoleh.

Alhamdulillah, ia mau mengerti dan kembali melanjutkan obrolannya dengan teman-teman imajinernya.

Beberapa waktu kemudian, punggungku sudah merasa pegal.

"Dek, Ibu rebahan dulu ya. Punggung Ibu capek. Adik main dulu ya."

"Enggak, ah. Aku mau menggambar aja."

Sedetik kemudian ia berhasil menguasai meja kerjaku.

Sembari beristirahat, aku sesekali mencuri pandang pada tubuh mungil yang sedang asyik mencoret-coret bukunya.

"Adek lagi gambar apa?" tanyaku.

Tidak ada jawaban. Padahal tangan mungilnya sedang sibuk menari di atas kertas.

"Dek...?"

"Sebentar, Buk. Adek harus fokus nih!" Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun.

Plak!

Aku ditampar oleh tingkah mungilnya. Kalimat yang tadi berkali-kali keluar dari mulutku, kini kembali kepadaku melalui suara kecilnya.

Ternyata fokus tidak mengenal usia. Dan rupanya, anak-anak bukan hanya pandai mendengarkan apa yang kita katakan. Mereka juga sangat pandai menirukannya.

Ibu juga Manusia

 Nak, maafkan Ibu, ya. Maaf untuk segala sikap yang mungkin menimbulkan luka di hatimu yang masih putih. Maaf atas segala khilaf dan ketidaksempurnaan yang Ibu miliki.

“Buk, berapa minimal nilai ujian Kakak agar Ibu tidak ngambek sama aku?”

Pertanyaan itu kamu lontarkan sepulang sekolah beberapa waktu lalu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, kamu menunjukkan beberapa lembar hasil ujian yang sudah diberi nilai.

“Maaf ya, Buk. Yang penting kan Kakak sudah berusaha,” katamu lirih, dengan mendung yang siap meluruhkan air mata ke pipimu.

Seketika ingatanku berjalan mundur.

Aku teringat saat memarahimu beberapa bulan lalu ketika menemanimu belajar untuk ujian tengah semester. Dadaku sesak. Bagaimana mungkin seorang ibu yang selalu ingin menjadi tempat ternyaman untuk anaknya justru membuatmu takut pada hasil yang kamu bawa pulang?

Ibu malu, Nak. Kadang Ibu merasa tidak pantas menjadi ibu untukmu. Namun kali ini, Ibu tidak ingin mengulanginya. Ibu berusaha mempersiapkan diri. Membaca materi pelajaranmu, membuat rangkuman, dan menyusun beberapa latihan soal agar Ibu bisa lebih memahami apa yang sedang kamu pelajari. Agar Ibu juga bisa menempatkan diri di posisimu.

Dan Ibu sempat tertegun. Penat hinggap di kepala saat membuka lembar demi lembar buku paket dan LKS milikmu.

Benar, Nak. Kamu memang baru kelas satu sekolah dasar. Namun, beberapa materi yang ada di bukumu terasa seperti pelajaran yang dulu Ibu pelajari saat duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Maaf jika Ibu pernah kecewa saat kamu tidak mendapat peringkat pertama seperti yang dulu sering Ibu raih hingga jenjang SMP. Padahal, Ibu lupa bahwa kamu bukanlah Ibu. Kamu adalah dirimu sendiri. Dan Ibu seharusnya tidak mengukur langkahmu dengan jejak yang pernah Ibu tempuh.

Ibu bangga padamu, Nak.

Kamu sudah berusaha dengan baik. Kamu sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Kamu sudah hebat bisa masuk sepuluh besar di kelasmu. Maafkan sikap Ibu yang mungkin pernah terlalu menekanmu.

Maafkan harapan-harapan yang tanpa sadar berubah menjadi beban di pundak kecilmu. Sekali lagi, maaf ya, Nak. Karena Ibu juga manusia.

Manusia yang tak luput dari salah dan khilaf, tetapi akan terus belajar menjadi ibu yang lebih baik untukmu, setiap harinya.

Pengamat Cilik

"Apa itu Gerimis 30 Hari, Buk?" tanya si sulung sambil mengamati tulisan pada whiteboard sticker yang kutempel di dekat meja kerja.

"Hemm... apa ya?" Aku sendiri sedang merangkai kalimat sederhana agar ia mengerti.

Semakin bertambah usia, kedua anakku semakin sering melontarkan pertanyaan yang mengharuskanku menjadi lebih kreatif dan bijak agar rasa ingin tahu mereka bisa terjawab. Terutama si sulung yang kini duduk di kelas satu sekolah dasar.

Kemampuan membacanya yang semakin lancar membuat pertanyaan dan komentar ceplas-ceplosnya makin beragam. Bahkan sering kali terasa sangat out of the box untuk generasi milenial sepertiku.

Selain pertanyaan-pertanyaan kritis yang mengalir dari danau rasa ingin tahunya, si sulung juga gemar mencuri pandang pada apa pun yang kutulis. Baik saat aku membalas pesan di gawai maupun ketika layar komputer masih menampilkan dokumen Word yang dipenuhi deretan kata.

"Kak, nggak sopan ya membaca pesan di HP orang," pesanku padanya.

Namun, aku tak bisa melarangnya membaca tulisan-tulisan yang terpampang di papan putih, tempat aku sering menuliskan ide yang tiba-tiba muncul di sela aktivitas.

Seperti pagi ini.

Suamiku sudah siap berangkat kerja, sementara si sulung masih asyik menatap layar komputer.

"Kak, ayo berangkat! Ih, belum pakai kaus kaki lagi. Cepat, Ayah sudah di depan!" seruku sambil mengemas bekal mereka dengan gerakan tergesa.

"Pamit ya, Buk. Assalamu'alaikum."

Baru beberapa langkah berjalan, ia berbalik.

"Buk, tulisan Ibu banyak salahnya lho. Diperbaiki ya!"

 

Aku masih berusaha mencerna perkataannya ketika ia sudah berlari menuju motor yang mesinnya mulai menderu.

MasyaAllah. Ternyata si sulung sudah menjadi pengamat sekaligus editor kecil bagiku. Ia sering menemukan kesalahan pada rangkuman materi dan latihan soal yang kubuat. Huruf M yang seharusnya N, soal yang terulang tanpa kusadari, atau kesalahan-kesalahan kecil lainnya yang lolos dari perhatianku. Kadang pengamatannya bahkan terlalu kreatif.

Seperti saat ia menambahkan kata militer di belakang kata barak yang berarti merah dalam bahasa Bali. Atau menambahkan gelar Ustadzah di depan sebuah nama dalam buku karena nama itu sama dengan gurunya di sekolah.

Yang paling membuatku menahan tawa adalah saat membaca buku Bahasa Inggris miliknya. Ia menambahkan dua suku kata di belakang kata hen (ayam betina) hingga berubah menjadi nama seorang guru yang menurutnya paling galak.

MasyaAllah.

Di balik rasa gemas itu, aku sadar bahwa anak-anak memang selalu memperhatikan lebih banyak daripada yang kita kira. Mereka membaca, mengamati, dan menyimpan banyak hal dalam ingatan mereka. Dan rupanya, tanpa kusadari, aku telah memiliki seorang pengamat sekaligus editor cilik di rumah.

RSM

 Sama sekali tidak pernah terbesit dalam benakku bahwa suatu hari aku akan hidup di perantauan. Gadis introvert yang nyaman berada di kamar kecilnya ini akhirnya melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman melalui pernikahan. Kini, aku mendiami rumah super mungil yang penuh dengan nyala kehidupan.

RSM.

Rumah super mungil di pusat kota Denpasar menjadi saksi betapa baiknya Allah mengirimkan penolong-Nya. Berkat kebaikan mereka, kami bisa memiliki hunian yang menjadi tempat pulang dalam dekapan hangat keluarga kecil ini,

Aku bersyukur, suami yang baru kukenal kembali beberapa bulan sebelum akad ternyata dikelilingi orang-orang baik yang peduli. Di atas tanah yang mereka sewa untuk tempat usaha, kami dipersilahkan membangun rumah mungil impian kami. Satu kamar tidur, ruang tamu multifungsi, dapur sederhana dan kamar mandi mini.

Berbekal tabungan seadanya, beberapa bulan setelah menikah akhirnya kami bisa menempati RSM.

Tidak ada rasa kecewa jika semuanya dijalani dengan ikhlas. Begitulah cara kami memintal syukur dari hari ke hari. Ditengah harga kos dan kontrakan yang terus melambung, keberadaan RSM membuat kami masih bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung.

Jika suatu hari masa sewa tanah ini berakhir dan toidak bisa diperpanjang, kami memilih untuk yidak terlalu risau. InsyaAllah, selalu ada jalan bagi mereka yang meminta dan bersandar kepada-Nya.

Kediaman kami memangb tidak besar. Namun, kami berusaha membuatnya nyaman dengan cinta, canda tawa dan kasih sayang. Tak perlu luas, yang penting mampu menampung segala lelah dan menjadi tempat lahirnya cerita-cerita yang kelak akan dikenang.

Meskipun begitu, kadang si bungsu yang berusia empat tahun berceloteh ingin rumah yang lebih besar.

"Sabar ya, Nak. Kita berdoa saja, semoga Allah memberi kita rumah yang lebih besar, ya?"

"Aamiin!" seru si sulung dan si bungsu bersamaan.

aku ikut mengaminkan.

Sebab pada akhirnya, rumah bukan hanya tentang seberapa luas bangunannya. Rumah adalah tempat hati merasa pulang. Begitu pula RSM ini, rumah terbaik tempat kami merajut kisah dan menyulam kasih.